Jombang, jurnal9.tv – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya meninjau langsung kesiapan arena Muktamar NU ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Rabu (26/8/2026).

Sebelum melihat sejumlah venue yang akan digunakan dalam rangkaian Muktamar, Gus Yahya terlebih dahulu sowan ke Ndalem Kasepuhan KH Chasbullah. Bangunan yang berada tepat di depan masjid tersebut kini ditempati Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, KH Abdullah Rozaq.

Pertemuan keduanya berlangsung hangat. Selain membahas kesiapan pelaksanaan Muktamar, perbincangan juga diwarnai sejumlah kelakar yang mencairkan suasana.

Usai sowan, Gus Yahya kemudian berkeliling meninjau sejumlah bagian arena Muktamar. Dalam peninjauan tersebut, ia memberikan sejumlah catatan teknis untuk memastikan pelaksanaan persidangan berjalan tertib dan dapat dipantau dengan baik.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah kebutuhan layar berukuran besar di setiap venue persidangan. Menurut Gus Yahya, layar tersebut diperlukan agar jalannya persidangan dapat dipantau secara langsung.

“Saya kira di setiap venue persidangan perlu ada layar besar yang bisa meninjau keberlangsungan persidangan, agar kelihatan baris mana yang ricuh, kelompok mana yang rusuh,” tutur Gus Yahya.

Selain fasilitas pemantauan, Gus Yahya juga menekankan pentingnya disiplin penggunaan mikrofon selama persidangan. Ia meminta peserta tidak menggunakan mikrofon sebelum mendapatkan kesempatan dari pimpinan sidang.

“Disiplin mic itu penting. Jangan biarkan orang pegang mic kecuali dipersilakan oleh pimpinan sidang,” tegasnya.

Pernyataan tersebut disepakati KH Abdullah Rozaq sebagai bagian dari upaya menjaga ketertiban selama persidangan berlangsung.

Dalam kunjungan tersebut, Gus Yahya juga mengomentari sejumlah bagian bangunan yang telah direvitalisasi untuk mendukung pelaksanaan Muktamar. Salah satunya adalah menara yang menurutnya kini menyesuaikan dengan desain logo Muktamar.

“Saya kira ini menara ini dipugar, jadi menara asli justru yang menyesuaikan desain logo Muktamar,” ujarnya disambut gelak tawa.

Pembicaraan kemudian berkembang pada sejarah Tambakberas dan sosok KH A. Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab. Gus Yahya mengungkapkan keyakinannya bahwa Mbah Wahab turut menjadi bagian dari perjalanan spiritual Muktamar NU ke-35 yang digelar di Tambakberas.

Ia bahkan mengenang pengalamannya ketika berziarah ke maqbarah Mbah Wahab.

“Saya kira Mbah Wahab yang menjadi wasilah Muktamar Tambakberas ini. Saya selalu matur ke Mbah Wahab, Mbah Wahab sudah pasrah ke Kiai Rozaq: ‘Wis awakmu turu ae, wis ono Kiai Rozaq,’” selorohnya.

Gus Yahya juga mengenang suasana makam Mbah Wahab yang selalu ramai didatangi peziarah dari berbagai daerah.

Ia menceritakan salah satu pengalaman ketika seorang peziarah asal Pati tiba-tiba menitipkan Gus Rozin untuk menjadi jalan tengah apabila terjadi persoalan dalam Muktamar.

“Pernah ada orang Pati tiba-tiba berbisik, titip Gus Rozin untuk jalan tengah kalau rusuh. Lah, ditunggoni Mbah Wahab kok rusuh,” lanjut Gus Yahya.

Suasana silaturahmi juga diwarnai kenangan terhadap almarhum KH Amanullah, anggota DPR RI periode 1999–2004. Gus Yahya mengingat salah satu ungkapan Kiai Amanullah mengenai karakter warga Jombang.

“Orang Jombang yang di Jakarta saja ruwet, apalagi yang di Jombang,” kata Gus Yahya sembari tertawa menirukan almarhum Kiai Amanullah.

Kunjungan Gus Yahya ke Tambakberas menjadi bagian dari rangkaian persiapan menjelang Muktamar NU ke-35. Selain memastikan kesiapan teknis venue dan persidangan, kunjungan tersebut juga memperlihatkan kuatnya keterkaitan sejarah dan tradisi kepesantrenan Tambakberas dengan perjalanan Nahdlatul Ulama.

Panitia dan pengurus pesantren terus mematangkan berbagai kebutuhan agar seluruh rangkaian Muktamar dapat berlangsung tertib, aman, dan lancar.