Lamongan, jurnal9.tv – Kabar kurang sedap datang dari sektor perikanan di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Memasuki akhir April 2026, harga komoditas ikan air tawar di Pasar Ikan Lamongan dilaporkan merosot tajam.
Penurunan harga yang mencapai lebih dari 50 persen ini praktis membuat para petani tambak dan tengkulak hanya bisa gigit jari.
Suasana di Pasar Ikan Lamongan dalam dua pekan terakhir tampak lesu. Bukan karena sepi transaksi, namun lesunya aktivitas ini lebih disebabkan oleh anjloknya nilai jual komoditas andalan warga setempat.
Sejumlah jenis ikan seperti Mujair, Tombro, hingga Udang Vaname mengalami penurunan harga yang signifikan dari angka normal. Ikan Mujair yang biasanya dipatok di harga Rp18.000 per kilogram, kini jatuh di kisaran Rp8.000 hingga Rp12.000 per kilogram.
Kondisi ini disinyalir terjadi akibat musim panen raya yang berlangsung serentak. Melimpahnya pasokan ikan di pasar tidak diimbangi dengan jumlah permintaan konsumen yang stabil, sehingga hukum pasar memaksa harga jatuh ke titik terendah.
Gita Dwi Amelia, salah seorang tengkulak di Pasar Ikan Lamongan, mengakui bahwa kondisi ini sangat menyulitkan perputaran modal pedagang. Namun, nasib lebih memprihatinkan justru dialami oleh para petani ikan.
Selain harga yang murah, kualitas ikan hasil panen juga menurun drastis akibat faktor cuaca ekstrem. Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan banyak tambak warga terendam banjir. Kondisi ini memaksa petani melakukan panen lebih awal (panen paksa) meski kondisi ikan belum maksimal.
”Sudah harga murah, ikan juga banyak yang terpaksa dipanen karena banjir. Kalau tidak dipanen sekarang, malah hilang semua terbawa arus,” keluh salah satu petani.
Di tingkat petani, harga ikan Tombro kini hanya dihargai sekitar Rp7.000 per kilogram. Bahkan, untuk ikan Mujair ukuran kecil, harganya hanya laku Rp3.000 per kilogram. Angka ini dinilai sangat jauh dari kata layak dan tidak sebanding dengan biaya operasional.
Ari Palupi, seorang petani ikan di Lamongan, mengungkapkan kegelisahannya. Ia menyebut hasil penjualan saat ini sama sekali tidak mampu menutupi tingginya biaya perawatan, terutama harga pakan yang terus melambung.
Saat ini, para petani hanya bisa pasrah sembari berharap adanya intervensi atau keajaiban pasar agar harga kembali stabil.
Berdasarkan prediksi musiman, kenaikan harga kemungkinan baru akan terjadi pada momen akhir tahun mendatang.
Penurunan harga ini menjadi pukulan telak bagi ketahanan ekonomi warga Lamongan yang mayoritas menggantungkan hidup dari sektor perikanan darat.




