Surabaya, jurnal9.tv — Indonesia dipastikan menjadi tuan rumah penyelenggaraan International Grand Imam Conference (IGIC) 2026 pada akhir September 2026 di
‎Masjid Istiqlal Jakarta. Konferensi berskala internasional ini diproyeksikan menjadi wadah konsolidasi peran tokoh agama dalam diplomasi dan perdamaian dunia.

‎Perhelatan IGIC 2026 ini Mengusung tema “Masjid Harmony: Religions, Information, and Global Peace”, yang digelar di masjid Al Akbar Surabaya Jawa timur. Ahad (2/8/2026) Sore. Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa,Kakanwil Kemenag Jatim Dr. H. Akhmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I, Ketua Steering Committee (SC) IGIC, Irjen. Pol. Dr. H. M. Sabilul Alif, S.H., S.I.K., M.Si. jajaran pengurus Ikatan Imam Masjid (IPIM), pimpinan pondok pesantren, akademisi, ormas Islam serta ribuan jemaah dan tokoh masyarakat dari berbagai daerah di Jawa timur.

‎Kehadiran jemaah di Jawa Timur mencatatkan antusiasme yang luar biasa. Jika pada pelaksanaan sebelumnya di Makassar (Sulawesi Selatan) dihadiri sekitar 6.000–7.000 jemaah, jumlah peserta di Surabaya melambung hingga dua kali lipat.

‎Ketua Organizing Committee (OC) IGIC 2026, Farid F. Saenong, mengungkapkan bahwa acara puncak konferensi akan digelar selama dua hari, dimulai pada 27 September 2026. Sebagai rangkaian persiapan menuju acara utama, panitia menyelenggarakan Bridging Conference di enam kota besar di Indonesia, yakni Samarinda, Makassar, Banten, Surabaya,Bandung dan Pontianak.

‎”Dalam kegiatan prapuncak ini, kami mensosialisasikan agenda besar September mendatang melalui seminar dan tablig akbar. Ini merupakan hasil kolaborasi antara IPIM, Kemenag, dan perguruan tinggi Islam di berbagai daerah,” ujar Farid F. Saenong.

‎Dalam agenda prapuncak (Bridging Conference), kegiatan seminar menghadirkan narasumber dari berbagai unsur instansi nasional dan akademisi, seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam (Ditjen Bimas Islam) Kemenag, serta Ikatan Persaudaraan Imam Masjid (IPIM).
‎Sementara itu, untuk agenda tablig akbar diisi langsung oleh Ketua Umum Pengurus Pusat IPIM sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A.

‎Konferensi puncak pada September 2026 mendatang rencananya akan menghadirkan tokoh-tokoh Islam terkemuka dunia sebagai tamu utama, antara lain Imam Besar Masjidil Haram Makkah, Syekh Abdul Rahman As-Sudais, serta Imam Besar Al-Azhar Mesir, Syekh Ahmad al-Thayyib.
‎Hingga saat ini, panitia telah menjalin komunikasi formal maupun informal dengan perwakilan masjid-masjid utama dunia.

‎”Jumlah masjid utama dari berbagai negara yang sudah kami hubungi mencapai 47 masjid, dan sebagian besar di antaranya telah memberikan konfirmasi untuk hadir dalam International Grand Imam Conference 2026,” jelas Farid.

‎Farid menegaskan bahwa tujuan utama diselenggarakannya konferensi ini adalah untuk mempertegas kembali peran vital para imam besar dan tokoh agama dalam isu-isu perdamaian global.
‎melalui religious diplomacy (diplomasi keagamaan), peran tokoh agama diharapkan dapat dilibatkan secara langsung dan dampaknya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat dunia.

‎Ketua Steering Committee (SC) IGIC, Irjen. Pol. Dr. H. M. Sabilul Alif, S.H., S.I.K., M.Si.,
‎Menyampaikan apresiasi yang mendalam atas peran aktif Gubernur Jawa Timur yang dinilai konsisten menyuarakan pentingnya kolaborasi antara ulama dan umara (pemerintah).

‎”Kolaborasi antara ulama dan umara sangat krusial untuk memperkokoh dan memakmurkan masyarakat bukan hanya dari sisi finansial, tetapi juga kemakmuran spiritual,” tegas Sabilil Alif.

‎Kesuksesan gelaran di Jawa Timur ini melengkapi rangkaian kegiatan outreach yang sebelumnya telah sukses dilaksanakan di beberapa wilayah strategis, seperti Kalimantan Timur dan Banten.
‎Rangkaian program pelatihan dan konferensi internasional ini diharapkan dapat terus melahirkan imam dan khotib berwawasan global yang mampu menyebarkan pesan-pesan keagamaan yang sejuk, moderat, dan menentramkan bagi masyarakat luas.

‎​Ketua Steering Committee IGIC menekankan pentingnya peran strategis imam masjid yang tidak hanya bertindak sebagai pimpinan ibadah, tetapi juga sebagai pimpin moral, pendidik umat, perekat persatuan, serta duta perdamaian.

‎​”IGIC bukan sekadar konferensi internasional, melainkan sebuah gerakan bersama untuk memperkuat ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah. Nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi kehidupan masyarakat dunia,” ujar Sabilil Alif.

‎​Saat ini, pihak panitia dan penyelenggara terus membangun komunikasi serta jejaring dengan para imam besar, lembaga keagamaan, dan organisasi Islam dari sekitar 50 negara. Melalui wadah ini, Indonesia diharapkan semakin memperkuat posisinya sebagai pusat diplomasi keagamaan global sekaligus menghadirkan kontribusi nyata bagi perdamaian dunia.

‎Sementara itu, Kepala Kanwil Kemenag Jatim, Dr. H. Akhmad Sruji Bahtiar, M.Pd.I,
‎menyampaikan bahwa kegiatan istighosah ini bukan sekadar ajang bermunajat dan memohon keberkahan kepada Allah SWT. Lebih dari itu, agenda ini merupakan komitmen bersama dalam memperkuat persatuan umat dan memperkokoh nilai-nilai moderasi beragama.

‎​”Kegiatan istighosah dan doa akbar ini merupakan bagian penting dari rangkaian road to International Grand Imams Conference 2026. Ini menjadi momentum strategis untuk memperkuat peran ulama, imam, dan tokoh agama dalam membangun peradaban dunia yang damai, moderat, dan berkeadaban,” tegasnya.

‎​Jawa Timur dinilai memiliki peran yang sangat strategis sebagai salah satu pusat peradaban Islam di Indonesia. Melalui kegiatan ini, Jawa Timur menunjukkan kontribusi nyatanya dalam mengarusutamakan nilai-nilai keislaman yang inklusif, toleran, dan berkeadilan.

‎​Langkah ini juga menjadi bentuk kesiapan Jawa Timur dalam menyongsong forum internasional yang bakal menghimpun para imam besar dari berbagai belahan dunia.
‎​Melalui sinergi yang kokoh antara pemerintah, ulama, dan seluruh elemen masyarakat, diharapkan lahir berbagai solusi atas persoalan umat baik di tingkat lokal, nasional, maupun global.

‎​Kakanwil Kemenag Jatim mengajak seluruh jamaah yang hadir untuk terus merawat dan memperkuat tiga pilar persaudaraan (ukhuwah) mulai ​Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama umat Islam), ​Ukhuwah Wathaniyah (persaudaraan kebangsaan),dan  ​Ukhuwah Basyariyah (persaudaraan kemanusiaan).

‎​Ketiga pilar tersebut diharapkan menjadi pondasi utama dalam membangun bangsa yang damai dan sejahtera, sekaligus memperluas kepedulian sosial di tengah keberagaman.

‎Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A.,Menyampaikan Gelaran IGIC 2026 ini rencananya dihadiri sekitar 400 imam besar dari seluruh pelosok dunia, termasuk dari Amerika Serikat, Korea Selatan, Jepang, serta berbagai negara di Timur Tengah.

‎​Konferensi internasional ini diselenggarakan untuk memilih presiden atau kepemimpinan baru organisasi imam besar dunia. Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, telah menggelar program roadshow dan diskusi publik seperti yang telah dilangsungkan di Surabaya.

‎​Dalam keterangannya,Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., menekankan pentingnya memahami akar kata dan hakikat “masjid” dalam kehidupan umat Islam, tidak sekadar sebagai bangunan fisik.

‎​Filosofi Sujud dan Penghambaan
‎​Berdasarkan tinjauan bahasa dan tasawuf, kata masjid berakar dari kata sajada (sujud). Dari akar kata ini lahir beberapa istilah penting:

  • ​Sajadah / Sajadaton: Tempat atau alas yang digunakan untuk bersujud (seperti lantai atau karpet).
  • ​Sajid: Orang yang melakukan gerakan sujud atau menyungkurkan dahinya di hadapan kebesaran Allah SWT.
  • Sujud / Sujudun: Dalam perspektif tasawuf, sujud bukan sekadar gerakan fisik menyungkurkan mahkota (kepala), melainkan simbol totalitas penghambaan diri (tathabud) di hadapan keagungan Sang Pencipta.‎

‎Ketua Umum Pengurus Pusat IPIM sekaligus Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. ini juga menyoroti kembali esensi dan fungsi utama masjid sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

​Ia menegaskan bahwa ada hal yang jauh lebih penting daripada sekadar mendirikan bangunan fisik (masjid), yaitu membangun manusia yang bersujud (sajid).

‎​”Lebih penting membangun sajid daripada masjid. Tanpa ada masjid, kita tetap bisa sujud. Rasulullah bersabda bahwa bumi ini adalah tempat sujud (al-ardhu masjidun). Perahu nelayan, pematang sawah petani, hingga rumah kita pun bisa menjadi tempat sujud,” tegasnya.

‎​Utamanya, tujuan dibangunnya masjid adalah sebagai pusat untuk memberdayakan masyarakat (sajid). Namun, seiring berjalannya waktu, terdapat pergeseran di mana fokus masyarakat kerap kali terbalik lebih berfokus pada fisik masjid ketimbang pemberdayaan jemaahnya.

‎​Jika menilik sejarah pada era Nabi Muhammad SAW, masjid tidak hanya difungsikan sebagai tempat ibadah mahdhah (salat). Porsi penggunaan masjid pada zaman Rasulullah mencakup spektrum sosial yang sangat luas:

  •  ​Pusat Pemerintahan & Peradilan: Sekitar 80% aktivitas masjid pada masa Nabi digunakan untuk menyelesaikan berbagai persoalan keberagaman, pidana, perdata, hingga urusan peradilan dan sekretariat negara.
  • ​Pusat Sosial & Baitul Mal: Masjid berfungsi sebagai tempat penyimpanan dan penyaluran zakat, wakaf, infak, sedekah, serta barang rampasan perang (ghanimah) yang dikelola secara profesional.
  • ​Fasilitas Kesehatan & Pelatihan: Saat perang meletus, masjid bertransformasi menjadi rumah sakit darurat untuk merawat korban luka, sekaligus tempat latihan bela diri dan militer secara tertutup.
  • ​Tempat Penginapan & Pelayanan Tamu: Area Ahlus Suffah di masjid dijadikan tempat tinggal bagi mereka yang tidak memiliki rumah serta penampungan bagi tamu-tamu daerah maupun luar negeri.

‎​Selain sebagai pusat kegiatan internal umat Islam, masjid pada zaman Rasulullah juga menjadi balai pertemuan inklusif dan ‘rumah besar bagi kemanusiaan’ (the big house for all humanity).

‎​Dalam sebuah riwayat sahih yang juga dibenarkan oleh pakar hadis Dr. Mustafa Yaqub Rasulullah pernah menerima kunjungan sekitar 60 tokoh lintas agama yang datang lengkap dengan pakaian kebesarannya. Beliau menyambut, menjamu, dan membuka ruang dialog di dalam masjid.

‎​Melalui rekam jejak sejarah tersebut,
‎para imam besar diharapkan dapat terus memperkuat peran masjid sebagai pusat pembinaan spiritual, penyebaran nilai-nilai kedamaian, dan pemersatu umat di tingkat global.(RK)