Salah satu ulama ‘paku bumi’ di kawasan Timur Jawa yang layak dikenang dan dan dikenal bagi generasi kini, khususnya apa yang disebut Generasi Z (Gen Z) adalah Kiai Karim Sepuh, Pasuruan. Beliau adalah sosok Kyai yang Alim, dilahirkan di Desa Bendungan kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan pada tahun 1303 Hijriyah atau sekitar tahun 1885 dalam hitungan Masehi
KHR. Abdul Karim merupakan Keturunan kelima dari Pangeran Tirto Negoro atau yang lebih di kenal dengan sebutan Bindereh Saut, salah satu Raja di Kesultanan Sumenep, Madura. Karena itu, tercantum gelar Raden di depan namanya, sebagai keturunan laki-laki dari ningrat Kesultanan Madura. Secara urut silsilah, beliau
KHR. Abdul Karim bin (putra dari) KHR. Muhammad Thoyyib Bin KHR. Qodhi Bin KHR. Khowarizmi Bin KHR. Baha’uddin Bin KHR. Bindereh Saut (Pangeran Tirto Negoro) Bin KHR. Abdullah Bindoroh Bongsoh Bin KHR. Abdul Qidam Bin KHR. Ali Talang Parungpung Bin KHR. Abdullah Galugur Bin KHR. Isbat Astamana Bin KHR. Hafidzuddin.
Kiai Raden Hafidzuddin ini tak lain adalah Pangeran Bukabu Bin KHR. Syihabuddin (Pangeran Mandaraga) Bin KHR. Raden Abdurrahman Panembahan Qodli Bin Sunan Kudus atau Syarif Ja’far Shodiq. Jelas sekali, selain memiliki gen nasab hingga Walisongo, Kiai Karim Sepuh merupakan penerus perjuangan dakwah walisongo dalam mengislamkan tanah Jawa dan Nusantara.
Perjalanan Mencari Ilmu.
Kiai Karim Sepuh sejak kecil berguru pada ayahnya sendiri dan pada usia sekitar 13 tahun. Setelah hafal kitab aqidatul-awam, beliau dihantarkan oleh ayahnya untuk Ngaji dan mondok di Pesantren Gentong Pasuruan dibawah asuhan Kyai Abdul Ghofur, Seorang kyai sepuh yang seangkatan dengan Kyai Kholil Bin Abdul Latif Bangkalan. Di sini l, beliau belajar ilmu Tajwid, Tauhid dan Fiqih. Selepas dari Gentong, Kiai Karim meneruskan mencari ilmu ke Bangkalan untuk mondok di Pesantren KH. Kholil bin Abdul Latif Bangkalan. Dari Syaikhona Kholil, Kiai Karim melanjutkan memperdalam ilmu ke Tanah Suci Makkatul Mukarramah sebagaimana ulama besar nusantara lainnya.
Menikah dan Berjuang di Jalan Allah
Setelah 12 tahun menghabiskan waktu untuk thalabul ilmi di Tanah Makkah, KH. Abdul Karim kembali pulang ke tanah jawa dan dikawinkan dengan gadis bernama Shofiyah binti H. Abdul Fattah dari kota Pasuruan. Setelah berumah tangga beliau kemudian menetap di kota Pasuruan hingga tahun 1336 H.
Dari pernikahan beliau dengan Nyai Hj. Shofiyah , di karuniai sembilan putra putri, yaitu KH. M. Thoyyib pengasuh pondok Pesantren Kramat, Abdul Fatah wafat sebelum nikah, Nyai Hj. Marfu’ah istri Kiai Jufri dan KH. Ahmad, Pendiri PP Darul ulum Pacarkeling Kejayaan, Pasuruan. Putra kelima, adalah KH. M. As’ad, Pengasuh PP. Kramat, M. Thoha (wafat masih kecil), KH.M. Munif, Pendiri PP.Darul Karomah Gunung Jati Kramat, Nyai Hj Mardiyah istri KH. Sufyan Kramat dan si bungsu Asiyatus Shofa (wafat masih kecil)
Semangat Kiai Karim Sepuh mensyiarkan agama Islam diwarisi dari Sang ayahanda, yakni KH. Thoyyib bin Qodhi, yang juga giat berdakwah di Pasuruan. Kiai Thoyyib lah yang membuka pengajian kitab Fiqih dan Tasawuf di Kepatihan Pasuruan dan Masjid Jami’ Al-Anwar Kota Pasuruan, diikuti oleh jamaah umum, termasuk para kyai yang juga mengikuti pengajian rutin ini. Di samping itu, beliau juga mendapat tugas untuk menjadi Imam dan khotib sholat Jum’at di masjid jami’ Pasuruan.
Kiprah Dakwah dan Perjuangan.
Setelah beberapa tahun tinggal di Pasuruan, maka pada tahun 1900, Kiai Karim membangun rumah dan kemudian menjadi lembaga pondok pesantren di Desa Kramat, sebelah utara Bendungan. Kiai Karim adalah Kyai yang pertama kali membuka pengajian bersifat umum di Pasuruan, baik pengajian Rutin di masjid-masjid atau pengajian-pengajian umum lainnya. Beliau menuntun syahadat bagi kebanyakan masyarakat yang kala itu belum beragama Islam. Di banyak desa dan daerah-daerah, beliau dengan telaten mengajari sholat dan mempraktekkannya diatas panggung terbuka, disaksikan banyak masyarakat yang betul-betul awam dalam hal agama.
Dengan modal kekayaan yany dimimiliki, beliau membangun masjid-masjid untuk sholat jum’at di banyak tempat di wilayah kabupaten pasuruan. Kesaksian Habib Sholeh bin Abdulloh Al Habsyi berdasar cerita dari ayahanda beliau, Habib Abdulloh Al Habsyi menuturkan, Kiai Abdul Karim telah membangun tidak kurang dari 38 buah masjid di antero Pasuruan. Di antaranya Masjid di Tambaan Kota Pasuruan, Masjid Bukir, Masjid Kebonagung, Masjid Selotambak Kraton, Masjid Arjosari Kraton, Masjid Sungikulon Pohjentrek dan masih banyak lainnya. Tidak berhenti di situ saja, beliau juga mempersiapkan imam dan guru ngaji yang memimpin sholat dan mengajar dasar-dasar agama Islam di daerah kabupaten pasuruan dan sekitarnya.
Kiai Karim Wafat
Setelah gigih berjuang dan cukup lama berdakwah, beliau mengalami sakit yang akhirnya membawa oada hari terakhirnya. KH.Abdul Karim wafat pada hari Senin, tanggal 12 Dzul-Hijjah 1369 Hijriyah bertepatan dengan tanggal 25 September 1950 Masehi dan dimakamkan persis di sebelah barat makam Ayahandanya, Kiai Thoyyib di desa Bendungan, Kecamatan Kraton Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Beliau wafat dengan berbekal jariyah ilmu, sedekah, inisiatif kebaikan serta doa keturunan dan santri-santrinya yang akan terus mengalir ila yaumil qiyamah. Amin.
Demikian Biografi (manakib) singkat Mbah KHR. Abdul Karim Sepuh, Kramat, Pasuruan. Mudah-mudahan kita senantiasa mendapat barokah dan Karomahnya Beliau serta diakui menjadi santri ruhiyah, sehingga segala hajat kita cepat dikabulkan oleh Allah SWT. Amin ya Mujibas Sa-ilin.
Ditulis dalam Rangka Haul ke-78 KHR Abdul Karim Thoyyib oleh KHR. Masrur Rhobitulloh bin KHR As’ad Abdul Karim, Pengasuh Majelis Pemuda Bersholawat Al-Jamrah Pusat, PP Nurul Qodim, Kalikajar, Paiton, Probolinggo




