Sleman, Jurnal9.tv – Jajaran Badan Pelaksana Penyelenggara Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (BP3MNU) beserta Kepala Madrasah dari Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif NU Dadapan, Solokuro, Lamongan, berkomitmen penuh untuk meningkatkan mutu pendidikan dan tata kelola madrasah.
Komitmen tersebut ditegaskan saat mereka menyukseskan agenda Rapat Kerja (Raker) bersama seluruh kepala madrasah/sekolah se-Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Solokuro. Kegiatan strategis yang mengusung tema “Menguatkan Ilmu, Meneguhkan Ideologi Aswaja” ini ditempatkan langsung di Pondok Pesantren Minggir, Sleman, Yogyakarta, yang diasuh oleh ulama kondang KH. Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq).
Kehadiran para pejuang pendidikan dari Solokuro, khususnya delegasi dari LP Ma’arif NU Dadapan, disambut hangat oleh Gus Muwafiq. Dalam forum raker tersebut, orator ulung NU ini memberikan arahan, wejangan, serta motivasi mendalam yang membakar semangat para peserta.
”Pendidikan Ma’arif NU harus fokus pada penguatan fondasi ilmu dan peneguhan ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) di lingkungan madrasah,” dawuh Gus Muwafiq.
Merujuk pada jalannya pertemuan, Gus Muwafiq menekankan pentingnya menjaga kedisiplinan dan keutuhan ilmu. Kekuatan utama pendidikan Nahdlatul Ulama terletak pada konsistensi dalam menjaga sanad dan mutu ilmu, di mana seluruh instrumen keilmuan di lingkungan NU terbukti nyata dan tetap terawat utuh hingga saat ini.
Di samping menjaga orisinalitas tradisi, sikap keterbukaan (tanfuthah/inklusif) NU justru dinilai semakin kuat. Gus Muwafiq menggarisbawahi bahwa NU tidak pernah menutup diri dari perkembangan zaman. Keterbukaan ini membuat NU selalu luwes dalam merangkul berbagai elemen, menerima akulturasi budaya yang baik, serta siap berkolaborasi dengan kemajuan global tanpa kehilangan jati diri.
Terkait pengembangan kurikulum, fokus utama pendidikan di NU adalah mempersiapkan anak didik pada kemampuan dasar (basic) yang dapat di-upgrade. Fondasi dasar yang kuat ini nantinya sangat fleksibel dan siap dikembangkan demi menjawab kebutuhan masa depan, sejalan dengan visi dan arah kurikulum kebangsaan agar generasi muda NU siap bersaing di skala nasional maupun global.
Hal yang paling monumental adalah penegasan Gus Muwafiq mengenai karakter lulusan, di mana ia memberikan garansi moral bahwa produk Ma’arif NU bersih dari radikalisme. Pola pengajaran yang berlandaskan Aswaja terbukti melahirkan generasi yang moderat.
”Hasil produk pendidikan di Ma’arif NU tidak ada satupun yang menjadi teroris,” tegas Gus Muwafiq di hadapan peserta raker, memantapkan komitmen madrasah sebagai benteng utama moderasi beragama (tawassuth).
Menghadapi ketidakpastian dunia modern, madrasah-madrasah Ma’arif NU—termasuk di wilayah Dadapan—dituntut untuk menyiapkan SDM tangguh di segala kondisi. Output pendidikan harus mampu mencetak tenaga manusia yang siap pakai dengan kelenturan, kemandirian, dan ketangguhan mental yang kuat.
Terakhir, Gus Muwafiq menyoroti tantangan teknologi informasi. Beliau mendorong agar insan pendidikan Ma’arif mampu menjadi ensiklopedia pengetahuan di era digital. Penguasaan digitalisasi harus diarahkan sebagai wadah literasi yang luas dan positif, guna membimbing para santri agar tidak tersesat oleh arus informasi yang keliru atau hoaks.
Keikutsertaan aktif BP3MNU dan Kepala Madrasah Ma’arif NU Dadapan dalam raker di Minggir, Yogyakarta ini diharapkan membawa suntikan energi baru sekembalinya ke daerah asal.
Semangat menguatkan ilmu, penguatan kemampuan dasar anak didik yang adaptif, serta tekad meneguhkan ideologi Aswaja dari Gus Muwafiq ini akan menjadi modal utama untuk melejitkan tata kelola serta mutu pendidikan di madrasah-madrasah Solokuro.




