Aneurisma otak menjadi salah satu penyakit yang sulit dideteksi sejak awal. Kondisi ini bahkan kerap baru diketahui ketika pembuluh darah di otak telah pecah dan menimbulkan kondisi darurat.

Direktur Rumah Sakit Kemenkes, dr. Martha M. L. Siahaan, S.H., MARS., M.H.Kes., Saat acara gathering bersama awak media mengatakan kasus aneurisma yang terdeteksi sebelum pecah masih jarang ditemukan di Indonesia. Sebagian besar pasien justru datang ke rumah sakit setelah mengalami pecah aneurisma.

Menurut Martha, aneurisma merupakan pelebaran abnormal pada pembuluh darah yang dapat berkembang tanpa menimbulkan gejala berarti. Karena itu, seseorang bisa merasa sehat meski memiliki kondisi tersebut.

“Jarang sekali kita menemukan kasus-kasus aneurisma tidak pecah,” ujarnya.

Ia mencontohkan, rumah sakitnya sempat menangani pasien dengan aneurisma yang belum pecah. Namun, keberadaan aneurisma tersebut diketahui bukan melalui pemeriksaan khusus, melainkan ketika pasien menjalani pemeriksaan akibat keluhan atau kondisi lain.

Kondisi tersebut, kata Martha, berbeda dengan sejumlah negara maju yang memiliki sistem skrining kesehatan lebih baik. Pemeriksaan secara berkala memungkinkan aneurisma ditemukan sebelum pecah sehingga tindakan medis dapat dilakukan lebih dini.

“Kalau dibandingkan dengan negara maju, tindakan-tindakan untuk aneurisma itu sering dilakukan karena screening-nya berjalan dengan baik,” jelasnya.

Martha menilai persoalan tersebut menunjukkan masih perlunya perubahan cara pandang masyarakat terhadap kesehatan. Selama ini, banyak orang baru memeriksakan diri ketika sudah merasakan sakit atau mengalami kondisi serius.

Padahal, menurutnya, ketika seseorang sudah mengalami stroke, penyakit jantung, maupun penyakit berat lainnya, upaya penanganan yang dilakukan sebenarnya sudah berada pada tahap mengobati, bukan lagi mencegah.

Ia mengingatkan bahwa pengetahuan mengenai pola hidup sehat saja tidak cukup jika tidak diikuti dengan tindakan nyata.

“Kita tahu kesehatan itu penting, kita tahu sesuatu itu buruk, tapi kita langgar saja. Itu karena kita belum merasakan,” katanya.

Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala dinilai penting, terutama untuk mendeteksi penyakit yang dapat berkembang tanpa gejala. Deteksi lebih awal memberi peluang bagi dokter untuk menentukan langkah penanganan sebelum kondisi berkembang menjadi kegawatdaruratan.

Di sisi lain, Martha menjelaskan bahwa pelayanan di rumah sakit tetap mengutamakan tingkat kegawatan pasien. Tidak semua pasien harus menunggu berdasarkan urutan kedatangan, sebab kasus emergensi akan mendapatkan penanganan terlebih dahulu.

“Kalau memang darurat, emergensi, ya langsung dilakukan dan terlaksana,” ujarnya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan tidak seharusnya dimulai ketika tubuh sudah memberikan alarm. Pemeriksaan rutin dan deteksi dini menjadi bagian penting untuk menemukan penyakit yang selama ini dapat bersembunyi tanpa gejala, termasuk aneurisma otak. (Tok)