Home » Indonesia Terlambat Memulai Digitalisasi Pendidikan? Begini Kata Kemendikbudristek RI
PEMERINTAHAN & POLITIK

Indonesia Terlambat Memulai Digitalisasi Pendidikan? Begini Kata Kemendikbudristek RI

Surabaya, Jurnal9.tv – Dalam kurun waktu 3 tahun terakhir, terjadi lompatan besar dalam proses digitalisasi dunia pendidikan. Para pelajar sudah tidak tidak mengalami kesulitan dalam memanfaatkan teknologi yang ada.

Hal ini dibahas dalam program  Jurnal 9 Pagi Akhir Pekan Tv9 Nusantara, Sabtu (20/05/2023) dengan tema “Arah Pembangunan Digital Indonesia”. Diskusi ini bertujuan untuk meningkatkan literasi masyarakat.

Ada 3 pembicara hebat yang menjadi narasumber dalam program ini. Pembicara pertama adalah Dr. Moh. Hasan Habibi, Kepala Pusat Data dan Informasi Kemendikbudristek Republik Indonesia. Edi Muhammad Yaqub yang merupakan wartawan dan penulis buku berjudul “Kesalehan Digital”. Dan pembicara ketiga adalah Adi Marzuki, seorang pelaku bisnis digital.

Dr. Moh. Hasan Habibi bercerita bahwa melihat hal tersebut, Kemendikbudristek tidak tinggal diam. Kemendikbudristek mengoptimalisasi transformasi digital di dunia pendidikan dengan layanan-layanan platform untuk mendukung e-pembelajaran dan administrasi yang memudahkan tata kelola dunia pendidikan.

Sedangkan dari sisi industri atau e-comerce, Adi Marzuki yang merupakan pelaku bisnis mengatakan bahwa pembangunan industri di Indonesia masih pada tahap pembangunan ekosistem. Ia menilai bahwa di Indonesia  masih kurang dalam hal research and development. Padahal bisnis digital berkembang searah dengan inovasi. Meskipun begitu, dia mengungkapkanitu terjadi bukan karena perkembangannya yanng lambat, tetapi Indonesia yanng terlambat untuk memulai digitalisasi.

Penyataan tersebut disetujui oleh Edi Muhammad Yaqub. Ia mengatakan, “secara teknologi mungkin kita terlambat memulai. Dan kalau saya melihat dari sisi publik ya, media sendiri terlambat memulai. Kalau di negara lain tahun70-80 sudah memulai. Media di Indonesia baru digital sekitar 95-96”. Meskipun begitu, menurutnya SDM Indonesia sangat cepat dalam beradaptasi dengan teknologi digital.

Masih menurut Edi Muhammad Yaqub, ia menyayangkan adaptifnya masyarakat terhadap teknologi tidak dibarengi dengan karakter yang baik. 

Dr. Moh. Hasan Habibi mengungkapkan ada empat tantangan dalam transformasi dunia pendidikan ke arah digital. Yang pertama adalah terkait infrastruktur yang tiap daerah tidaklah sama. Yang kedua terkait dengan ketersediaan konten yang berkualitas. Yang ketiga terkait dengan sumber daya manusia yang masih belum mampu memilah banjirnya informasi yang ada. Dan yang keempat adalah permasalahan tata kelola.

“Terkait dengan infrastruktur, Kemendikbudristek kemarin sudah membagikan perangkat laptop yang sangat banyak ya ke sekolah-sekolah bekerja sama juga dengan Kominfo,” terang Dr. Moh. Hasan Habibi terkait solusi yang dilakukan Kemendikbudristek dalam menghadapi tantangan digitalisasi dunia pendidikan.

Senada dengan yang diungkapkan oleh Moh. Hasan Habibi, Adi Marzuki melihat tantangan yang dihadapi dalam digitalisasi di Indonesia adalah belum meratanya perkembangan teknologi digital. Ia mengatakan, “Kalau di Indonesia ada permasalahan kesenjangan antara pusat dengan daerah”. Adi Marzuki menambahkan, “untuk bisa menjadi digital Nation tentunya kita harus bisa membangun pemerataan dari sisi infrastrukturnya, kemudian pembangunan SDMnya, terus termasuk belanja untuk teknologinya”.

 Adi Marzuki berharap adanya kolaborasi dari berbagai pihak karena teknologi digital ini dipergunakan di berbagai sektor. Ia mengatakan, “dari sisi bisnis kita mengharapkan terjadinya kolaborasi dari berbagai pihak, Karena kita tahu teknologi digital ini dipergunakan di berbagai sektor”. (swp/snm)