Jombang, jurnal9.tv – Inisiator, Pendiri dan Penggerak Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, KH. Abdul Wahab Chasbullah, Kamis (20/8) malam dianugerahi gelar sebagai Bapak ISHARI Nahdlatul Ulama atas perhatian dan perjuangannya membina dan memasukkan jam’iyah hadrah ini ke dalam Organisasi Nahdlatul Ulama. Penganugerahan dilaksanakan dalam kesempatan kegiatan Istighotsah dan sukes Muktamar 35 NU di Gedung Serbaguna KH Hasbullah Said, PP Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.
Sekretaris PW ISHARI NU Jawa Timur, Gus Nu’am Abud, S.Sos mengatakan
Sebagai Rois Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama kala itu, Mbah Wahab cermat mengamati tradisi mengakar dan perkembangan Jam’iyyah hadrah yang dikenal sebagai didirikan oleh Kiai Abdurrohim bin Abdul Hadi, Pasuruan ini sebagai potensi dakwah yang bagus dan masif di berbagai daerah ini. Pada 23 Januari 1959 bertepatan dengan 15 Rajab 1378, Mbah Wahab membawa masuk Jam’iyah Hadrah yang akrab disebut Terbang Abdurrahiman ke dalam organisasi NU dengan diberi nama Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia disingkat ISHARI. “Saat itu, Mbah Wahab melibatkan sejumlah nama tokoh NU ikut membidani lahirnya ISHARI seperti Kiai Bisri Syansuri, Kiai Syaifuddin Zuhri, Kiai Ahmad Syaiku, dan Kiai Muhammad Bin Abdurrokhim, putra muassis ISHARI,” tambah Gus Nuaim.
Dua tahun kemudian, tepatnya 6 Agustus 1961 M, Mbah Wahab Hasbulloh berkirim Surat dengan tulisan tangan kepada KH. Muhammad Bin Abdurrokhim, agar KH Abdurrokhim segera membentuk Pengurus Pusat ISHARI dan mencari kantor sekretariat yang berpusat di Surabaya. Pada 9 September 1961 M, melalui rapat yang dihadiri oleh tokoh tokoh ulama PBNU dan Tokoh Hadroh se Jawa Timur bertempat di Jalan Ronggolawe no 23 Surabaya, terbentuklah PP ISHARI. “Dalam kepengurusan, KH. Abdul wahab Chasbulloh diangkat sebagai pembina dan pelindung serta KH. Muhammad bin Abdurrokhim sebagai Ketua,” tambah Gus Nu’aim.
Pada 28 Desember 1962, PP ISHARI mengajukan surat permohonan yang ditanda tangani oleh ketua III PP ISHARI M As’ad Musthofa dan disetujui oleh Rois Am PB NU, KH. Abdul wahab Hasbulloh kepada PBNU, agar ISHARI dimasukkan kedalam Badan pembinaan di NU mengingat jumlah Anggota pada saat itu sudah mencapai 40,000 Anggota dan tersebar di 20 Cabang se Jawa Timur. Pada perhelatan muktamar ke 23 di Surakarta, KH. Wahab hasbulloh juga menulis surat yang ditujukan kepada Panitia Muktamar NU, agar memberikan waktu dan tempat untuk menampilkan kegiatan Hadrah ISHARI dalam permusyawaratan itu. “Dan di Muktamar Solo itu pula, ISHARI ditetapkan secara resmi menjadi Organisasi yang berada di bawah pembinaan Pengurus Syuriah NU,” lanjutnya.
Cikal bakal ISHARI berasal dari Jam’iyah Terbang Abdurrohiman yang dididirikan oleh KH. Abdurrohim bin Abdul Hadi, seorang ulama di Pasuruan sebagai kumpulan majelis sholawat dan pembiasaan mencintai Nabi bagi masyarakat. Bukan hanya tentang syair cinta dan lantunan suara indah, Kiai Abdurrohim melengkapi ekspresi mahabbatun-nabi dengan konfigurasi tari dan gerak Yang dikenal dengan rodad, lengkap dengan tepuk rancak tangan-tangan para pecinta dalam paduan gerak yang menakjubkan. Sebuah penanaman perintah bershalawat yang dikemas dalam seni-budaya lokal Yang terasa mendalam nilai spiritualitasnya.
Seiring waktu, dari Pasuruan Majlis Sholawat itu mulai berkembang, hingga Lumajang, Malang, Mojoagung, Jombang, Surabaya, Madura dan daetwh lainnya. Persebaran maaif ini tidak lepas dari kesungguhan putra-putra Kiai Abdurrohim, seperti Kiai Muhammad (Pasuruan) Kiai Abdurohman (malang) Kiai Sami’ (gresik) dan Kiai Abdul Hadi (Jombang) yang nersama para santrinya tak lelah mengembangkan Jam’iyah ini di berbagai daerah. Pada Muktamar ke-34 NU di Lampung tahun 2021, ISHARI ditetapkan sebagai salah satu badan otonom Nahdlatul Ulama. (




