Tak banyak orang yang tahu saat ditanya letak Hotel Moeslimin Surabaya berada. Sebuah hotel yang menyimpan sejarah penting bagi jejak langkah organisasi keislaman terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama. Hotel Bali demikian papan nama yang terpampang di depannya. Letaknya berada di pojok Jalan Peneleh. Tepatnya di pertigaan Jalan Makam Pahlawan, Nomor 77 atau dulu berada di Peneleh Straat Nomor 52.

Bangunan hotel tersebut telah berubah jika dibandingkan dengan foto Hotel Moeslimin yang pernah dimuat di Majalah Swara Nahdlatoel Oelama (SNO), No. 1 Tahun I, Muharram 1347 H. Namun, letaknya yang berada di pojok masih sama persis. Bangunan berlantai satu itu, kini telah bertransformasi menjadi bangunan beberapa lantai.

Jika ditilik kondisi saat ini, Hotel Moeslimin atau Bali ini, terkategori hotel melati. Tak tampak kemegahannya sama sekali. Jika malam ramai dengan café billiard di halaman depannya. Terkesan berada di kawasan pinggiran di tengah hiruk pikuk metropolitan Surabaya. Akan tetapi, jika kembali ke masa satu abad lampau, Hotel Moeslimin ini amat strategis.

Letak Hotel Moeslimin berada di tepian Sungai Kalimas yang hingga abad 20 awal merupakan urat nadi transportasi di Kota Surabaya. Menghubungkan kawasan pelabuhan dengan wilayah perkotaan yang sedang bertumbuh kala itu. Jaraknya dari Stasiun Kota Surabaya juga tak terlampau jauh. Hanya berjarak sekitar 1,5 KM saja.

“Saben expres lan sneltrein dateng wonten jongos mapak ing stasiun Surabaya Kutha, saha malih yen langkung perlu mugi paring khabar mawon.” Demikian iklannya di SNO yang mengatasnamakan Muhammad Idris Kertorejo (pengelola?) itu, menawarkan jemputan bagi para tamu yang datang ke Surabaya lewat stasiun.

Apalagi tempat Hotel Moeslimin itu berada di Kampung Peneleh yang legendaris. Pusat pergerakan yang melahirkan banyak tokoh. Mulai dari H.O.S Tjokroaminoto, Roeslan Abdoelghani, Soekarno, Moehammad Jais dan lain sebagainya. Di Peneleh ini pula terdapat Masjid Peneleh yang menjadi satelit pergerakan dari Takmiroel Massajid, salah satu organisasi yang memiliki visi sama dengan NU. Di seberang sungai, sekitar satu kilometer juga berdiri kantor HBNO di Jalan Bubutan.

Posisi yang demikian strategis dan aksesibel tersebut, tak ayal menjadi pilihan HBNO untuk menggelar tiga kali muktamar pertamanya. Di Hotel Moeslimin ini, Muktamar Pertama NU dilaksanakan pada 14 – 16 Rabiul Awal 1345 H/ 22-24 September 1926 M. Dihadiri oleh 93 orang ulama yang hadir. Rata-rata dari Jawa, hanya tiga orang yang berasal dari luar pulau (sebrang).

Dalam SNO No.2 Tahun I, hal. 23 disebutkan, awalnya Majelis Syuro (kongres) – istilah yang digunakan untuk menyebut muktamar kala itu – hendak dilaksanakan setahun dua kali (kawontenaken saben tahun kaping kalih). Namun, sebagaimana kita ketahui bersama, muktamar dilaksanakan satu tahun sekali di masa-masa awal.

Saat ini, Muktamar NU digelar tiap lima tahun sekali. Tahun ini bakal dihelat kembali Muktamar 35 NU. Kita tunggu saja, kapan jadwal pastinya. (*)

Oleh Ayung Notonegoro, Sejarawan NU, Founder Komunitas Pegon, Banyuwangi