Jombang, jurnal9.tv – Menjelang peringatan Haul ke-55 KH Abdul Wahab Chasbullah atau Mbah Wahab, seruan untuk meneladani nilai perjuangan sang pahlawan nasional kembali bergema. Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat sekaligus cucu menantu Mbah Wahab, Ubaidillah, mengajak seluruh elemen bangsa untuk menggali kembali kedalaman warisan perjuangan sang ulama.
Peringatan haul ke-55 akan dipusatkan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Minggu (10/5/2026). Ribuan jemaah dan santri diperkirakan hadir, termasuk Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan ulama kharismatik KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq yang dijadwalkan mengisi tausiyah.
Visioner yang Melampaui Zamannya
Ubaidillah menegaskan bahwa Mbah Wahab bukan sekadar tokoh pesantren biasa, melainkan sosok visioner yang melampaui zamannya. Sejak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2014, kontribusinya bagi umat dan negara terus diakui sebagai warisan yang tak ternilai.
Salah satu peran internasional Mbah Wahab yang paling monumental adalah kepemimpinannya dalam tim Komite Hijaz. Melalui jalur diplomasi, ia berhasil melobi otoritas di Tanah Suci untuk menyelamatkan makam Nabi Muhammad SAW dari rencana pembongkaran.
“Berkat keteguhan Mbah Wahab, seluruh umat Islam di dunia hari ini masih bisa menikmati ziarah ke makam Rasulullah saat menjalankan ibadah umrah maupun haji,” kata Ubaidillah, Sabtu (9/5/2026).
Penggagas Halal Bihalal
Di panggung nasional, kecerdasan Mbah Wahab terpotret dari gagasannya menciptakan tradisi Halal Bihalal. Ide ini lahir sebagai solusi kebudayaan untuk mencairkan ketegangan politik antar-tokoh bangsa yang memanas pasca-kemerdekaan Indonesia.
Mbah Wahab mengajarkan bahwa perdebatan ideologi tidak boleh memutus tali persaudaraan. Silaturahmi, baginya, adalah ruang sakral yang harus tetap terjaga meski perbedaan pendapat terjadi di forum-forum resmi.
“Mbah Wahab mampu menempatkan perdebatan pada koridornya, namun di luar itu, silaturahmi tetap berjalan dengan sangat baik. Ini adalah teladan rekonsiliasi yang sangat mahal harganya,” ujar Ketua KPI Pusat, Ubaidillah.
Relevan untuk Indonesia Kini
Semangat rekonsiliasi Mbah Wahab dinilai sangat relevan bagi Indonesia yang tengah menata pembangunan di bawah pemerintahan baru. Ubaidillah berharap tradisi kritik dan saran tetap berjalan secara konstruktif tanpa merusak persatuan nasional.
Ia mendorong pemerintah untuk senantiasa terbuka mendengarkan masukan dari para tokoh agama dan masyarakat. Sinergi antara kebijakan negara dan aspirasi tokoh bangsa diyakini menjadi kunci menuju perbaikan yang berkelanjutan.
“Negara ini butuh teladan rekonsiliator yang mampu menjembatani perbedaan. Persatuan adalah segalanya, dan itulah pesan kuat yang selalu dibawa oleh Mbah Wahab,” pungkas Ubaidillah.




