Jombang, jurnal9.tv – KH Miftachul Akhyar kembali dipercaya memimpin jajaran Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) sebagai Rais Aam untuk masa khidmat 2026–2031.

Kiai Miftach terpilih secara mufakat melalui musyawarah Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA) dalam Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Minggu (30/8/2026).

Keputusan tersebut diumumkan salah satu anggota AHWA, KH Anwar Iskandar, setelah seluruh anggota melakukan musyawarah secara tertutup.

“Setelah melakukan musyawarah tertutup, anggota Ahlul Halli wal ‘Aqdi secara mufakat memutuskan bahwa nama Kiai Haji Miftachul Akhyar dipilih menjadi Rais Aam Pengurus Besar masa khidmat 2026–2031,” kata Anwar saat mengumumkan hasil musyawarah.

Anwar mengatakan, AHWA juga memberikan pesan agar kepemimpinan Miftachul Akhyar ke depan mampu merangkul seluruh elemen NU.

Menurutnya, latar belakang maupun dinamika organisasi yang pernah terjadi tidak boleh menjadi penghalang untuk membangun kebersamaan dalam kepengurusan NU.

“Apa pun background sebelumnya dalam dinamika organisasi ini, nanti semuanya akan kita ajak. Itu pesan daripada Ahlul Halli wal ‘Aqdi kepada Rais Aam terpilih,” tuturnya.

Telah Memimpin Sejak 2018

Kembali terpilihnya Miftachul Akhyar memperpanjang kiprahnya sebagai Rais Aam PBNU. Ia telah menjalankan peran tersebut sejak 2018.

Sebelum menduduki posisi Rais Aam, Miftachul Akhyar merupakan Wakil Rais Aam PBNU sejak 2015. Saat itu, posisi Rais Aam ditempati KH Ma’ruf Amin.

Ketika Ma’ruf Amin meninggalkan jabatan di PBNU untuk mengikuti kontestasi Pemilu 2019 sebagai calon wakil presiden, Miftachul Akhyar kemudian mengisi posisi Rais Aam sejak 2018.

Ia selanjutnya ditetapkan sebagai Rais Aam PBNU definitif pada 2021 dan kembali dipercaya memimpin untuk periode 2026–2031 melalui Muktamar ke-35 NU.

Dengan rekam jejak tersebut, Miftachul Akhyar menjadi salah satu tokoh yang memiliki pengalaman panjang dalam struktur kepemimpinan NU, baik di tingkat daerah maupun pusat.

Dari Pesantren ke Kepemimpinan NU

KH Miftachul Akhyar lahir di Surabaya pada 1953. Ia merupakan putra KH Abdul Ghoni, pengasuh Pondok Pesantren Tahsinul Akhlaq Rangkah, Surabaya.

Perjalanan keilmuannya ditempa melalui sejumlah pesantren dan majelis ilmu di Jawa. Ia pernah belajar di Pondok Pesantren Tambakberas, Pondok Pesantren Sidogiri, dan Pondok Pesantren Lasem.

Miftach juga pernah mengikuti Majelis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Makki Al-Maliki di Malang.

Setelah menyelesaikan perjalanan pendidikannya, ia kemudian mendirikan Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di Surabaya yang berada di kawasan Kedung Tarukan.

Aktivitasnya di lingkungan pesantren kemudian berjalan beriringan dengan kiprah organisasi di Nahdlatul Ulama.

Meniti Karier Organisasi dari Surabaya

Kiai Miftach mengawali perjalanan strukturalnya di NU sebagai Rais Syuriyah PCNU Kota Surabaya periode 2000–2005.

Kariernya kemudian berlanjut ke tingkat Jawa Timur. Ia dipercaya menjadi Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur pada periode 2007–2018.

Pengalaman panjang di tingkat wilayah tersebut kemudian mengantarkannya ke struktur PBNU.

Pada 2015, Miftach terpilih menjadi Wakil Rais Aam PBNU. Jabatan tersebut diembannya ketika KH Ma’ruf Amin masih menjabat sebagai Rais Aam.

Setelah menjadi Rais Aam, kiprah Miftachul Akhyar juga tidak hanya berada di lingkungan NU. Ia pernah dipercaya memimpin Majelis Ulama Indonesia (MUI) periode 2020–2025.

Kembali Diberi Mandat untuk Abad Kedua NU

Terpilihnya kembali KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam berlangsung ketika NU memasuki fase penting dalam perjalanan organisasinya.

Muktamar ke-35 NU di Tambakberas menjadi muktamar pertama NU pada abad kedua.

Mandat baru tersebut sekaligus menempatkan Miftachul Akhyar dalam posisi strategis untuk ikut menentukan arah kepemimpinan dan kebijakan keulamaan NU selama lima tahun ke depan.

Pesan AHWA agar seluruh elemen NU dirangkul menjadi salah satu tantangan awal kepemimpinan Miftachul Akhyar pada periode 2026–2031.

Kepemimpinan yang mampu menjaga persatuan internal sekaligus memperkuat peran ulama menjadi bagian penting dalam perjalanan NU memasuki abad keduanya.