Gresik, jurnal9.tv – Momentum Hari Buku Nasional tahun ini membawa refleksi mendalam bagi dunia literasi di Kabupaten Gresik. Di tengah era digital akses informasi berada di ujung jari, eksistensi buku fisik sebagai “jendela dunia” kini mulai dipertanyakan keampuhannya dalam membentuk karakter masyarakat.
Dalam Forum Konsultasi Publik yang digelar oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Kabupaten Gresik, terungkap sebuah ironi yang cukup tajam mengenai potret literasi lokal. Jika beberapa dekade lalu tantangan terbesar bangsa adalah memberantas buta huruf, kini tantangan tersebut telah bergeser total.
Kepala Disperpusip Kabupaten Gresik, Budi Rahardjo, mengungkapkan bahwa saat ini hampir 100 persen masyarakat Indonesia sudah melek aksara. Namun, kemampuan membaca ini kerap kali bergeser ke arah yang keliru akibat polusi media sosial.
”Sekarang masyarakat tidak hanya bisa baca tulis, tetapi sudah kreatif. Kreatif memberi komen, kreatif di media sosial, hingga kreatif membully. Nah, itu kan bahayanya begitu ternyata sudah pintar,” sentil Budi dalam forum yang dihadiri oleh berbagai komunitas, penulis, pegiat taman baca, hingga guru mata pelajaran tersebut, Selasa (19/06/2026).
Kondisi ini diperparah dengan data statistik yang dimiliki oleh Disperpusip Gresik. Budi membeberkan bahwa meskipun jumlah kunjungan ke perpustakaan tercatat meningkat, angka peminjam aktif justru mengalami penurunan drastis hingga 31 persen.
“Uniknya, jumlah buku yang dipinjam oleh para pembaca setia justru naik 33 persen dengan rata-rata satu orang meminjam empat buku dari yang semula hanya dua buku,” bebernya.
Meskipun Indeks Kegemaran Membaca (IKM) di Gresik tahun 2025 sempat mencatatkan kenaikan, hal itu terjadi secara ironis karena rata-rata angka gemar membaca di wilayah Jawa Timur lainnya sedang merosot, sementara Gresik sendiri secara historis kerap berada di bawah rata-rata provinsi.
Menjawab kegelisahan birokrasi mengenai penurunan peminjam aktif tersebut, Founder Gresik Literasi sekaligus pemateri forum, Aristatira Mahardika Wardani, memberikan pandangan yang reflektif sekaligus solutif. Dengan tegas ia menyatakan bahwa buku fisik masih sangat relevan di era digital, namun fungsinya kini telah bergeser.
Relevansi buku di era modern, menurut Arista sapaan akrabnya, bukan lagi sekadar sebagai satu-satunya sumber informasi tercepat, melainkan sebagai wadah pelataran mental yang sehat.
”Relevansinya adalah buku menjadi satu-satunya media yang bisa membuat kita untuk duduk, fokus, dan memahami pemikiran orang lain secara mendalam,” ujar Arista.
Pengalaman kognitif dan psikologis seperti inilah yang menurutnya hilang ketika manusia modern beralih ke layar gawai. Ia mengungkapkan, kebiasaan membaca di media sosial yang cenderung berbentuk skimming (membaca cepat) atau scrolling tanpa henti memang menawarkan informasi instan.
“Berdasarkan penelitian, aktivitas digital tersebut justru mengaktifkan bagian otak lain yang memicu kecanduan, menurunkan konsentrasi, dan membuat seseorang selalu ingin cepat-cepat melewatkan (skip) informasi,”ungkapnya.
Sebaliknya, tambah Arista, membaca buku cetak menuntut keterlibatan emosional yang melatih otak untuk tenang, mengasah ketajaman fokus, dan yang terpenting menumbuhkan empati kepada sesama.
Lewat momentum Hari Buku Nasional ini, para pegiat literasi dan pemerintah daerah di Gresik sepakat bahwa tantangan ke depan bukan lagi sekadar membuat masyarakat mau membaca, melainkan mengembalikan esensi membaca itu sendiri.
”Pada akhirnya, ilmu bukan hanya tentang menjadi pintar. Tapi tentang bagaimana apa yang kita pelajari bisa membuat kita lebih bijak dan lebih bermanfaat untuk sekitar,”pungkasnya.




