Surabaya, jurnal9.tv – Ketua PGRI Jawa Timur Dr. Djoko Adi Walujo menyoroti rawannya konflik antara guru dan murid di era teknologi. Menurutnya, kemajuan digital mengubah karakter dan membuat cara berpikir cenderung sempit, sehingga gesekan mudah terjadi, apalagi jika pendidikan karakter menurun.
“Relasional guru dan murid itu per zaman berbeda. Sekarang zaman teknologi, sehingga mempengaruhi karakter. Orang cenderung berpikir sempit. Akibatnya konflik guru-murid bisa terjadi,” kata Djoko, Minggu (4/5/2026).
Ia menegaskan, konflik semacam ini sebenarnya sudah ada sejak dulu. Namun untuk mencapai prestasi luar biasa, guru butuh dua hal: perlindungan dan kesejahteraan. “Kalau di luar negeri itu security and prosperity. Secure artinya guru terlindungi saat menjalankan tindakan profesionalnya. Tapi kalau prosperity-nya kurang, kesejahteraannya tidak terpenuhi, aktivitas profesional guru jadi rendah,” ujarnya.
Djoko menyebut pemerintah kini sudah menyiapkan wahana penyelesaian konflik lewat restorative justice (RJ). Kemendikbud pun mendorong agar konflik di sekolah tidak langsung dibawa ke ranah hukum, melainkan diutamakan RJ.
“Oleh karena itu PGRI sebagai wadah guru mengusahakan agar guru terlindungi. Sampai saat ini tidak ada undang-undang perlindungan guru,” tegasnya.
Ia mendesak pemerintah segera melahirkan UU Perlindungan Guru. “Kita sangat mengharapkan lahirnya undang-undang guru agar guru terlindungi saat melakukan aktivitas profesionalnya, mengajar dan sebagainya,” kata Djoko.
Djoko mengingatkan, karakter murid hanya bisa terbentuk jika karakter gurunya juga baik. Pembinaan guru tak boleh luntur dan tak cukup hanya mengejar gelar S2, S3.
“Guru juga harus dibina budi pekertinya. Kode etik guru harus ditingkatkan. Kalau gurunya beretika, otomatis semuanya juga akan beretika,” ujarnya.
Ia mengaku kurang senang melihat guru yang ikut tren TikTok dengan konten yang menurunkan kewibawaan. “Guru TikTok, kemudian kelihatan seksi dan sebagainya, ini akan menurunkan kewibawaan. Pendidikan budi pekerti harus dikembalikan,” tegasnya.
Terkait disiplin siswa, Djoko menekankan pentingnya menyeimbangkan punishment dan reward. Guru jangan emosional saat menegur karena akan memicu konflik baru.
“Memberikan hukuman itu ada macam-macam. Kalau bisa, kita timbang antara punishment dan reward. Beri penghargaan, memuji, itu penting. Jangan sampai yang keluar cuma punishment,” jelasnya.
Menurutnya, menegur siswa butuh metode. PGRI ingin mengembangkan cara menegur terbaik dan mendorong guru memperbanyak reward, termasuk reward verbal. “Sentuhan verbal, mengacungkan jempol dan sebagainya, itu harus dikembangkan. Hindari ancaman atau punishment verbal. Guru harus menunjukkan kelebihannya lewat metode menegur yang terbaik,” pungkas Djoko.




