Kebumen, jurnal9.tv – Sejumlah mahasiswa dari 4 perguruan tinggi keagamaan negeri (PTKIN) yang sedang menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif 122 atau KKN Narayasena 122 memprakarsai Festival Budaya di Desa Kedungweru, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen. Even yang diberi tajuk Kedungweru Fest itu digelar pada 24-25 Agustus 2026, dimaksudkan sebagai tanda penutup dari berbagai kegiatan pengabdian mereka di desa tersebut selama 40 hari di desa tersebut.

Menurut Ketua Panitia Kedungweru Fest, Hersi Dita, KKN ini merupakan kolaborasi empat Kampus PTKIN, yakni UIN KH. Syaifuddin Zuhri Purwokerto, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan dan UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta. Kedungweru Fest dibuka Open Gallery, pameran lukisan karya seniman anak lokal hingga seniman profesional internasional. Juga dipamerkan kreativitas warga mengolah barang bekas menjadi karya bernilai estetis. “Karya-karya tersebut merupakan bagian dari lomba Kreasi Eco-Bric yang digagas mahasiswa KKN sebagai tindak lanjut dari program edukasi mengenai pengelolaan Bank Sampah dan pemanfaatan barang bekas,” tambah Hersi.

Puncak festival, digelar pada Selasa (25/8) melalui perhelatan Kedungweru Got Talent yang menampilkan suguhan pertunjukan dari berbagai RT, mulai tarian tradisional, musik daerah, hingga seni bela diri
melibatkan berbagai warga dati berbagai kelompok usia. Bagi warga Kedungweru, panggung tersebut bukan hanya tempat mempertontonkan kemampuan. Ia menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa kebudayaan masih hidup ketika diwariskan, dipelajari, dan dirayakan bersama. “Demi suksesnya acara, kami para mahasiswa juga menggandeng para pemuda desa melalui Karang Taruna juga kepengurusan ranting organisasi Pelajar IPNU dan IPPNU,” tambahnya.

Di sela rangkaian Kedungweru Got Talent, mahasiswa KKN Narayasena juga menggelar Art and Culture Talkfest, sebuah forum yang mengangkat persoalan kebudayaan di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi. Diskusi tersebut menghadirkan Ketua Dewan Kebudayaan Daerah Kebumen, Muhammad Basikun Mualim atau akrab dipanggil Ki Petruk Kabumiyan,
serta seorang seniman yang dikenal melalui teknik melukis menggunakan lumpur sekaligus Direktur Kampung Inggris Kebumen, Darto Lumpur.
Diskusi dipandu oleh Ibrar Rasyid, mahasiswa KKN Kolaboratif dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Diskusi berlangsung menarik, seputar kemampuan masyarakat menjaga nilai, identitas, dan kesenian lokal di tengah cepatnya perubahan zaman. Tema tersebut memang menjadi salah satu perhatian mahasiswa selama 40 hari menjalankan pengabdian di Kedungweru, selain menggarap berbagai program di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, lingkungan, dan sosial-keagamaan.
“Dalam KKN ini, kami berupaya mendorong masyarakat untuk melihat kebudayaan sebagai bagian penting dari kehidupan desa,” tegas Ibrar.

Nuansa kebudayaan dalam festival semakin terasa dengan hadirnya sejumlah tokoh, di antaranya Putut Ahmad Su’adi, Ketua Lesbumi Cabang Kebumen, serta John Silombo, yang dikenal sebagai veteran pesulap budaya. Kehadiran para pegiat dan tokoh kebudayaan tersebut turut memberikan warna tersendiri dalam perhelatan malam itu.

Suasana panggung kemudian berubah menjadi lebih tenang ketika sesi live painting dimulai. Di hadapan masyarakat, Darto Lumpur perlahan menuangkan gagasan dan refleksinya ke atas media lukis.

Salah satu karya yang dihasilkan diberi judul “Asmo Kang Tansah Sinebut”, yang merefleksikan keagungan Allah SWT. Karya lainnya terinspirasi dari hadis riwayat Imam Bukhari tentang keterbatasan umur manusia dan perjalanan hidup yang dipenuhi berbagai kesulitan, hingga pada akhirnya manusia kembali kepada Sang Pencipta.

Ada pula karya yang mengangkat tema “The Journey of Soul”, yang menggambarkan perjalanan ruh manusia, mulai dari alam ruh hingga menuju kehidupan akhirat. Seni dalam kesempatan tersebut tidak berhenti sebagai visual semata. Ia menjadi medium perenungan tentang manusia, kehidupan, keterbatasan waktu, dan tujuan akhir perjalanan seorang hamba.

Momen haru kembali terasa ketika layar besar di tengah arena menampilkan film pendek dokumenter perjalanan KKN Narayasena selama berada di Kedungweru. Berbagai potongan kenangan selama kurang lebih 40 hari kembali hadir di hadapan warga: mulai dari sosialisasi dan pendampingan UMKM, kegiatan edukasi dan pelatihan di sejumlah lembaga pendidikan, program lingkungan, edukasi pencegahan stunting dan gizi buruk, hingga kegiatan sosial dan keagamaan yang dilakukan bersama masyarakat.

Kenangan yang sebelumnya terasa biasa, malam itu berubah menjadi sesuatu yang emosional. Tawa, kebersamaan, kerja keras, dan berbagai peristiwa yang dilewati bersama kembali terpampang di layar. Tak sedikit warga maupun mahasiswa yang terlihat mengusap air mata ketika menyaksikan perjalanan tersebut.

Perasaan haru semakin kuat melalui penampilan musikalisasi puisi yang dibawakan mahasiswa KKN Kolaboratif 122. Puisi yang dibacakan oleh Sekretaris Panitia, Zulfikar Yahya dengan perpaduan musik yang dinyanyikan bersama KKN Narayasena terdengar seperti sebuah surat perpisahan. Di dalamnya tersimpan ucapan terima kasih, permohonan maaf, sekaligus harapan agar pertemuan yang berlangsung dalam waktu singkat itu tetap meninggalkan jejak berarti bagi mahasiswa maupun masyarakat Kedungweru.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Kedungweru menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada mahasiswa atas berbagai kontribusi yang telah diberikan selama menjalankan program pengabdian. Ia juga berharap semangat kolaborasi yang telah tumbuh antara mahasiswa dan masyarakat dapat terus dijaga meskipun masa KKN telah berakhir.

Kedungweru Fest bukan sekadar seremoni penutup. Ia menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak hanya tentang membangun infrastruktur, tetapi juga tentang cara bagaimana mempertahankan dan merayakan identitas serta kearifan lokal bersama, sebuah warisan non fisik yang ditinggalkan oleh Mahasiswa KKN Kolaboratif 122 untuk Desa Kedungweru. (*)