Banyuwangi, jurnal9.tv – Di tengah tekanan geopolitik global dan pelemahan nilai tukar rupiah, industri pengolahan ikan sarden di Jawa Timur menunjukkan daya tahan yang kuat. Hal itu ditandai dengan pelepasan ekspor sebanyak 270 ton sarden kaleng dari kawasan Muncar, Banyuwangi, yang akan dipasarkan ke sejumlah negara di Eropa dan Afrika.

Pelepasan ekspor dilakukan oleh Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Nilai ekspor produk perikanan tersebut mencapai sekitar Rp10 miliar, sekaligus menjadi bukti bahwa industri perikanan Jawa Timur tetap mampu bersaing di pasar internasional meski kondisi ekonomi global masih penuh tantangan.

Khofifah mengatakan, ekspor ini menjadi sinyal positif bagi sektor perikanan Jawa Timur. Menurutnya, produk olahan hasil laut dari Banyuwangi memiliki kualitas yang mampu memenuhi standar pasar ekspor.

“Ini menunjukkan bahwa produk perikanan Jawa Timur tetap memiliki daya saing yang tinggi dan dipercaya pasar internasional,” ujarnya.

Ia menambahkan, kawasan Muncar selama ini dikenal sebagai salah satu sentra industri pengolahan ikan terbesar di Indonesia. Keberhasilan menembus pasar Eropa dan Afrika diharapkan dapat memperluas peluang ekspor ke negara lain sekaligus meningkatkan kesejahteraan nelayan dan pelaku industri pengolahan ikan.

Khofifah juga mengapresiasi seluruh pelaku usaha yang terus menjaga kualitas produk di tengah dinamika ekonomi global. Menurutnya, konsistensi mutu menjadi kunci agar produk Indonesia tetap diminati di pasar internasional.

Ekspor senilai Rp10 miliar ini diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap peningkatan devisa negara sekaligus memperkuat posisi Jawa Timur sebagai salah satu daerah penggerak ekspor nasional, khususnya di sektor perikanan.

Dengan pelepasan ekspor tersebut, industri pengolahan sarden di Banyuwangi kembali membuktikan bahwa produk lokal memiliki daya saing global dan mampu membuka pasar baru di berbagai belahan dunia.