Ciganjur, jurnal9.tv – Pesantren Luhur Ciganjur (Gus Dur) yang berlokasi Jakarta Selatan, melaksanakan kegiatan Refleksi Kemanusiaan dengan tema “Membedah Luka di Ujung Timur” yang dihadiri oleh santri-santri dan komunitas keagamaan, serta komunitas kemahasiswaan, sabtu malam, 27 Juni 2026.
Kondisi di Papua saat ini kembali menjadi sorotan publik karena proyek pemerintah yang berjalan di tanah papua mendapat banyak penolakan dari masyarakat lokal.
Lurah Pesantren Luhur Ciganjur, Fadhil Bilad menyampaikan bahwa ketidaksetaraan manusia selalu menjadi problematika yang tak kunjung usai
“Kita lihat saudara kita di ujung timur sana, bahan pokok mahal, pendapatan individu perkapita perbulan sangat minim, akses distribusi terbatas, peningkatan kualitas pendidikan tidak maksimal, supremasi hukum dikesampingkan, pendekatan militeristik diutamakan” Ujar Fadhil
Hal tersebut disempurnakan oleh KH. Arief Rachman selaku Pengasuh Ponpes Luhur Ciganjur yang menyampaikan bahwa peningkatan kualitas hidup SDM di Papua haruslah menjadi fokus utama pemerintah.
Kemudian KH. Syaifullah Amin yang menjadi narasumber pada kegiatan tersebut menyampaikan bahwa masyarakat Papua tidak diikut sertakan dalam pembangunan kualitas manusia Indonesia.
“Pemerintah mestinya lebih banyak mengirimkan agen yang bertugas untuk mengamankan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat.” penegasan oleh KH. Syaifullah Amin.
“Ketika urusan proyek bisnis yang disebut sebagai swasembada pangan itu pemerintah sangat cepat dan tanggap mengeksekusi, lalu kenapa ketika urusan peningkatan kualitas hidup dan peningkatan mutu pendidikan, pemerintah berjalan sangat lamban?” Tanya KH. Amin untuk memantik diskusi.




