Hari ini dunia mengenal sistem pengobatan besar seperti Traditional Chinese Medicine, Ayurveda, dan kedokteran Barat modern. Pertanyaan yang muncul: di mana posisi Nusantara? Padahal Nusantara memiliki biodiversitas terbesar, jalur rempah dunia, wilayah maritim luas, dan ribuan tahun peradaban kerajaan serta masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan alam tropis.
Logikanya sederhana: peradaban sebesar Nusantara mustahil tidak memiliki sistem pengobatan. Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Aceh, Bugis-Makassar, Mataram, Ternate, Tidore, hingga komunitas Dayak, Batak, Melayu, Papua, Bali, Sunda, Banjar, Sasak, Ambon, tentu menghadapi luka perang, wabah, penyakit tropis, persalinan, racun, patah tulang, dan kelelahan pelaut. Ilmu pengobatan pasti berkembang di sana.
Karena Nusantara terdiri dari ribuan pulau dengan kondisi alam berbeda, setiap wilayah hampir pasti memiliki tanaman obat, teknik penyembuhan, ramuan, dan pengetahuan kesehatan lokal. Pengobatan Nusantara bukan milik satu suku atau daerah, melainkan mosaik pengetahuan yang tersebar dari Sumatera hingga Papua.
Namun dunia tidak pernah mengenal istilah “Ilmu Kedokteran Nusantara”. Di sinilah kemungkinan adanya missing link. Pengetahuan pengobatan Nusantara kaya, tetapi tidak terkonsolidasi, tidak terdokumentasi nasional, diwariskan lisan, tersebar per suku dan kerajaan, bercampur budaya dan spiritualitas, lalu terputus akibat kolonialisme dan modernisasi.
Berbeda dengan Tiongkok yang menulis, mengarsipkan, dan membangun sekolah pengobatan timur, Nusantara mengalami penjajahan panjang, hilangnya manuskrip, runtuhnya pusat kerajaan, dan perubahan pola pikir yang membuat ilmu lokal dianggap kuno. Padahal jejaknya masih hidup sampai hari ini.
Hampir setiap wilayah Nusantara memiliki tradisi pengobatan sendiri. Jawa punya jamu, pijat urat, gurah, Sangkal Putung. Sumatera punya pustaha Batak, ramuan Melayu, minyak tradisional, kemenyan. Kalimantan dan Sulawesi punya pengetahuan akar hutan, racun dan penawarnya, minyak Bugis-Makassar, pengobatan pelaut. Bali punya Lontar Usada, boreh, loloh. Nusa Tenggara, Maluku, Papua punya ramuan savana, tanaman pegunungan, dan teknik hutan yang belum banyak diteliti modern.
Seluruh Nusantara sebenarnya adalah “laboratorium hidup” yang sangat besar. Sayangnya semua berjalan sendiri-sendiri dan tidak pernah disusun menjadi arsitektur ilmu kesehatan Nusantara yang utuh.
Jamu adalah warisan farmasi Nusantara yang masih bertahan. Bukan sekadar minuman tradisional, jamu adalah hasil pengamatan alam selama ratusan tahun. Kunyit, jahe, temulawak, kencur, serai, kayu manis, daun sirih, asam jawa, cengkeh, pala, dan ratusan tumbuhan lain menjadi bukti farmasi alami Nusantara. Banyak bahan ini kini diteliti dunia karena memiliki antioksidan, antiinflamasi, antibakteri, dan peningkat daya tahan tubuh.
Indonesia adalah salah satu negara dengan kekayaan hayati terbesar. Hutan Nusantara menyimpan ribuan tanaman obat, akar, getah, rempah, daun, dan resin yang belum seluruhnya diteliti. Masyarakat adat menggunakannya untuk demam, luka, infeksi, sakit perut, racun, persalinan, hingga pemulihan tenaga. Pertanyaannya: kalau semua itu ada, mengapa Indonesia belum jadi pusat riset herbal tropis dunia?
Barus di pantai barat Sumatera adalah pintu yang menghubungkan Nusantara dengan dunia kuno. Sejak dulu Barus penghasil kapur barus dan kemenyan. Catatan Ptolemaeus abad ke-2 M sudah menyebut Barus sebagai bandar dagang penting. Jauh sebelum VOC, Barus masuk jaringan perdagangan internasional.
Dalam tradisi Kristen, kelahiran Yesus disertai hadiah emas, mur, dan kemenyan. Bahan aromatik itu bernilai tinggi untuk ritual, pengobatan, pengharum, dan pembalseman. Jalur perdagangan kuno menghubungkan Arab, Persia, India, Asia Tenggara, dan Nusantara. Barus adalah salah satu simpul penting perdagangan aromatik dunia, bukti Nusantara sudah masuk jaringan global jauh sebelum era modern.
Mungkin Nusantara tidak kekurangan ilmu, tetapi kehilangan ingatan. Barus, jamu, Sangkal Putung, pustaha Batak, Lontar Usada Bali, pengobatan Dayak, ramuan Bugis, pengetahuan Melayu, hingga tanaman obat Papua menunjukkan Nusantara pernah memiliki pengetahuan kesehatan tropis, pengobatan herbal, teknik penyembuhan, dan jaringan perdagangan kesehatan dunia. Missing link terbesar Indonesia bukan hilangnya tanaman obat, melainkan hilangnya kepercayaan bangsa terhadap warisan pengetahuannya sendiri.
Jakarta, Kamis Kliwon, 28 Mei 2026.
Oleh Brigjen (Purn) MJP Hutagaol ’86’, dinarasikan oleh Guntur Bisowarno, Ketua Apoteker Saintifikasi Jamu Indonesia (ASJI)




