‎Sidoarjo, jurnal9.tv – Komunitas Ruang Publik Sidoarjo (RPS) kembali menggelar tradisi Malam Ruwatan dan Tirakatan di Pendopo Delta Sabha DISPORAPAR Kabupaten Sidoarjo, Kamis (20/8/2026) malam.

‎Gelaran doa bersama ini diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Ke-81 Republik Indonesia sekaligus memohon keselamatan bagi bangsa dan daerah.

‎Acara tersebut dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, mulai dari organisasi masyarakat (ormas) keagamaan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), seniman, budayawan, insan media, hingga tokoh masyarakat setempat.

‎Sebagai wujud toleransi dan kebersamaan, RPS mengundang perwakilan pemuka dari tujuh lintas agama dan kepercayaan, yaitu Islam, Kejawen, Buddha, Hindu, Khonghucu, Katolik, dan Protestan. Sebanyak lima pemuka agama hadir langsung memimpin doa secara bergantian, sementara dua lainnya diwakili oleh pengurus dan anggota jemaat.

‎Ketua RPS, Sujani, S.OS., menjelaskan bahwa ruwatan dan tirakatan memiliki makna filosofis yang mendalam bagi masyarakat Jawa. Ruwatan disimbolkan sebagai proses pembersihan diri dari energi negatif (sengkala), sedangkan tirakatan merupakan bentuk perenungan batin serta ikhtiar doa yang berkelanjutan.

‎”Kita tidak tahu doa dari siapa yang dikabulkan. Semua tergantung dari ketulusan dan apa yang kita panjatkan bersama untuk kebaikan daerah dan negara kita,” ujar Sujani.

‎Sujani menekankan bahwa kegiatan ini merupakan gelaran kedua yang dilaksanakan oleh RPS. Berbeda dengan tahun sebelumnya, acara kali ini diselenggarakan secara mandiri melalui dana swadaya warga tanpa menyerap Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

‎”Alhamdulillah, untuk yang kedua kalinya ini kami mampu mandiri, tidak memakai APBD atau anggaran negara, melainkan hasil urunan dari teman-teman di grup Ruang Publik Sidoarjo,” tambahnya.

‎Ia menegaskan bahwa tradisi ini merupakan bentuk kewajiban moral warga yang menghargai sejarah serta jasa para pahlawan. Melalui momen ini, warga Sidoarjo diajak untuk saling menguatkan, mendoakan keselamatan wilayah, dan memanjatkan rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia.

‎RPS mengagendakan tradisi ruwatan dan tirakatan berbasis swadaya ini menjadi kegiatan rutin tahunan setiap bulan Agustus. Sujani juga berharap aksi kebudayaan dan kebangsaan ini dapat menginspirasi daerah lain dalam merawat tradisi lokal secara mandiri.(RK).