Tulungagung, jurnal9.tv – Komitmen untuk menghadirkan pendidikan tinggi Islam yang unggul, adaptif, dan berorientasi pada masa depan terus diperkuat oleh Program Studi Magister Aqidah dan Filsafat Islam (S2 AFI), Pascasarjana UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung. Komitmen tersebut diwujudkan melalui evaluasi Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) sebagai langkah strategis dalam memastikan kurikulum tetap relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, transformasi digital, dinamika sosial-budaya, serta kebutuhan masyarakat kontemporer.

Kegiatan evaluasi kurikulum dilaksanakan pada Rabu, 7 Oktober 2026, pukul 13.00–16.00 WIB, bertempat di Ruang Rapat Lantai II Gedung Pascasarjana UIN SATU Tulungagung. Kegiatan ini dihadiri oleh Direktur Pascasarjana, Prof. Dr. H. Ahmad Tanzeh, M.Pd.I., Wakil Direktur Pascasarjana, Prof. Dr. Erna Iftanti, S.S., M.Pd. serta Kepala Pusat Kurikulum dan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), Dr. Syaiful Hadi, M.Pd. Turut hadir para ketua dan sekretaris program studi, tenaga kependidikan, serta Kepala Bagian TU Pascasarjana.

Ketua Program Studi S2 AFI, Dr. H. Ahmad Nurcholis, M.Pd., yang akrab disapa Dr. Ois, mengikuti kegiatan tersebut dengan didampingi Sekretaris Program Studi, Dr. Abduloh Safik, M.Fil.I. Partisipasi keduanya menjadi bagian dari ikhtiar S2 AFI untuk terus memperkuat tata kelola akademik, menyelaraskan kurikulum dengan visi keilmuan program studi, dan meningkatkan kualitas kompetensi lulusan.

Evaluasi CPL: Melampaui Administrasi, Menguatkan Substansi Akademik
Dalam sambutan pembukaan, Direktur Pascasarjana memberikan arahan mengenai pentingnya evaluasi CPL sebagai instrumen strategis untuk memastikan bahwa penyelenggaraan pendidikan berjalan secara terarah, terukur, dan berorientasi pada mutu lulusan. Evaluasi kurikulum perlu ditempatkan sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga relevansi pendidikan tinggi sekaligus meningkatkan kualitas proses pembelajaran. Evaluasi CPL bukan sekadar kegiatan administratif atau penyempurnaan dokumen kurikulum. Lebih dari itu, evaluasi merupakan proses refleksi akademik untuk menilai keselarasan antara profil lulusan, rumusan kompetensi, bahan kajian, struktur mata kuliah, strategi pembelajaran, metode asesmen, dan kebutuhan nyata masyarakat.

Kurikulum yang berkualitas harus mampu mempertemukan dua kepentingan mendasar: menjaga kedalaman tradisi keilmuan Islam sekaligus merespons tantangan perubahan zaman. Oleh karena itu, CPL perlu dirumuskan secara jelas, terukur, relevan, dan dapat dibuktikan ketercapaiannya melalui proses pembelajaran serta asesmen yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam perspektif penjaminan mutu, evaluasi CPL menjadi landasan untuk mengidentifikasi kekuatan, menemukan aspek yang perlu diperbaiki, dan merumuskan langkah pengembangan kurikulum secara sistematis. Dengan pendekatan tersebut, kurikulum tidak berhenti sebagai rancangan tertulis, tetapi benar-benar menjadi pedoman dalam membentuk kompetensi, karakter, dan kapasitas intelektual mahasiswa.

Kaprodi S2 AFI: Memadukan Kedalaman Keilmuan dan Kompetensi Masa Depan
Ketua Program Studi S2 AFI UIN SATU Tulungagung, Dr. H. Ahmad Nurcholis, M.Pd., didampingi Sekretaris Program Studi Dr. Abduloh Safik, M.Fil.I., menempatkan evaluasi CPL sebagai momentum penting untuk memperkuat relevansi kurikulum sekaligus meneguhkan identitas keilmuan program studi.

Sejalan dengan visi, misi, tujuan, dan strategi (VMTS) program studi, pengembangan kurikulum S2 AFI harus mampu mempertahankan fondasi keilmuan Aqidah dan Filsafat Islam yang mendalam, kritis, dan sistematis. Pada saat yang sama, kurikulum perlu membuka ruang bagi pendekatan interdisipliner, inovasi pembelajaran, penguatan riset kontemporer, dan pemanfaatan teknologi digital secara bertanggung jawab.

Salah satu kekuatan yang perlu terus dikembangkan adalah distingsi Filsafat Islam–Jawa, yakni pengembangan kajian yang mempertemukan tradisi pemikiran Islam dengan khazanah pemikiran, kebudayaan, dan kearifan lokal Jawa. Distingsi ini berpotensi memperkaya ruang kajian akademik sekaligus menghadirkan perspektif kontekstual dalam memahami relasi agama, filsafat, budaya, dan persoalan kemanusiaan. Melalui distingsi tersebut, S2 AFI diharapkan tidak hanya memperkuat penguasaan tradisi intelektual Islam, tetapi juga mampu mengembangkan dialog kritis antara khazanah keislaman dan realitas kebudayaan masyarakat. Dengan demikian, identitas keilmuan program studi menjadi landasan bagi pengembangan penelitian yang khas, relevan, dan memiliki kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Aqidah dan Filsafat Islam tidak hanya berperan dalam membangun pemahaman teologis dan kemampuan berpikir filosofis, tetapi juga menyediakan perangkat intelektual bagi mahasiswa untuk membaca, menganalisis, dan merespons persoalan kemanusiaan, sosial, budaya, sains, serta teknologi. Karena itu, evaluasi CPL diarahkan untuk memastikan bahwa lulusan S2 AFI memiliki kompetensi yang utuh: kokoh dalam landasan keislaman, tajam dalam analisis, kuat dalam metodologi penelitian, produktif dalam menghasilkan karya ilmiah, serta mampu menawarkan pemikiran dan solusi akademik terhadap persoalan kontemporer.

Evaluasi ini sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkuat kesinambungan antara tujuan pembelajaran, pelaksanaan perkuliahan, penugasan akademik, penelitian tesis, dan luaran ilmiah mahasiswa. Setiap mata kuliah diharapkan memiliki kontribusi yang jelas terhadap pembentukan profil lulusan sehingga keseluruhan proses pendidikan bergerak menuju capaian kompetensi yang terintegrasi.

Menuju Kurikulum Adaptif, Interdisipliner, dan Futuristik
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut pendidikan tinggi untuk terus melakukan pembaruan. Dalam konteks tersebut, S2 AFI UIN SATU Tulungagung perlu mengembangkan desain kurikulum yang adaptif tanpa kehilangan akar tradisi dan identitas keilmuannya.

Pengembangan kurikulum ke depan membutuhkan integrasi antara substansi keilmuan, manajemen pembelajaran modern, pendekatan pedagogis inovatif, dan sistem asesmen berbasis capaian. Melalui pendekatan Outcome-Based Education (OBE), keberhasilan pendidikan tidak semata-mata diukur dari terselenggaranya perkuliahan, tetapi juga dari kemampuan mahasiswa menunjukkan kompetensi yang sesuai dengan CPL yang telah ditetapkan.

Arah pengembangan tersebut dapat diperkuat melalui lima dimensi strategis.

Pertama, penguatan fondasi keilmuan Aqidah dan Filsafat Islam. Mahasiswa perlu memiliki penguasaan yang mendalam terhadap sumber-sumber keislaman, tradisi pemikiran filosofis, metodologi kajian, serta kemampuan membangun argumentasi ilmiah yang logis, kritis, dan bertanggung jawab.

Kedua, pengembangan kompetensi penelitian dan publikasi ilmiah. Kurikulum perlu mendorong mahasiswa untuk mengidentifikasi persoalan penelitian yang relevan, menggunakan metodologi yang tepat, mengembangkan kebaruan ilmiah, dan menghasilkan karya akademik yang memberikan kontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.

Ketiga, penguatan pendekatan interdisipliner dan distingsi Filsafat Islam–Jawa. Dialog antara pemikiran Islam, filsafat, kebudayaan Jawa, dan kearifan lokal dapat menjadi basis pengembangan penelitian yang kontekstual. Pendekatan ini juga dapat diperluas untuk mengkaji moderasi beragama, etika, lingkungan hidup, kemanusiaan, transformasi sosial, serta dinamika peradaban kontemporer.

Keempat, transformasi pembelajaran berbasis teknologi digital. Pemanfaatan platform pembelajaran modern, sumber pengetahuan digital, dan teknologi kecerdasan buatan perlu diarahkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tanpa mengabaikan integritas akademik, ketajaman berpikir kritis, dan tanggung jawab etis.

Kelima, penguatan asesmen dan penjaminan mutu berkelanjutan. Keterkaitan CPL dengan mata kuliah, indikator ketercapaian, metode penilaian, dan hasil pembelajaran perlu dipetakan secara sistematis. Hasil evaluasi selanjutnya menjadi dasar perbaikan kurikulum berdasarkan bukti, masukan pemangku kepentingan, serta perkembangan kebutuhan akademik dan profesional.

Kelima dimensi tersebut diharapkan membentuk ekosistem pembelajaran yang lebih terarah, inovatif, dan responsif. Kurikulum tidak hanya menjadi instrumen untuk memenuhi standar pendidikan tinggi, tetapi juga menjadi strategi untuk membangun keunggulan akademik dan memperkuat daya saing lulusan.

Menghasilkan Akademisi Kritis dan Praktisi Budaya yang Berdaya Saing
Keberhasilan evaluasi CPL pada akhirnya harus tercermin dalam kualitas lulusan. Kurikulum yang baik tidak cukup hanya menghasilkan mahasiswa yang menguasai materi perkuliahan, tetapi juga perlu membentuk pribadi akademik yang mampu berpikir mandiri, meneliti secara sistematis, menyampaikan argumentasi secara bertanggung jawab, dan menghasilkan karya ilmiah yang bermanfaat.

Lulusan S2 AFI UIN SATU Tulungagung diharapkan memiliki kedalaman pemahaman keislaman, ketajaman analisis filosofis, kecakapan metodologis, integritas akademik, dan kemampuan merespons persoalan kontemporer secara kritis serta konstruktif.

Lebih jauh, penguatan distingsi Filsafat Islam–Jawa membuka peluang bagi lahirnya lulusan yang tidak hanya berkiprah sebagai akademisi, peneliti, dan pendidik, tetapi juga sebagai pengkaji, pengembang, dan praktisi kebudayaan yang mampu membaca dinamika masyarakat dengan perspektif keislaman dan filosofis yang mendalam.

Kompetensi tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan sosial dan budaya yang berlangsung cepat. Masyarakat membutuhkan sumber daya manusia yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas, mengembangkan dialog antara agama dan kebudayaan, serta menawarkan pendekatan yang bijaksana dalam menghadapi persoalan kontemporer.

Dalam persaingan pendidikan tinggi yang semakin terbuka, kualitas lulusan menjadi salah satu penopang reputasi program studi. Oleh sebab itu, hasil evaluasi CPL perlu ditindaklanjuti melalui perbaikan pembelajaran, penguatan kapasitas dosen, peningkatan kualitas penelitian, perluasan kolaborasi akademik, dan pengembangan budaya ilmiah yang berkelanjutan.

Dengan orientasi tersebut, S2 AFI tidak hanya berupaya menghasilkan lulusan yang memenuhi standar akademik, tetapi juga membentuk intelektual Muslim yang berintegritas, reflektif, kontekstual, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.