Surabaya, jurnal9.tv – Bank Indonesia mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperkuat kolaborasi bisnis melalui business coaching dan business matching dengan mengedepankan prinsip ta’awun atau saling membantu.
Dorongan tersebut disampaikan dalam Business Coaching & Business Matching Perdagangan yang menjadi bagian dari rangkaian Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Regional Jawa 2026, Sabtu (26/9/2026).
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Banten Sofwan Kurnia mengatakan penguatan UMKM tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Pelaku usaha juga perlu membangun kolaborasi agar dapat menghadapi tantangan ekonomi sekaligus memperluas skala bisnis.
“Indonesia Emas 2045 itu perlu kita hadapi sama-sama, bukan hanya pemerintah saja. Kita semua harus saling bergandengan tangan,” ujar Sofwan.
Menurutnya, business matching dalam perspektif ekonomi syariah tidak semata-mata berorientasi pada keuntungan. Kerja sama antarpelaku usaha juga perlu dibangun dengan semangat ta’awun.
Pelaku usaha yang memiliki kapasitas bisnis lebih besar, kata Sofwan, dapat mengambil peran untuk membantu usaha yang masih berada dalam tahap pengembangan.
“Kalau Bapak berada di posisi yang lebih kuat dari sisi bisnis, saya di sisi yang lemah, Bapak harus nolong saya. Insyaallah akan ada keberkahan dari situ,” katanya.
Sofwan mengatakan pola tersebut bukan berarti menghilangkan kepentingan bisnis. Namun, keuntungan tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran dalam membangun kerja sama.
Menurutnya, ketika pelaku usaha yang lebih kecil ikut berkembang, manfaatnya pada akhirnya dapat dirasakan bersama.
“Bapak bangga karena saya jadi ikut besar. Itu semangat ta’awun yang saya sampaikan. Yang besar ikut menolong karena merasa bahwa ini yang harus saya kerjakan. Niatnya ibadah,” ujarnya.
## Business Matching Harus Berujung Kerja Sama
Sofwan mengingatkan agar business matching tidak berhenti pada pertemuan dan pembicaraan antar-pelaku usaha.
Menurutnya, hasil pertemuan harus ditindaklanjuti dalam bentuk kerja sama konkret yang memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang terlibat.
“Wujud nyatanya adalah kerja sama ditandatangani, lalu dilaksanakan. Sehingga ada kemanfaatannya, sehingga turun berkahnya,” kata Sofwan.
Ia juga mengingatkan pelaku usaha agar tidak membawa sikap egois dalam proses negosiasi.
Menurutnya, negosiasi bisnis tidak semestinya hanya diarahkan untuk memastikan satu pihak mendapatkan keuntungan maksimal. Prinsip kemanfaatan bersama perlu menjadi pertimbangan.
“Kalau bernegosiasi itu jangan mencari posisi kepengin untung terus, pengin yang ngikutin maunya dia atau egois. Tapi harus melihat, pokoknya saya mau mencari keberkahan,” ujarnya.
Sofwan menjelaskan, keberkahan dalam bisnis tidak hanya dilihat dari besarnya keuntungan, tetapi juga dari manfaat yang muncul setelah keuntungan tersebut diperoleh.
Ia mencontohkan manfaat ekonomi yang dapat dirasakan keluarga ketika pendapatan usaha mampu meningkatkan kualitas kehidupan.
“Kalau Bapak mencari keberkahan kan bukan mencari untungnya. Mencari kemanfaatan dari untung itu,” katanya.
## Produk Halal Jadi Peluang UMKM
Selain kolaborasi bisnis, Sofwan melihat pengembangan produk halal sebagai salah satu peluang yang dapat dimanfaatkan UMKM.
Indonesia memiliki basis konsumen Muslim yang besar. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi modal untuk mengembangkan industri makanan halal dan memperluas pasar produk UMKM.
Menurut Sofwan, sertifikasi dan standardisasi halal juga dapat meningkatkan kepercayaan konsumen, termasuk wisatawan mancanegara.
Standardisasi produk halal, kata dia, tidak hanya berkaitan dengan bahan baku. Proses pengolahan, peralatan, aspek higienitas hingga pengemasan juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
“Kalau semua sudah dilabeli, disertifikasi, harusnya orang dari luar berbondong-bondong ingin merasakan makanan di Indonesia karena sudah terstandardisasi,” ujarnya.
Menurut Sofwan, makanan juga menjadi bagian penting dari pengalaman wisata. Karena itu, produk kuliner halal yang memenuhi standar memiliki peluang untuk ikut memperkuat sektor pariwisata sekaligus membuka pasar baru bagi UMKM.
“Kalau jalan-jalan, apakah cuma mau melihat saja? Enggak. Justru yang paling utama makanan sebenarnya,” katanya.
Ia menambahkan, pengembangan produk halal yang memenuhi standar dapat membuka peluang lebih besar bagi UMKM untuk menjangkau pasar yang lebih luas.




