Jeddah, jurnal9.tv – Persiapan layanan puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) terus dimatangkan oleh Kementerian Urusan Haji bersama otoritas Arab Saudi. Fokus utama diarahkan pada kesiapan konsumsi, transportasi, akomodasi, hingga pengamanan mobilitas jemaah agar seluruh rangkaian ibadah berjalan aman dan tertib.
Staf Teknis Kementerian Urusan Haji Arab Saudi, Muhammad Ilham Effendy, mengatakan fase Armuzna menjadi tantangan paling kompleks dalam operasional haji karena melibatkan jutaan jemaah dalam waktu hampir bersamaan.
“Yang paling penting bagaimana seluruh jemaah tetap terpenuhi kebutuhannya, terutama konsumsi, karena dinamika di Arafah, Muzdalifah, dan Mina sangat berbeda dibanding fase biasa,” ujar Ilham.
Ia menjelaskan koordinasi intensif terus dilakukan bersama tim konsumsi dan penyedia layanan untuk memastikan distribusi makanan bagi jemaah berjalan aman sejak keberangkatan menuju Arafah pada 8 Zulhijah, pelaksanaan wukuf 9 Zulhijah, hingga fase mabit dan lontar jumrah di Mina.
Selain layanan konsumsi, pemerintah juga melakukan pengawasan ketat terhadap kesiapan akomodasi sesuai kontrak yang telah disepakati dengan penyedia layanan di Arab Saudi, mulai dari kapasitas kamar hingga fasilitas penunjang lainnya.
Ilham menuturkan tantangan layanan transportasi di Makkah jauh lebih kompleks dibanding Madinah. Jika di Madinah mayoritas hotel berada di kawasan markaziyah yang dekat dengan Masjid Nabawi, maka di Makkah banyak jemaah harus menggunakan Bus Shalawat dengan waktu tempuh sekitar 15 hingga 30 menit menuju Masjidil Haram.
Karena itu, petugas disiagakan lebih masif untuk memastikan jemaah tidak tersasar saat berangkat maupun kembali ke hotel.
“Petugas akan mengawal dan mengarahkan jemaah agar tidak salah naik bus. Di sekitar Masjidil Haram ada beberapa terminal dan titik pemberhentian seperti Ajyad, Jabal Ka’bah, hingga Syib Amir,” katanya.
Menurut Ilham, simbol dan penanda khusus juga telah disiapkan untuk memudahkan identifikasi rute setiap sektor pemondokan jemaah Indonesia.
Ia menambahkan penyelenggaraan haji selalu menghadapi tantangan baru setiap tahun karena adanya perubahan kebijakan dari otoritas Saudi yang harus segera direspons cepat oleh petugas di lapangan.
Selain itu, meningkatnya usia rata-rata jemaah Indonesia akibat panjangnya masa tunggu keberangkatan juga menjadi perhatian penting pemerintah.
“Konsekuensinya usia jemaah semakin lanjut dan kondisi kesehatannya semakin rentan. Karena itu pelayanan ramah lansia dan penguatan kesiapan kesehatan menjadi perhatian penting tahun ini,” ujar Ilham.
Pemerintah berharap seluruh persiapan Armuzna dapat berjalan optimal sehingga jemaah Indonesia dapat menjalankan puncak ibadah haji dengan aman, nyaman, dan khusyuk.
M. Hariri, Media Center Haji 2026




