Bondowoso, jurnal9.tv – Tim ICD UNESA melanjutkan program pemberdayaan peternak di Desa Kalianyar, Kecamatan Ijen, Kabupaten Bondowoso, melalui kegiatan “Peningkatan Kesejahteraan Peternakan melalui Pengelolaan Kandang, Pembuatan Kompos, dan Pelatihan Kesehatan Hewan” pada 20–21 Juli 2026.

Pendampingan dilakukan dengan membawa kembali materi pelatihan Februari ke konteks keseharian peternak, mulai dari kebersihan kandang, pemanfaatan limbah, hingga perhatian terhadap kondisi kesehatan ternak.

Pada pelatihan Februari, peserta yang terdiri dari peternak, kelompok tani ternak, pengelola limbah organik, dan masyarakat pemilik ternak memperoleh pengetahuan mengenai pengelolaan kandang, komposting, dan kesehatan hewan. Laporan ICD mencatat bahwa materi tersebut diarahkan untuk mendorong pengelolaan peternakan yang lebih sehat, produktif, dan ramah lingkungan.

Dalam pendampingan Juli, Tim ICD UNESA melakukan diskusi lapangan mengenai kondisi kandang, rutinitas kebersihan, pengelolaan kotoran ternak, serta tahapan dasar pengolahan limbah menjadi kompos. Peserta juga diajak kembali memahami pentingnya pengamatan terhadap kondisi ternak dan kebutuhan untuk memperoleh bantuan tenaga yang kompeten apabila terdapat tanda gangguan kesehatan yang memerlukan penanganan lebih lanjut.

Ketua Pelaksana ICD UNESA, Dr. Mufarrihul Hazin, M.Pd., menjelaskan bahwa pendampingan dirancang untuk mempersempit jarak antara materi dan praktik. “Materi akan lebih berarti ketika masyarakat mampu menyesuaikannya dengan kondisi kandang dan sumber daya yang mereka miliki. Karena itu kami tidak hanya datang untuk mengulang pelatihan, tetapi mendengarkan kendala peternak dan mencari langkah yang memungkinkan untuk diterapkan secara bertahap,” ujarnya.

Perwakilan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bondowoso, Drh. Moech Saifoel, M.P, menilai kolaborasi menjadi penting karena pengelolaan peternakan menyangkut aspek produktivitas sekaligus kesehatan hewan. (Dinas Peternakan dan Perikanan) “Kesadaran mengenai kebersihan kandang, pengelolaan limbah dan pemantauan kesehatan ternak perlu dibangun bersama.

Kolaborasi dengan perguruan tinggi dan masyarakat desa dapat memperluas ruang edukasi sekaligus membantu kami melihat kebutuhan yang muncul di tingkat peternak,” ujarnya.

Tatak Setiadi, M.A., dosen UNESA yang tercantum sebagai pemateri pada sesi peternakan Februari, mengatakan penerapan materi perlu dimulai dari kebiasaan yang dapat dijalankan secara konsisten.

“Tidak semua perubahan harus dilakukan sekaligus. Yang lebih penting adalah masyarakat memahami mengapa kebersihan kandang, pengelolaan limbah, dan pemantauan ternak diperlukan, kemudian menentukan kebiasaan yang paling memungkinkan untuk diterapkan dan dijaga bersama,” katanya.

Tim ICD UNESA juga menyerahkan modul pelatihan kepada Kelompok Peternak Milenial sebagai bahan rujukan setelah rangkaian pendampingan selesai. Modul diharapkan membantu anggota mengingat materi, memandu diskusi kelompok, serta menjadi dasar ketika mereka melakukan praktik komposting atau mengevaluasi pengelolaan kandang masing-masing.

Pendampingan merupakan bagian dari ICD UNESA 2026 yang mendapat dukungan pendanaan LPDP dan berkaitan dengan Program Equity. Kegiatan tersebut memiliki keterkaitan dengan peningkatan produktivitas pangan, peluang ekonomi peternak, pemanfaatan limbah secara lebih bertanggung jawab, dan pengelolaan lingkungan desa.

Melalui Kelompok Peternak Milenial, praktik-praktik yang telah diperkenalkan diharapkan dapat terus dikembangkan bersama masyarakat dan mendapat dukungan jejaring pemerintah daerah maupun perguruan tinggi.