Surabaya, jurnal9.tv – Di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim dan kerusakan lingkungan, muncul sebuah gagasan inovatif berbasis ekonomi hijau yang melibatkan masyarakat. Inovasi ini diperkenalkan dalam Kuliah Tamu Antropologi Ekologi yang diselenggarakan oleh Departemen Antropologi dan Laboratorium Manusia, Budaya, dan Ragawi (Maburag) FISIP Universitas Airlangga. Mengusung tema inspiratif “Memanen Karbon, Menuai Sarjana: Rekayasa Ekosistem Dalam Mewujudkan Ekonomi Sirkular dan Inovasi Sosial.” Kuliah tamu ini menyoroti bagaimana dinamika dan proses pelestarian lingkungan sekaligus hilirisasi ekonomi yang dapat dimanfaatkan untuk penguatan sumber daya manusia.

“Antro Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi manusia dengan alam, maka penting merefleksikan inovasi karbon, dimana karbon dapat digunakan untuk meningkatkan kapital manusia yang tidak hanya berfokus pada alam, tetapi juga tujuan sosial.” Ujar Prof. Dr. H. Mohammad Adib, Drs., MA., mengawali Kuliah Tamu. “Tujuannya, adalah merefleksikan inovasi sosial melalui pengelolaan karbon yang hasilnya bisa berdampak bagi pengembangan serta penguatan sumber daya manusia, salah satu dampaknya adalah adanya program beasiswa pendidikan.” Papar Prof. Adib, yang sebagai Moderator dan penanggung jawab mata kuliah Antropologi Ekologi serta Koordinator Lab. MaBuRag di Ruang Adi Sukadana FISIP UNAIR, Senin (25/5).

Kegiatan kuliah tamu ini menghadirkan narasumber utama H. Mahrus Solikin, Penerima Penghargaan Kalpataru Tahun 2009, Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Rukun Maju Sejahtera, Kecamatan Puspo, Kab. Pasuruan dan Guntur Bisowarno, Apt., Ketua Satgas Peduli Mata Air Nusantara, serta stakeholder lain. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Mitra penelitian Riset Kolaborasi Jatim Melaju 2026, yakni Dr. Ahmad Sodiq dari UIN Tulungagung, dan tiga research asisten penelitian, yakni Nasywa Kaffa, Michael Anggi Hutauruk, dan Alya Wafa Indria.

“Yang dicanangkan untuk kuliah anak tiga ratus ini yang awalnya anak seratus itu dari hasil kebun saya. Kebun saya cuma satu hektar setengah, tetapi bisa membiayai seratus anak sampai lulus sarjana,” ujar H. Mahrus Solikin.

Dalam pemaparan, H. Mahrus Solikin menjelaskan bagaimana konsep bisnis karbon yang memiliki dampak untuk mendukung pendidikan masyarakat sekitar hutan melalui hasil pengelolaan kebun dan karbon. Hal tersebut terbukti efektif dengan berhasilnya membiayai pendidikan 100 anak yang terus berkembang menjadi 300 anak. Menurut beliau, hasil kebun ini memiliki dampak yang besar, saat dikelola dengan baik dan bijak.

Sejak tahun 1981, H. Mahrus Solikin mulai menanam pohon di lahan miliknya dan mengajak masyarakat sekitar untuk melakukan hal serupa. Dari upaya tersebut kemudian mendapatkan perhatian nasional hingga beliau diundang ke Istana Negara untuk dianugerahi penghargaan Kalpataru dari Presiden Soeharto pada tahun 1989. Perjalanan beliau semakin melebarkan sayap hingga dunia internasional dengan bekerja sama Jepang dan Australia, melalui pengembangan konservasi lingkungan dan penguatan sumber daya alam masyarakat.

“Kerja sama dengan Jepang membuka peluang perdagangan karbon yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Dalam skema perdagangan karbon internasional ini saya ikut andil dalam penandatanganan kerja sama terkait usaha karbon. Gagasan inovatif berdagang karbon dari kebun dapat dimanfaatkan untuk membiayai pendidikan santri dan mahasiswa, sampai lulus.” Ujar Kakek berusia 80 tahun ini kepada Mitranya, seorang Profesor dari Jepang.

Saat ini, H. Mahrus telah membudidayakan sekitar enam hektar lahan dengan berbagai jenis tanaman serta melalui program PUSPA (Pusat Unggulan Sumber Daya Alam) telah mensinergikan pemangku-pemangku kepentingan pemerintah, instansi pendidikan, dan media massa. Hasil pengelolaan karbon memberikan dampak berupa 100 lebih santri memperoleh biaya pendidikan.

Bersama LMDH Cemara Indah dan Satgas Peduli Mata Air Nusantara, H. Mahrus Solikin juga mengembangkan gerakan penghijauan berbasis konservasi air dan udara. Menurutnya, lahan apapun dapat ditanami selama memiliki tujuan menjaga keseimbangan ekosistem. Gagasan tersebut kemudian membuka diskusi lebih luas mengenai hubungan antara lingkungan dan pendidikan.

Saat membahas proyek pengembangan karbon berbasis perguruan tinggi. H. Mahrus mengusulkan agar Universitas Airlangga memanfaatkan lahan milik kampus di Pasuruan, termasuk lahan Jabonan dan Wonosalam sebagai pilot project penanaman dan pengelolaan karbon secara mandiri. Menurutnya, model tersebut dapat menjadi contoh perguruan tinggi lain dalam mengembangkan program lingkungan ramah masyarakat, terutama di Jawa Timur.

Dalam sesi tanya jawab, mahasiswa menyoroti kemungkinan perubahan cara pandang terhadap alam akibat perdagangan karbon. Pertanyaan diajukan oleh Salwa Nur Azizah dan Andhini Hanza, Mahasiswa Antropologi Angkatan 2023, mengenai risiko alam yang hanya dipandang sebagai aset ekonomi jika konservasi karbon terus dikaitkan dengan keuntungan finansial dan kerja sama internasional.

“Tidak semua kebun otomatis masuk ke dalam proyek perdagangan karbon. Terdapat aspek sosial dan politik masyarakat yang turut andil dalam keberhasilan pengelolaan lingkungan. Masyarakat tidak boleh berfokus pada satu komoditas, tetapi bisa mengembangkan jenis tanaman lainnya.” Tanggapan H. Mahrus atas pertanyaan tersebut. “Masyarakat bisa menciptakan gaji bulanan sendiri dari hasil kebun dan berbagai komoditas yang ditanam,” imbuh H. Mahrus Solikin.

Fotosintesis

“Fotosintesis melibatkan empat unsur utama, yakni cahaya matahari, air, karbondioksida (CO₂), dan klorofil pada tanaman. Dalam konteks kredit karbon, karbondioksida menjadi perhatian utama karena meningkat akibat aktivitas industri modern. Peserta kuliah tamu diajak memahami bahwa berbagai tanaman berklorofil, mulai dari rumput hingga pohon besar memiliki kemampuan untuk menyerap CO₂ dan dapat mengubah menjadi biomassa dan oksigen.” Ujar Guntur Bisowarno, Apt., mengenai proses fotosintesis dan kaitannya dengan bisnis karbon. “Strategi penanaman jangka panjang mencontohkan penerapan strategi ketahanan pangan melalui metode tumpang sari. Petani menanam beringin, bambu nunggu 5-10 tahun mangan opo. Makanya tanaman tumpang sari, terong mayu, bayem mayu, inilah strateginya,” ujar Guntur.

Narasumber mengajak peserta untuk mulai menanam di lahan yang tersedia dan melihat potensi besar wilayah tropis Indonesia dalam menjaga keberlanjutan udara dan air. Program pengelolaan karbon berbasis masyarakat yang dipaparkan dalam kuliah tamu ini dinilai sejalan dengan beberapa poin Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang pendidikan berkualitas melalui pembiayaan beasiswa, SDG 13 tentang penanganan perubahan iklim melalui perdagangan karbon, serta SDG 15 tentang pelestarian ekosistem daratan melalui penghijauan dan pengelolaan hutan berkelanjutan. Selain itu, keterlibatan perguruan tinggi, pemerintah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan juga mencerminkan implementasi SDG 17 mengenai kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. (Nasywa-Anggi/*)