Dari ruang virtual menuju ruang belajar berbasis AI

Beberapa tahun lalu, pandemi Covid-19 memaksa guru berpindah dari ruang kelas ke ruang virtual dalam waktu yang sangat singkat. Guru belajar menggunakan Zoom, Google Meet, Google Classroom, dan beragam aplikasi digital sambil tetap memastikan pembelajaran berjalan. Pengalaman tersebut meninggalkan pelajaran penting: ketika perubahan datang, guru mampu beradaptasi jika memperoleh kesempatan untuk belajar dan dukungan yang memadai.

Kini pendidikan menghadapi gelombang perubahan berikutnya melalui artificial intelligence atau kecerdasan buatan. AI dapat membantu guru menyusun bahan ajar, mengembangkan variasi soal, mencari ide pembelajaran, menyiapkan media, sampai mempercepat sebagian pekerjaan administratif. Kemampuan itu memunculkan dua respons sekaligus. Sebagian guru melihat peluang, sedangkan sebagian lain masih merasa khawatir karena teknologi berkembang jauh lebih cepat daripada kebiasaan kerja di sekolah.

Pertanyaan yang sering muncul kemudian terdengar sederhana, tetapi sangat mendasar: apakah AI akan menggantikan guru? Pengalaman pengabdian bersama KKG Gugus Teratai Jepara menunjukkan bahwa pertanyaan tersebut perlu kita ubah. Tantangan yang lebih mendesak bukan menentukan apakah teknologi akan mengambil alih peran guru, melainkan memastikan guru mampu mengendalikan teknologi untuk memperbaiki kualitas pembelajaran.

Guru tetap memberi arah, AI membantu memperluas kemungkinan

Guru tidak hanya menyampaikan materi. Guru membaca kebutuhan murid, membangun motivasi, menanamkan nilai, mengelola interaksi sosial, dan mengambil keputusan pedagogis berdasarkan konteks kelas. AI dapat menghasilkan teks atau gambar dengan cepat, tetapi guru tetap menentukan apakah hasil itu sesuai dengan tujuan pembelajaran, karakter peserta didik, dan nilai yang ingin dikembangkan.

Karena itu, kesiapan digital tidak cukup kita ukur dari kemampuan mengoperasikan perangkat. Kesiapan digital mencakup kemampuan memahami fungsi teknologi, memilih alat yang tepat, mengevaluasi keluaran AI secara kritis, menjaga etika penggunaan, serta mengintegrasikannya ke dalam pembelajaran. Guru yang memiliki kesiapan seperti ini tidak sekadar menjadi pengguna aplikasi. Mereka bertindak sebagai pengambil keputusan yang mampu menempatkan teknologi sebagai alat bantu pedagogis.

Menghubungkan AI dengan pembelajaran mendalam

Kebutuhan tersebut semakin penting ketika sekolah mendorong pembelajaran mendalam atau deep learning. Pembelajaran tidak lagi berhenti pada kemampuan mengingat informasi. Guru perlu mengajak murid memahami konsep, menghubungkan pengetahuan dengan persoalan nyata, berdiskusi, memecahkan masalah, dan membangun refleksi. Proses seperti ini menuntut kreativitas guru dalam merancang pengalaman belajar yang relevan.

Dalam konteks itu, AI dapat berfungsi sebagai rekan kerja. Guru dapat memanfaatkannya untuk menghasilkan alternatif contoh kontekstual, menyusun pertanyaan pemantik, memodifikasi tingkat kesulitan soal, menyiapkan rancangan aktivitas, atau memperoleh inspirasi untuk media pembelajaran. Namun, guru tetap perlu memeriksa akurasi, kesesuaian bahasa, nilai, serta konteks lokal sebelum menggunakan hasil AI di kelas. Pola kerja ini menggeser posisi guru dari sekadar penerima teknologi menjadi kurator dan perancang pembelajaran.

Pengabdian yang berangkat dari kebutuhan nyata guru

Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim dosen Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara melalui Program Pengabdian Kemitraan Masyarakat yang didukung Hibah DPPM Kemendiktisaintek Tahun 2026 menggandeng KKG Gugus Teratai Jepara. Program ini mengusung tema “Penguatan Digital Readiness dan Pembelajaran Deep Learning melalui Smart Learning Based Artificial Intelligence pada KKG Gugus Teratai Jepara”.

Kegiatan tidak berhenti pada penjelasan konseptual mengenai AI. Guru memperoleh kesempatan untuk mencoba pemanfaatan AI dalam pekerjaan yang dekat dengan keseharian mereka, seperti menyiapkan perangkat ajar, menyusun soal, mengembangkan media, dan mencari gagasan pembelajaran. Pendekatan praktik langsung menjadi penting karena jarak antara “mengetahui teknologi” dan “mampu menggunakannya” sering kali cukup lebar.

Selama pendampingan, tim menemukan bahwa hambatan utama tidak selalu berasal dari kerumitan teknologi. Persepsi awal justru sering menjadi penghalang. Sebagian guru semula melihat AI sebagai sesuatu yang rumit dan sulit diterapkan. Setelah mencoba, mereka mulai melihat fungsi yang lebih konkret. Perubahan cara pandang tersebut menjadi langkah awal yang penting karena rasa percaya diri tumbuh ketika guru mengalami sendiri manfaat teknologi dalam tugas yang mereka pahami.

SaLibA, dari pelatihan sesaat menuju ruang kolaborasi

Program ini juga mengembangkan Smart Learning Based Artificial Intelligence atau SaLibA sebagai ruang kolaborasi digital bagi guru. SaLibA tidak hanya menempatkan AI sebagai fitur teknologi, tetapi juga menghubungkannya dengan kebutuhan berbagi sumber belajar dan pengembangan profesional. Melalui ruang tersebut, guru dapat bertukar perangkat ajar, berdiskusi, mengakses sumber belajar, dan memanfaatkan fitur berbasis AI untuk mendukung perencanaan pembelajaran.

Kehadiran ruang kolaborasi menjadi penting karena transformasi digital tidak akan bertahan jika hanya bergantung pada satu kali pelatihan. Guru membutuhkan tempat untuk kembali bertanya, membandingkan praktik, mencoba gagasan baru, dan belajar dari pengalaman sejawat. Dalam kerangka ini, KKG memiliki posisi strategis. KKG dapat berkembang dari forum pertemuan rutin menjadi komunitas belajar profesional yang menjaga proses adaptasi teknologi secara berkelanjutan.

Teknologi berubah cepat, kapasitas guru harus tumbuh lebih cepat

Pengalaman bersama KKG Gugus Teratai Jepara memberi satu pesan kuat: transformasi pendidikan sangat bergantung pada kesiapan manusia yang menggunakannya. Sekolah dapat memiliki perangkat dan aplikasi yang canggih, tetapi inovasi tidak akan berarti banyak jika guru tidak memiliki ruang untuk belajar, mencoba, melakukan refleksi, dan berbagi pengalaman.

Karena itu, penguatan kapasitas guru perlu berjalan seiring dengan pengembangan teknologi. Program pengabdian seperti ini memiliki nilai bukan hanya ketika peserta mampu mengoperasikan alat baru, tetapi ketika kegiatan mendorong perubahan cara berpikir, memperkuat kepercayaan diri, dan menumbuhkan kebiasaan kolaboratif. SaLibA dan KKG dapat menjadi jembatan agar proses tersebut terus bergerak setelah sesi pelatihan selesai.

Pada akhirnya, masa depan pendidikan tidak ditentukan oleh seberapa banyak teknologi yang hadir di sekolah. Masa depan pendidikan ditentukan oleh kualitas keputusan yang dibuat guru ketika menggunakan teknologi untuk membantu murid belajar lebih baik. AI dapat mempercepat pekerjaan dan membuka pilihan baru, tetapi guru tetap memberi arah, konteks, makna, dan nilai. Di era kecerdasan buatan, guru yang mampu menggunakan AI secara kritis dan bertanggung jawab akan memiliki lebih banyak ruang untuk berinovasi dan menghadirkan pembelajaran yang bermakna.

Oleh Hamidaturrohmah, M.Pd., Dosen Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara