Beberapa hari lalu, pelanggan berdiri, mendorong kursinya ke belakang, lalu berjalan menuju pintu keluar. Rupiah melemah. Dana asing keluar. Semua orang mulai melirik ke arah kasir.
Minggu ini, Bank Indonesia kembali menaikkan suku bunga. Tambahan 25 bps, membawa BI-Rate menjadi 5,50%. Suku bunga naik. Yield naik. Biaya ikut naik.
Hari ini, pelanggan itu masuk lagi ke warteg. Bukan karena makanannya tiba-tiba berubah. Bukan karena semua masalah sudah selesai. Tetapi karena pemilik warteg membuat orang sedikit lebih betah untuk tinggal, merapikan meja, dan mengingatkan bahwa warung ini masih buka dan siap melayani.
Rupiah menguat 129 poin. Bagus. Memang itu tujuannya. Dan sebenarnya, langkah-langkah minggu ini tidak pernah benar-benar soal inflasi. Ini soal membangun kembali kepercayaan.
Tapi mungkin bukan kenaikan suku bunga saja yang dilihat pasar. Bisa jadi pasar sedang merespons sesuatu yang sudah lama tidak terlihat: sinyal bahwa kebijakan moneter, fiskal, dan energi mulai bergerak ke arah yang sama.
Dan menariknya, semua ini terjadi pada hari yang sama ketika harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Pelanggan yang tadi kembali ke warteg juga sedang menghitung tagihan bensin yang lebih mahal.
Pasar menghitung dalam basis poin. Rumah tangga menghitung dalam liter. Kalau melihat infografiknya dengan saksama, kenaikan suku bunga hanyalah satu bagian dari paket kebijakan. Pada saat yang sama, repo window dibuka kembali, dukungan likuiditas diperluas, dan pertumbuhan uang primer masih ditargetkan di atas 10 persen.
Rem dan gas ditekan bersamaan. Mungkin itu bauran kebijakan yang seimbang. Mungkin juga itu tanda bahwa pembuat kebijakan sedang berusaha menyelesaikan dua masalah sekaligus. Pasar tampaknya masih belum memutuskan interpretasi mana yang lebih meyakinkan.
Pemilik warteg yang berpengalaman tahu bedanya pelanggan yang kembali hanya untuk minum es teh dan pelanggan yang memutuskan makan di situ setiap hari. Jawaban itu butuh waktu. Pertanyaan fiskal masih ada. Defisit transaksi berjalan masih ada. Danantara masih membutuhkan jawaban. Gejolak global juga tidak sedang menunggu siapa-siapa.
Hari ini, Bank Indonesia berhasil membeli sedikit waktu. Sekarang pertanyaannya bukan apa yang akan terjadi, melainkan apa lagi yang perlu dilakukan agar kepercayaan ikut kembali.
Suku bunga naik. Yield naik. Biaya ikut naik. Mari kita lihat apakah ini berhasil. Opportunity attracts. Credibility makes it stay.
Oleh.Harry Baskoro, The Warteg Economist




