Melalui tulisan ini, perkenankan saya mengenang 10 Tahun wafatnya Almarhum H. Abdul Muid sosok Pejuang NU dengan jabatan sebagai bendahara NU Jawa Timur sejak tahun 1997 hingga 2007. Tugas beliau mengawal keuangan PWNU Jawa Timur, di era Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim dipimpin KH. Hasyim Muzadi, hingga diteruskan KH. Ali Mashan Moesa, mulai tahun 2000 hingga 2007.
Almarhum yang akrab dipanggil Haji Muid atau Abah Muid wafat pada 12 September 2016 di RS Mitra Keluarga Surabaya. Selama 10 tahun menjadi Bendahara, cukup banyak aktifitas dan kegiatan yang menjadi kenangan sampai saat ini salah satunya adalah mengurus aset-aset NU yang berupa Tanah. Tanah kosong yang saat ini berada di sebelah utara Kantor PWNU Jawa Timur adalah pemberian Bapak H. Imam Utomo Preode ke 1 ketika menjabat Gubernur Jawa Timur sekitar tahun 2000 dengan luas 3200 M. Beliau yang ditugasi mencari Tanah hingga mengurus menjadi Sertifkat.
Tanah yang ditempati Kantor NU Jawa Timur sekarang ini (depan Masjid Al Akbar) juga merupakan bantuan/Pemberian dari Bapak H.Imam Utomo preode ke2 ketika menjabat Gubernur Jatim pada tahun 2004. Dengan luas kurang lebih 1800 M2, tanah ini merupakan salah satu bantuan dari Bapak Imam Utomo untuk NU Jatim, dan dengan tanah ini akhirnya pada tahun 2004 dengan Pencalonan KH.Hasyim Muzadi sebagai Cawapres dimulai pembangunannya (hadiah dari KH.Hasyim Muzadi) namun demikian KH.Hasyim Muzadi untuk Tahap pertama menyerahkan dana sebasar 4 Milyard dari anggaran yang direncanakan sebesar 7 Milyard ketika itu.dan sisanya beliau Janji atas dituntaskan jika beliau selesai Pilpres.
Pilpres dilaksanakan Oktober 2004 dan ternayata Pasangan Mega Hasyim tidak berhasil memenangkan Pilpres, harapan untuk menyelesaikan Pembangunan Kantor NU Jawa Timur menjadi terhambat, pada suatu saat KH.Hasyim Muzadi pada akhir tahun 2004 Mampir ke tempat Pembangunan Kantor NU Jawa Timur dan detemui Almarhum H.Abdul Muid KH. Hasyim Muzadi mengatakan kepada Abah Muid: Ji, teruskan pembangunan Kantor NU ini sekalipun saya gagal Pilpres. Saya tetap akan membantu mencarikan. Mendengar itu Abah Muid menjawab siap, menuntaskannya.
Seiring perjalanan waktu Pembangunan kantor NU Jatim tetap berjalan, namun Jalannya tidak secepat rencana semula kerena keuangan yang kurang lancar, Pembangunan berjalan dengan keuangan dari Kas PW.NU Jawa Timur dan juga dana talangan/Pinjaman dari aba Muid, sampai beliau menggadaikan barang2nya pribadi serta mencari Pinjaman ke Bank untuk mendapatkan dana. Guna membayar tagihan kepada pelaksana Proyek. KH. Hasyim Muzadi mencarikan bantuan untuk selesainya pembangunan Kantor NU Jawa Timur namun Jumlahnya tetap tidak bisa menutupi dari rencana semula.
Pembangunan kantor PWNU ini akhirnya dapat dituntaskan pada awal tahun 2007 dan sudah siap ditempati dan sebelum pelaksanaan Konferensi NU di Genggong di bulan April, 2007, semua aktifitas perkantoran pindah dari Raya Darmo 96 pindah ke Kantor baru. Namun demikian, dengan selesainya pembangunan Kantor PWNU, ternyata masih menyisakan hutang kepada H. Abdul Muid sebesar 3 Milyar lebih. Untuk menutupi kekurangannya, Pengurus baru hasil Konperwil NU di PP. Zainul Hasan, Genggong, yaitu Rois KH.Miftahul Akhyar dan Ketua KH.Ali Mashan Moesa memiliki tanggungan menyelesaikan pembayaran itu. Pengurus baru PWNU Jawa Timur mengadakan Silaturrahim ke Bupati dan walikota yang berasal dari NU se Jawa Timur. Namun dari silaturrahim itu, belum bisa menutupinya. Karena situasi Politik dan KH.Ali Mashan mencalonkan jadi Cawagub, maka kemudian melalui permusyawaratan di Kantor PWNU Jatim, pada bulan Juli 2007, berhasil memilih Ketua baru yaitu KH. Hasan Mutawakkil Alallah sebagai ketua baru tanfidziyah.
Pada masa kepemimpinan KH. Hasan Mutawakkil ini tanggungan Pembangunan Kantor bisa terselesaikan dengan sumber Rp.1.5 Milyar, bantuan dari Pak Karwo selaku Gubernur serta kekurangannya pelepasan Aset Tanah NU Jawa Timur yang berada di Jalan Jemur wlWonosari, belakang RSI Jemursari dengan luas 1500 meter persegi.
Abah Muid adalah Sosok yang Dekat pada Siapa Saja. Selama bertahun-tahun berinteraksi, almarhum dikenal dekat dengan para Staf yang bertugas di lingkungan Kantor PWNU Jawa Timur, dan membangun komunikasi dengan baik, sering mengajak mereka makan bersama. Setiap menjelang hari raya, Abah Muid tidak lupa membagi infaq dan zakatnya untuk teman-teman Staf NU Jawa Timur.
Demikian sekilas perjuangan Abah Muid yang bisa kami haturkan. Saya menulisnya, kerena perjuangan almarhum memiliki nilai monumental, yakni megahnya Kantor PWNU Jawa Timur yang kokoh berdiri hingga kini. Semoga kita dapat mengambil hikmahnya dan meneladi perjuangannya. Semoga, Almarhum dilapangkan kuburnya, diampuni segala kehilafannya dan diterima segala amal baiknya. Alfatihah. (*)
Oleh Ahmad Zaini Ilyas, Aktivis NU, Pelaksana lapangan Pembangunan Kantor PWNU Jawa Timur




