Surabaya, jurnal9.tv – Banteng Jawa Barat sukses mengamankan tiga poin perdana dengan gaya impresif pada laga pembuka Grup A Soekarno Cup 2026. Bertanding di Stadion Gelora 10 November, Banteng Jabar tampil meyakinkan usai menggilas tuan rumah Banteng Jawa Timur dengan skor telak 4-1.

​Pertandingan berlanjut tensi tinggi sejak peluit awal dibunyikan. Jual beli serangan tersaji secara sengit di paruh pertama. Banteng Jabar yang tampil lebih klinis berhasil mencuri keunggulan terlebih dahulu dan menutup babak pertama dengan keunggulan tipis 2-1.
​Memasuki babak kedua, Banteng Jatim mencoba bangkit untuk menyamakan kedudukan.

Namun, panggung paruh kedua justru menjadi milik bintang muda Banteng Jabar, Ramadan Maulana. Pada menit ke-78, Ramadan sukses mencatatkan nama di papan skor sekaligus melengkapi aksi hattrick-nya yang mengubah papan skor menjadi 3-1 dan meruntuhkan mental bertanding tuan rumah.

​Banteng Jabar tak mengendurkan serangan hingga masa injury time. Ihsan Malik mencetak gol penutup yang memastikan kemenangan manis 4-1 untuk Banteng Jabar sebelum wasit meniup peluit panjang akhir pertandingan.

​Kemenangan telak ini membawa Banteng Jabar melesat ke puncak klasemen sementara Grup A Soekarno Cup 2026, sekaligus menjadi sinyal bahaya bagi tim-tim lain di turnamen ini.

Soekarno Cup 2026 Resmi Dibuka, Padukan Fondasi Sepak Bola Muda dan Keberagaman Budaya

Juru Bicara Soekarno Cup yang juga legenda Tim Nasional Indonesia, Anang Ma’ruf, menegaskan bahwa keberadaan kompetisi usia dini merupakan kunci utama dalam membentuk karakter atlet masa depan. Menurut pemilik 31 penampilan bersama skuad Garuda ini, pembinaan pemain muda tak cukup hanya mengandalkan kemampuan teknis di lapangan.

“Kompetisi menjadi ruang bagi pemain muda untuk mendapatkan pengalaman bertanding sekaligus membentuk mental, sportivitas, kerja sama, dan kedisiplinan,” ujar Anang di sela pembukaan Soekarno Cup 2026.

Selain persaingan di lapangan hijau, upacara pembukaan turnamen ini menyajikan kemeriahan atraksi drum band yang mengiringi defile kontingen dari berbagai daerah. Unsur seni dan tradisi lokal turut menyemarakkan acara melalui pertunjukan reog, jaranan, bantengan, hingga tarian kontemporer.

Ketua Panitia Nasional Soekarno Cup, Komarudin Watubun, menyebutkan bahwa perpaduan olahraga dan seni budaya ini dihadirkan sebagai simbol perekat keberagaman Indonesia.

“Setiap kontingen membawa identitas daerahnya masing-masing, tetapi seluruhnya bertemu dalam satu arena melalui sepak bola. Kami ingin generasi muda tidak hanya berkembang sebagai atlet berprestasi, tetapi juga memiliki karakter, rasa kebersamaan, dan kepedulian terhadap budaya bangsa,” tegas Komarudin. (Tok)