Jombang, jurnal9.tv – Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI PBNU) mendorong penguatan jejaring dan ekosistem pesantren di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Upaya tersebut salah satunya dilakukan melalui Halaqah Nasional RMI PBNU yang digelar di Pondok Pesantren An Najiyah, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Halaqah yang menjadi bagian dari Pesantren Fest RMI PBNU ini mengusung tema Membangun Jejaring Ekosistem Pesantren. Forum tersebut mempertemukan para pengurus RMI dari berbagai wilayah di Indonesia untuk memperkuat kolaborasi dan merumuskan langkah bersama dalam menghadapi tantangan pendidikan pesantren.

Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya KH Mustofa Bisri (Gus Mus) sebagai pembicara utama. Para Ketua RMI PWNU dari berbagai daerah juga turut hadir, mulai dari Jawa Timur, Sumatera Selatan hingga Papua.

Sekretaris RMI PBNU, Ulun Nuha, mengatakan pertemuan tersebut tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga bagian dari upaya membangun jejaring antarpesantren secara lebih kuat.

Menurut Gus Ulun, jejaring merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah perkembangan pesantren dan Nahdlatul Ulama.

“Pesantren lahir dari jejaring antarkiai dan ulama. Dari pesantren kemudian lahir Nahdlatul Ulama. Karena itu, pesantren adalah kecilnya NU dan NU menjadi rumah besar bagi pesantren.”

RMI PBNU juga menaruh perhatian besar terhadap peningkatan kualitas pendidikan pesantren, khususnya dalam menghadapi perkembangan teknologi. Salah satu yang menjadi perhatian adalah digitalisasi pendidikan, termasuk pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Transformasi digital dinilai perlu dilakukan tanpa menghilangkan karakter dan nilai-nilai kepesantrenan. Justru, teknologi diharapkan dapat menjadi instrumen untuk memperkuat kualitas pendidikan, memperluas jejaring, serta meningkatkan daya saing pesantren.

Gus Ulun berharap penguatan jejaring dan digitalisasi dapat membuat pesantren terus berkembang sebagai pusat pendidikan sekaligus pusat peradaban.

Dengan tetap berpegang pada nilai-nilai pesantren, RMI PBNU ingin mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya memiliki akhlak, tetapi juga cerdas, adaptif, dan mampu menghadapi tantangan zaman.

“Pesantren harus tetap relevan menjadi penjaga peradaban bangsa,” tegasnya.