Makkah, jurnal9.tv – Kota Thaif menyimpan banyak cerita yang menarik bagi jamaah haji Indonesia. Selain dikenal sebagai kota pegunungan dengan udara sejuk dan pemandangan indah, Thaif juga menjadi saksi penting perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW yang penuh ujian dan pengorbanan.

Pada musim haji 1447 H/2026 M, sejumlah jamaah haji Indonesia dari berbagai daerah seperti Jakarta, Solo, dan Lombok terlihat mengunjungi kota yang berjarak sekitar 90 kilometer dari Makkah tersebut. Mereka mendatangi sejumlah lokasi bersejarah sekaligus menikmati panorama alam khas pegunungan Hijaz.

Salah satu pemandangan yang menarik perhatian berada di sekitar area makam sahabat Nabi, Abdullah bin Abbas. Di sejumlah dinding dan pagar sekitar kawasan tersebut tampak berbagai tulisan nama yang diduga dibuat oleh para peziarah dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Nama-nama seperti Waluyo, Fitri Bunga, Surya, Dewi hingga tulisan nama keluarga dari berbagai daerah di Indonesia terlihat menghiasi beberapa sudut lokasi. Selain jamaah Indonesia, terdapat pula nama-nama yang menunjukkan asal negara lain seperti Bangladesh, India, dan Pakistan.

Fenomena tersebut menjadi sisi unik dari kunjungan jamaah ke Thaif. Sebagian menilai tulisan nama itu sebagai bentuk kenangan pernah berkunjung ke lokasi bersejarah, meski tindakan mencoret fasilitas umum sejatinya tidak dianjurkan.

Selain mengunjungi kawasan makam Abdullah bin Abbas, banyak jamaah memanfaatkan perjalanan ke Thaif untuk menikmati destinasi wisata Al-Hada. Kawasan ini terkenal dengan jalur pegunungan yang berkelok, tebing-tebing curam, serta wahana kereta gantung yang menawarkan panorama spektakuler dari ketinggian.

Namun di balik keindahan alamnya, Thaif menyimpan sejarah penting dalam perjalanan dakwah Islam. Kota ini pernah menjadi tujuan Rasulullah SAW setelah menghadapi tekanan dan penolakan di Makkah.

Dalam berbagai riwayat sejarah Islam disebutkan bahwa Rasulullah datang ke Thaif untuk mengajak penduduknya memeluk Islam. Akan tetapi, dakwah tersebut ditolak. Bahkan Nabi Muhammad SAW mendapat perlakuan kasar berupa lemparan batu hingga menyebabkan tubuh beliau terluka dan berdarah.

Peristiwa tersebut menjadi salah satu episode paling menyedihkan dalam perjalanan dakwah Rasulullah. Namun dari kota inilah umat Islam belajar tentang kesabaran, keteguhan, dan kasih sayang Nabi dalam menghadapi penolakan.

Secara historis, Thaif memang memiliki posisi penting di wilayah Hijaz. Kota yang berada di ketinggian sekitar 1.520 meter di atas permukaan laut ini sejak lama dikenal sebagai daerah dengan iklim yang lebih sejuk dibandingkan Makkah dan Madinah. Pada masa lampau, kawasan ini menjadi tempat peristirahatan kalangan bangsawan Arab saat musim panas.

Sebelum Islam datang, Thaif juga merupakan pusat penyembahan berhala Al-Lat yang menjadi simbol kepercayaan masyarakat setempat. Karena itu, penolakan terhadap dakwah Islam pada masa awal menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah kota tersebut.

Kini, Thaif tidak hanya menjadi tujuan wisata dan ziarah bagi jamaah haji, tetapi juga menjadi ruang refleksi untuk mengenang perjuangan Rasulullah SAW dalam menyebarkan risalah Islam di tengah berbagai tantangan yang dihadapi.

M. Hariri, Media Center Haji 2026