Surabaya, jurnal9.tv – Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melibatkan sekitar 16.000 mahasiswa dalam Program Mahasiswa Berdampak Mobilitas Akademik Tahun Akademik 2026/2027. Selama empat bulan, para mahasiswa akan menjalani proses pembelajaran di luar kampus melalui berbagai program yang melibatkan 1.152 mitra dari dalam maupun luar negeri.

Program tersebut diluncurkan dalam Kick-off Program Mahasiswa Berdampak Mobilitas Akademik di Kampus Unesa II Lidah Wetan, Surabaya, Senin (27/7/2026). Kegiatan itu dihadiri Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Fauzan sekaligus menjadi momentum peluncuran maskot baru Unesa.

Program mobilitas akademik dirancang agar mahasiswa memperoleh pengalaman belajar langsung di tengah masyarakat, dunia usaha dan industri, instansi pemerintah, maupun lembaga mitra lainnya. Selain mengembangkan kompetensi akademik, mahasiswa diharapkan mampu meningkatkan kemampuan beradaptasi, berkolaborasi, memecahkan persoalan, serta membangun empati melalui pengalaman di lapangan.

Wamendiktisaintek Fauzan mengatakan perguruan tinggi memiliki peran penting dalam menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat melalui keterlibatan langsung mahasiswa.

“Langkah ini diharapkan mampu menciptakan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha dan industri, masyarakat, serta media. Dengan demikian, karya-karya akademik kampus tidak hanya berakhir sebagai tumpukan jurnal ilmiah, tetapi juga mampu memberikan solusi nyata dan manfaat langsung bagi masyarakat,” ujar Fauzan.

Rektor Unesa Nurhasan atau Cak Hasan menyebut program tersebut sebagai “laboratorium kehidupan” yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menguji pengetahuan yang diperoleh di ruang kuliah melalui pengalaman nyata.

Menurut dia, lulusan perguruan tinggi saat ini tidak cukup hanya menguasai aspek akademik, tetapi juga harus memiliki kemampuan menyelesaikan masalah, bekerja sama, beradaptasi, serta memiliki empati terhadap masyarakat.

“Program ini sejalan dengan misi pembangunan nasional. Di era global saat ini, mahasiswa tidak hanya dituntut memiliki kompetensi akademik, tetapi juga diuji dalam hal kedisiplinan, tanggung jawab, kemampuan problem solving, empati, dan kerja sama tim,” kata Cak Hasan.

Program tersebut terbuka bagi seluruh mahasiswa, termasuk peserta afirmasi dan mahasiswa penyandang disabilitas. Selama pelaksanaannya, mahasiswa mengikuti sembilan skema kegiatan, yakni magang, pengenalan lapangan persekolahan (PLP), riset, pertukaran mahasiswa, Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik, wirausaha, studi independen, asistensi mengajar, dan proyek kemanusiaan.

Salah satu peserta, Aldito Christian Putra, mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknologi Informasi Fakultas Teknik Unesa, mengikuti program magang di PT Aplikasi Bisnis Digital Indonesia sebagai programmer. Ia terlibat dalam pengembangan sistem berbasis web, penyelesaian kendala teknis, hingga pengujian sistem.

“Saya jadi bisa melatih soft skill seperti komunikasi, kerja sama tim, problem solving, dan profesionalisme,” ujar Aldito.

Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari pemerintah daerah. Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi menilai kehadiran mahasiswa melalui program seperti KKN Tematik dapat membantu pengembangan berbagai sektor di daerah.

“Melalui program seperti KKN Tematik, mahasiswa diharapkan dapat berkontribusi dalam pengembangan kawasan industri, ekonomi, pertanian berbasis teknologi, hingga sektor pariwisata di daerah,” katanya.

Peluncuran program ditandai dengan penyematan rompi kepada 12 mahasiswa yang mewakili keberagaman peserta, terdiri atas mahasiswa penyandang disabilitas, mahasiswa asal Papua, mahasiswa asing, dan mahasiswa reguler.

Pada kesempatan yang sama, Unesa juga memperkenalkan maskot baru bernama Si Prio, akronim dari Progresif, Responsif, Inovatif, dan Optimis. Maskot tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Dies Natalis ke-62 Unesa sekaligus merepresentasikan semangat kampus dalam mendorong pembelajaran yang berdampak bagi masyarakat. (tok)