Dalam perjumpaan dengan sejumlah peserta didik di berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta yang ada di ibukota negara maupun di propinsi, banyak hal yang mempertanyakan mengenai kondisi global yang kini ditandai dengan masih maraknya peperangan di sejumlah Kawasan. Konflik tersebut seakan menjalar ke Kawasan lain baik berupa dampak perang fisik maupun dampak sosial ekonomi dan bahkan budaya suatu negara.

Pertanyaan demikian, tidaklah mudah dijawab tanpa menyampaikan kembali sejumlah fakta dan pengamatan kita terhadap sumber masalah yang seakan-akan tidak pernah padam, yakni tidak adanya atau belum utuhnya pemahaman bersama terhadap arti hidup berdampingan baik antara manusia dan manusia ataupun manusia dengan lingkungannya. Dengan demikian hubungan antara manusia dan Sang Penciptanya mungkin menjadi nomor yang kesekian atau bahkan dinihilkan.

Asumsi di atas semakin mendapatkan kebenaran mengingat pertumbuhan jumlah manusia di dunia semakin cepat yang mengakibatkan kebutuhan untuk menopang kehidupan manusia tersebut sangatlah bervariasi bergantung pada kondisi alam lingkungannya. Kalaulah manusia tersebut berada di lingkungan Sub Tropis tentu kebutuhannya berbeda dengan mereka yang hidupnya tropis. Kondisi normal ini pun telah menjadikan faktor pemicu terjadilah interaksi antara Kawasan yang sub tropis dengan Kawasan yang tropis guna saling bisa menopang kebutuhan satu sama lain.

Sementara interaksi itu berjalan, secara kumulatif interaksi itu pun cenderung mengarah ke proses perubahan iklim yang tidak kondusif dan tidak ideal bagi keberlangsungan hidup alam lingkungan mengingat landasan interaksi yang dilakukan sejauh ini berbasis pada pemanfaatan energi fosil yang secara signifikan pun berdampak pada lingkungan sekitar dimana manusia hidup.

Lebih luas lagi, dampak tersebut menjadikan kwalitas lingkungan semakin menurun sehingga kebutuhan makhluk hidup lain seperti hewan dan tumbuhan serta kehidupan mikrobiologi pun terdampak . Tidak heran terdengar pada suatu Kawasan banyak ditemukan segerombolan ataupun sekelompok hewan yang berhabitat di hutan-hutan merambah ke kota-kota dan mengancam keamanan manusia. Pada saat yang bersamaan keberadaan flora dan fauna semakin terdampak maka kwalitas udara, kesuburan tanah dan kejernihan air sungai pun cenderung berubah.

Interaksi di atas saling terkait sehingga kekuatan produksi suatu negara untuk memenuhi kebutuhan penduduknya harus disesuaikan dengan ketersediaan asset baik sumber daya manusia maupun sumber daya alam yang memunculkan pula gerakan-gerakan kesadaran untuk memecahkan permasalahan secara idealis maupun pragmatis.

Malangnya, perputaran dunia saat ini menuju pada suatu proses penghancuran global dengan adanya berbagai pemanfaatan teknologi yang bersifat perusak massal, khususnya di dalam periode konflik. Proses interaksi yang semakin destruktif ini sudah barang tentu akan berdampak pada stabilitas suatu negara di dunia karena saat ini hampir dipastikan tidak ada di dunia ini yang tidak terkoneksi. Kondisi terkoneksi yang sebetulnya membuka peluang untuk pembentukan jejaring kerja yang konstruktif.

Pergerakan permukaan bumi yang secara evolusi telah menjadikan dataran dan lautan di bumi dan angkasa di atas menjadi terbagi ke dalam kawasan-per kawasan di bawah suatu rezim pengaturan. Kondisi dirasa absurd mengingat perbedaan tingkat penguasaan teknologi informasi dan persenjataan suatu negara berbeda-beda. Dalam situasi seperti ini seyogyanya perbedaan ini terus dijembatani untuk terkoneksi secara benar dan sah. Namun saat ini pun tingkat penguasaan teknologi informasi dan persenjataan telah menjadi salah satu kunci dan strategi untuk membuat suatu negara terjerambab dalam suatu krisis berkepanjangan baik krisis ekonomi bahkan krisis peperangan.

Situasi dan kondisi di atas menjadi obyek diskusi yang membawa kepada suatu pertanyaan bagaimana negeri kita berada dan bersikap guna menghadapi suatu kondisi yang seakan mengganggu proses pembangunan Indonesia. Saat ini secara riil Indonesia telah memiliki pinjaman luar negeri yang sangat fantastis dan dalam kondisi lingkungan yang bila kita sadari bersama sudah semakin terbatas. Dalam arti negeri yang disebut luas dan melimpah sumber daya alamnya serta disatukan oleh perairan yang luas pula semakin dipertanyakan kemanfaatannya bagi bangsa Indonesia sendiri.

Pertanyaan tersebut beralasan mengingat saat ini semakin santer terdengar berbagai konflik agraria dan pertambangan bahkan pemanfaatan wilayah pantai dan perairan, termasuk kepulauan-kepulauan yang apabila tidak dibuka secara transparan akan menjadikan Indonesia menjadi asing bagi rakyatnya sendiri.

Walhasil kesimpulan yang untuk sementara ini diperoleh adalah peran negara / pemerintah di dalam menciptakan suatu keseimbangan di dalam pemanfaatan alam lingkungan ini semakin sangat krusial serta tidak bisa dilakukan secara tertutup. Kebijakan strategic terkait suatu isu yang menjadi kebutuhan pokok menyangkut sandang pangan dan papan bagi masyarakat Indonesia yang kini sudah hampir mencapai 280 juta jiwa sudah tidak bisa ditawar-tawar lagi. Namun demikian, menyadari kondisi APBN dan APBD tentunya sangat terbatas, maka pengawasan terhadap pemanfaatan anggaran dan kegiatan pembangunan sudah semakin penting dan strategik guna menghindari gap antara dana dan kebutuhan yang diperlukan bagi pembangunan Indonesia dari ujung timur ke ujung barat begitupun dari ujang utara ke ujung selatan.

Isu pembangunan dalam negeri ini pun mau tidak mau berkorelasi dengan situasi geograpis Indonesia yang berbatasan dengan negara-negara lain baik perbatasan darat maupun laut. Maka, situasi dan kondisi pembangunan negara-negara di sekitar pun perlu menjadi rujukan bahkan menjadi sangat prioritas dengan tetap memperhatikan kondisi dunia global yang sudah semakin terkoneksi.

Bagi Indonesia, isu konektivitas ini sangatlah penting. Jangan sampai konektivitas nasional yang telah disegel (dalam arti menjadi komitmen bersama) dengan adanya Proses Sumpah Pemuda hingga ketetapan UUD 1945 terganggu oleh macetnya proses pembangunan dan juga infiltrasi negara lain baik yang berbatasan langsung maupun tidak berbatasan langsung mengingat perkembangan teknologi informasi dan persenjataan kini kian canggih. Jangan sampai istilah canggih itu buat bangsa kita sendiri berubah arti menjadi sebuah singkatan dari Bahasa Sunda , yakni Acan Kapanggih (belum ketemu/tercapai) hingga dikhawatirkan bila demikian berpotensi menjadikan bangsa kita menjadi ladang eksploitasi negara-negara yang berteknologi tinggi.

Kini generasi yang hidup saat ini dan ke depan dengan melihat proses sejarah perjuangan kemerdekaan generasi yang begitu heroik pun semakin sarat dengan tantangan yang tidak ringan baik di lingkup nasional, regional maupun global. Kita berharap generasi saat ini dan ke depan tetap menjadi benteng bagi Indonesia sebagai negara yang terkoneksi dengan karakter kebangsaan yang kuat guna mengantisipasi perubahan lingkungan bukannya malah menjadi elemen bangsa dan negara yang tidak terkoneksi bahkan terpecah-pecah dalam proses pemikiran dan pelaksanaan pembangunan sebagai suatu negara kesatuan.

Semoga diskusi ini menjadi bahan pemikiran dan masukan bagi kita semua warga negara Indonesia dimana pun berada. Wallahu’alam bi showab.

Oleh Moehammad Amar Ma’ruf, Penulis Buku Katulistiwa, Analis Politik Internasional