Lamongan, jurnal9.tv — Ratusan pasang mata dari sekitar 900 siswa-siswi MA Ma’arif 7 Sunan Drajat memadati area acara pada Selasa (11/8/2026). Prosesi pelantikan Pimpinan Komisariat (PK) IPNU dan IPPNU masa khidmat 2026–2027 tersebut bukan sekadar seremoni pergantian kepengurusan, melainkan panggung penegasan visi besar: melahirkan kader pelajar yang berjejaring hingga level nasional.
Tongkat estafet kepemimpinan resmi berpindah tangan. Kursi Ketua PK IPNU yang sebelumnya dijabat oleh Ahmad Miftahul Haq kini diteruskan oleh Bimo Cahya Saputra. Sementara di lini IPPNU, kepemimpinan Vania Kholifatul Afifah resmi dilanjutkan oleh Nabila Nuril Salsabilah.
Acara pelantikan ini dihadiri langsung oleh jajaran pengurus NU tingkat cabang, di antaranya Ketua Tanfidziyah PCNU Lamongan Gus Syahrul Munir, Ketua PC IPNU Affan Burhanuddin, serta Ketua PAC Ahmad Lubab Ja’faruddin yang memimpin langsung prosesi pengukuhan.
Pesan mendalam disampaikan oleh Ketua PC IPNU, Affan Burhanuddin. Di hadapan para pengurus yang baru dilantik, ia menegaskan bahwa organisasi bukanlah sarana untuk mencari popularitas pribadi, melainkan ladang pengabdian bagi kemaslahatan bersama.
”Jadilah pengurus yang mampu mementingkan kepentingan umat demi kemaslahatan. Manfaatkan organisasi ini untuk mengabdi sepenuh hati dan teruslah berproses hingga ke tingkat kepengurusan pusat,” tegas Affan.
Menurutnya, kaderisasi di tingkat komisariat madrasah adalah gerbang awal perjuangan. Para pengurus tidak hanya dituntut mengawal program kerja, tetapi juga diasah untuk memperluas jaringan, menggembleng kapasitas diri, dan merawat arah perjuangan jangka panjang.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Tanfidziyah PCNU, Gus Syahrul Munir, menyebut organisasi pelajar sebagai laboratorium hidup tempat lahirnya para pemimpin masa depan. Di wadah inilah para kader belajar mengolah rasa tanggung jawab, mengasah komunikasi, hingga membaca dinamika sosial masyarakat.
”Organisasi dan kaderisasi harus menjadi jalan untuk mengembangkan jaringan sampai tingkat nasional,” ujar Gus Syahrul.
Ia berpesan agar para kader IPNU-IPPNU MA Sunan Drajat tidak cepat puas berkiprah di lingkup madrasah atau daerah semata, melainkan berani menembus kancah nasional.
Untuk menyuntikkan motivasi, Gus Syahrul mencontohkan rekam jejak Gus Gudfan Arif—putra KH Abdul Ghofur sekaligus dzurriyah Pondok Pesantren Sunan Drajat—yang kini masuk dalam bursa kepemimpinan tingkat nasional di PBNU.
”Ini merupakan langkah konkret bahwa Sunan Drajat sudah menasional, sebagaimana visi dan misi yayasan,” lanjutnya.
Kehadiran kepemimpinan baru Bimo Cahya Saputra dan Nabila Nuril Salsabilah menjadi titik awal perjuangan baru. Pelantikan ini diharapkan mampu memperkokoh sistem kaderisasi, menjamin keberlanjutan program kerja, serta memberi dampak nyata bagi madrasah, pesantren, dan masyarakat luas.




