Lumajang, jurnal9.tv – RSUD dr. Haryoto Lumajang memastikan seluruh layanan tetap berjalan dengan sistem work from office (WFO), meskipun terdapat instruksi work from home (WFH) di sejumlah sektor.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur RSUD dr. Haryoto Lumajang, dr. Yanna Susanti, menegaskan bahwa seluruh pegawai, baik yang bertugas langsung melayani pasien maupun di bagian manajemen, tetap masuk kerja seperti biasa.

“Jadi kami semua tetap masuk dan tidak menerapkan WFH, baik yang berhubungan langsung dengan pasien maupun di struktural manajemen,” ujarnya.

Menurutnya, kebijakan tersebut diambil karena banyak pekerjaan di rumah sakit yang tidak memungkinkan dilakukan di luar area kerja. Dengan sistem WFO, koordinasi antar tenaga medis dan manajemen dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.

“Banyak hal yang harus diputuskan secara langsung dan membutuhkan respon cepat saat itu juga,” tambahnya.

Di sisi lain, RSUD dr. Haryoto juga telah menerima alat kesehatan baru pada akhir tahun 2025 kemarin. Namun hingga kini, alat tersebut belum dapat dioperasikan karena masih menunggu persetujuan dari BPJS Kesehatan.

Pihak rumah sakit menyebutkan, kesiapan operasional sebenarnya telah terpenuhi. Bahkan, perawatan alat sudah dilakukan secara optimal, termasuk menjaga suhu ruangan agar perangkat tetap dalam kondisi baik.

“Untuk menjaga alat tetap berfungsi optimal, salah satunya kami menjaga suhu ruangan sesuai standar,” jelas dr. Yanna.

Persetujuan dari BPJS Kesehatan menjadi faktor penting, terutama terkait penjaminan biaya pasien. Mengingat mayoritas pasien RSUD dr. Haryoto merupakan peserta BPJS, seluruh operasional alat harus mendapat persetujuan agar dapat digunakan secara maksimal.

“Harapannya, pasien bisa ter-cover BPJS. Karena itu, BPJS akan menilai kelayakan dari sisi pembiayaan,” imbuhnya.

RSUD dr. Haryoto menargetkan alat kesehatan baru tersebut dapat mulai beroperasi pada tahun ini. Peralatan itu nantinya akan digunakan untuk layanan intervensi tardiologi dan neurologi, seperti pemasangan ring jantung dan penanganan pembuluh darah otak.

“Insyaallah dalam waktu dekat, targetnya tahun ini sudah bisa operasional,” pungkas dr. Yanna.( Ard )