Makkah, jurnal9.tv — Sebanyak tujuh jemaah haji Indonesia dilaporkan wafat di Arab Saudi, dengan mayoritas penyebab kematian akibat serangan jantung dan radang paru-paru. Di saat yang sama, ratusan jemaah lainnya masih menjalani perawatan kesehatan di tengah suhu ekstrem di Tanah Suci.
Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah, Maria Assegaf, menyampaikan bahwa total jemaah yang meninggal dunia hingga saat ini mencapai tujuh orang.
“Total jemaah yang wafat sebanyak tujuh orang. Kita doakan semoga husnul khotimah,” ujarnya.
Pihak Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) memastikan bahwa jemaah yang wafat akan tetap mendapatkan haknya melalui pelaksanaan badal haji.
Sementara itu, data menunjukkan sebanyak 6.823 jemaah menjalani rawat jalan. Sebanyak 117 jemaah dirujuk ke Klinik Kesehatan Haji Indonesia dan 141 jemaah dirawat di rumah sakit Arab Saudi. Dari jumlah tersebut, 59 jemaah tercatat masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.
Maria menegaskan bahwa seluruh jemaah mendapatkan layanan kesehatan secara optimal, mulai dari tingkat kloter, sektor, hingga fasilitas rujukan.
Di sisi lain, tingginya suhu udara di Makkah menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah. Berdasarkan data Early Warning System (EWS) Kementerian Haji dan Umrah, suhu udara pada Minggu (3/5/2026) diperkirakan mencapai puncak hingga 43 derajat Celsius.
Pada pagi hari, suhu berada di kisaran 26°C, kemudian meningkat tajam pada siang hari hingga 43°C. Suhu berangsur turun pada sore hari menjadi sekitar 39°C, dan kembali ke kisaran 34°C pada malam hari.
Kondisi cuaca panas ini mendorong jemaah untuk lebih waspada dan menjaga kesehatan, terutama dalam masa adaptasi terhadap perbedaan suhu selama berada di Arab Saudi.
Pemerintah mengimbau jemaah untuk membatasi aktivitas di luar ruangan pada siang hari, memperbanyak konsumsi air, serta memanfaatkan layanan kesehatan yang tersedia guna mencegah risiko gangguan kesehatan yang lebih serius.
M. Hariri, Media Center Haji 2026, Daker Bandara




