Lamongan, jurnal9.tv – Universitas Islam Lamongan (UNISLA) terus memperkuat pengabdian masyarakat berbasis lingkungan. Lewat program KKN Berdampak, UNISLA menggandeng Universiti Tun Hussein Onn Malaysia (UTHM) dan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya untuk menginisiasi pembuatan lubang resapan biopori di kawasan rawan banjir Kabupaten Lamongan.
Salah satu titik fokus gerakan ini berada di Desa Keben, Kecamatan Turi, Lamongan. Inovasi teknologi sederhana ini dirancang tak sekadar menjadi solusi mitigasi banjir, tetapi juga diproyeksikan sebagai basis data riset berkelanjutan.
Rektor UNISLA, Abdul Ghofur, mengungkapkan bahwa aksi ini merupakan tindak lanjut konkret dari kerja sama lintas perguruan tinggi yang sebelumnya disepakati melalui Memorandum of Understanding (MoU). Dalam aksi ini, mahasiswa KKN diterjunkan langsung ke pemukiman warga.
”Ini merupakan kelanjutan dari kerja sama yang telah disampaikan saat penandatanganan MoU di kampus.
Muaranya nanti bisa menjadi riset karena daerah ini setiap tahun mengalami banjir. Harapannya, contoh yang sudah dibekalkan kepada mahasiswa KKN bisa ditindaklanjuti di lokasi pengabdian,” kata Abdul Ghofur.
Ghofur mendorong partisipasi aktif masyarakat lokal agar dampak gerakan ini terasa maksimal. Pihaknya menargetkan setiap hunian warga memiliki lubang resapan mandiri.
”Minimal setiap keluarga memiliki satu sampai tiga biopori. Tujuannya tentu untuk meningkatkan daya resap air sehingga dapat mengurangi genangan maupun risiko banjir,” jelasnya.
Langkah kolaboratif ini mendapat respons positif dari akademisi mancanegara. Dekan Pusat Pengajian Siswazah UTHM Malaysia, Prof Zaki Bin Noh, menilai model KKN Berdampak yang diusung UNISLA sangat inspiratif dan berpotensi diadopsi di Malaysia.
”Ini kali pertama saya melihat usaha universiti kepada komuniti melalui program KKN seperti ini. Bagi saya, ini sesuatu yang sangat menarik dan boleh diaplikasikan di UTHM untuk program KKN di sana,” puji Prof Zaki.
Menurutnya, faktor kemiripan kondisi geografis antara Indonesia dan Malaysia membuat penerapan metode biopori sangat relevan untuk mengatasi genangan air di kawasan pemukiman Malaysia.
”Persekitarannya hampir sama, geografinya juga hampir sama. Sebab itu saya melihat kaedah yang dibuat UNISLA kepada komuniti ini sangat relevan dan berpotensi diterapkan di UTHM,” sambungnya.
Sementara itu, Ketua Litbang UNISLA, Nur Azizah Afandi, membeberkan alasan memilih Kecamatan Turi sebagai lokasi percontohan. Wilayah tersebut dikenal memiliki tingkat kerentanan cukup tinggi terhadap genangan air saat musim hujan tiba.
”Ada 17 desa yang menjadi sampel kami di Kecamatan Turi. Di masing-masing desa, mahasiswa akan memberikan sosialisasi mengenai cara pemasangan, fungsi, dan manfaat biopori kepada masyarakat,” beber Azizah.
Uniknya, sosialisasi ini membidik kelompok ibu rumah tangga sebagai sasaran utama, mengingat peran strategis mereka dalam pengelolaan lingkungan domestik sehari-hari.
”Target kami memang ibu-ibu rumah tangga yang nantinya dapat memanfaatkan lubang-lubang biopori ini sebagai bagian dari upaya menjaga lingkungan sekaligus mengelola sampah organik di rumah,” paparnya.
Meski hasilnya membutuhkan proses, Azizah optimistis program ini akan membawa dampak jangka panjang bagi konservasi air dan pengendalian banjir.




