Gresik, jurnal9.tv – Setiap pagi sebelum pelajaran dimulai, Noor Annisa Qurrota’ Aini duduk bersama teman-temannya di kelas Tahfidz MINU Trate Putri Gresik. Tidak ada sorak-sorai ataupun gemerlap panggung. Yang terdengar hanya lantunan ayat suci Al-Qur’an yang diulang perlahan demi menjaga hafalan.
Kebiasaan sederhana itulah yang, tanpa disadari, mengantarkan siswi kelas VI tersebut berdiri di panggung Sunan Drajad International Fest 2026, membawa pulang gelar Juara II cabang Musabaqah Hifzil Qur’an (MHQ).
Di balik senyum malunya, Annisa mengaku sempat diliputi rasa gugup saat berhadapan dengan dewan juri. Ribuan peserta dari berbagai daerah di Indonesia hingga sejumlah negara Asia Tenggara menjadi pesaingnya. Dari sekitar 4.800 peserta yang mengikuti seleksi, hanya 54 finalis terbaik yang berhak tampil di babak grand final.
“Alhamdulillah senang bisa mendapat juara. Awalnya sempat grogi, tapi saya berusaha tetap tenang,” ucap Annisa, Selasa (28/07/2026).
Prestasi itu bukanlah hasil yang datang dalam semalam. Putri kedua pasangan Taufiq Arafat dan Mafulah tersebut mulai menghafal Al-Qur’an sejak berusia tujuh tahun. Hari-harinya diisi dengan belajar di TPQ, lalu semakin terarah ketika bergabung di kelas Tahfidz MINU Trate Putri.
Di rumah, hafalan Annisa dijaga dengan disiplin. Sang ibu setia mendampinginya murojaah setiap selesai salat Magrib dan Subuh. Bagi keluarga kecil itu, mengulang hafalan telah menjadi rutinitas yang tidak pernah ditinggalkan.
“Setiap selesai Magrib dan Subuh kami murojaah minimal satu juz agar hafalannya tetap terjaga,” tutur Mafulah.
Menurut Mafulah, kemampuan putrinya berkembang pesat setelah mengikuti pembiasaan membaca Al-Qur’an di sekolah. Program murojaah yang dilakukan setiap hari membuat hafalan Annisa semakin kuat hingga akhirnya mampu menyelesaikan hafalan 30 juz.
Sejak masih duduk di bangku taman kanak-kanak, Annisa juga telah akrab dengan berbagai perlombaan keagamaan. Pengalaman demi pengalaman membentuk mentalnya hingga mampu tampil percaya diri di ajang internasional.
Kepala MINU Trate Putri Gresik, Ainur Rahmah, mengatakan keberhasilan Annisa merupakan buah dari proses panjang yang dibangun melalui pembiasaan, bukan sekadar persiapan menjelang lomba.
Setiap hari, para siswa dibiasakan melaksanakan salat Dhuha, membaca Asmaul Husna, dan murojaah bersama sebelum mengikuti pelajaran. Sementara di kelas Tahfidz, mereka mendapat pembelajaran sekitar delapan jam setiap pekan dengan target hafalan minimal tiga juz.
“Semoga prestasi ini menjadi penyemangat bagi teman-temannya untuk terus menjaga hafalan Al-Qur’an dan berusaha meraih prestasi yang lebih baik,” ujarnya.
Ketua Yayasan Perguruan Pendidikan Nahdlatul Ulama Trate Gresik, Elvi Wahyudi, menilai capaian Annisa menjadi bukti bahwa pendidikan karakter dan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten mampu melahirkan generasi berprestasi.
Ia berharap seluruh sekolah di bawah naungan yayasan terus menghadirkan pendidikan terbaik, baik dalam bidang akademik maupun nonakademik.
“Prestasi yang telah diraih hendaknya menjadi pemicu untuk terus meningkatkan mutu pendidikan, memperkuat karakter peserta didik, serta melahirkan lulusan yang membanggakan bagi orang tua, masyarakat, dan Nahdlatul Ulama,” katanya.
Bagi Annisa, piala dan piagam hanyalah akhir dari sebuah perlombaan. Sementara perjalanan sesungguhnya dimulai dari kebiasaan yang terus ia jaga setiap hari: membuka mushaf, mengulang hafalan, dan melafalkan ayat demi ayat. Dari rutinitas yang tampak sederhana itulah, seorang gadis kecil asal Gresik membuktikan bahwa ketekunan mampu mengantarkan langkahnya hingga panggung internasional.




