Surabaya, jurnal9.tv – Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) PWNU Jawa Timur menyerahkan Maklumat Kebudayaan LESBUMI Nahdlatul Ulama kepada Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur.

Maklumat tersebut diserahkan Ketua LESBUMI PWNU Jawa Timur Riadi Ngasiran kepada Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz di Surabaya, Selasa (11/8/2026).

Dalam kesempatan tersebut, KH Abdul Hakim Mahfudz menegaskan pentingnya peran NU dalam menjaga identitas bangsa melalui penguatan nilai kebangsaan, kecintaan terhadap Tanah Air, serta pelestarian kebudayaan.

Menurut dia, LESBUMI memiliki posisi strategis untuk menjaga nilai-nilai kebudayaan sekaligus memperkuat identitas bangsa di tengah perubahan zaman.

“Kami menyambut baik hasil Muktamar Kebudayaan dengan Maklumat Kebudayaan dari para aktivis LESBUMI NU. Ini menunjukkan tengara visi profetik NU telah dilaksanakan melalui LESBUMI dengan mengusung Kembali ke Akar,” ujar Kiai Kikin, sapaan KH Abdul Hakim Mahfudz.

Penyerahan maklumat tersebut disaksikan Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim KH Abdul Matin Djawahir serta jajaran Tanfidziyah PWNU Jatim, antara lain Prof Kacung Marijan, KH M Taufiq Jalil, KH Noor Sodiq Askandar, dan Prof Babun Suharto.

KH Abdul Hakim Mahfudz yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang mengatakan, nilai-nilai dasar perjuangan NU sebagaimana digariskan Hadlratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari melalui Qonun Asasi Nahdlatul Ulama bersifat universal.

Nilai-nilai tersebut, kata dia, pada akhirnya menjadi bagian penting dalam menjaga identitas bangsa.

“Nilai-nilai dasar perjuangan Nahdlatul Ulama yang digariskan Hadlratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari melalui Qonun Asasi Nahdlatul Ulama bersifat universal. Pada ujungnya ia menjadi bagian penting untuk menjaga identitas bangsa,” tutur Kiai Kikin.

Sementara itu, KH Abdul Matin Djawahir mengingatkan LESBUMI NU agar ikut menjaga keharmonisan masyarakat yang memiliki latar belakang budaya yang beragam.

Menurut dia, peran kebudayaan tidak dapat dilepaskan dari upaya mengayomi masyarakat sekaligus menanamkan nilai keagamaan dan kesadaran spiritual.

“Tugas kita mengayomi mereka sekaligus menanamkan nilai keagamaan dan kesadaran spiritual seperti diajarkan para pejuang Islam dan Walisanga. Dengan begitu, kita bersama-sama menjaga keutuhan bangsa dan negara di tengah perubahan zaman,” kata KH Matin.

Pesan lainnya disampaikan Prof Kacung Marijan. Guru Besar Ilmu Sosial Universitas Airlangga Surabaya itu mengajak LESBUMI tidak hanya melihat kebudayaan sebagai upaya menjaga peradaban dan tata nilai sosial.

Ia menekankan pentingnya menjaga nilai kemanusiaan dan menghindari perilaku yang dapat merusak kehidupan sosial.

“Kita jangan terlena dengan menjaga peradaban, tata nilai sosial masyarakat. Dan yang terpenting, menjauhi sikap kebiadaban, termasuk keserakahan dalam masyarakat,” ujar Kacung.

Ia juga mengingatkan pentingnya memaknai huruf ba’ dalam hijaiyah sebagai bagian dari perenungan nilai tauhid.

Maklumat Kebudayaan LESBUMI NU merupakan hasil Muktamar Kebudayaan Indonesia yang digelar LESBUMI NU di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, pada 12-14 Juni 2026.

Forum tersebut mengusung tema “Kembali ke Akar”.

Pemilihan Pondok Pesantren Tambakberas dinilai memiliki nilai historis karena pesantren tersebut didirikan KH Abdul Wahab Hasbullah, salah satu tokoh pendiri dan penggerak NU.

Tambakberas juga dijadwalkan menjadi lokasi Muktamar ke-35 NU pada 27-31 Agustus 2026 mendatang.

Ketua LESBUMI PWNU Jawa Timur Riadi Ngasiran menjelaskan, tema “Kembali ke Akar” menjadi refleksi untuk menghadapi berbagai tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia.

Menurut Riadi, akar manusia bukan sekadar identitas sejarah, melainkan kesadaran manusia terhadap posisi dan perannya dalam kehidupan.

“Makna tema Kembali ke Akar, kita menyadari tentang akar dari manusia. Akar dari manusia adalah kesadarannya sendiri. Kembali ke akar adalah kembali kepada kesadaran kita bahwa manusia itu sebagai subjek dalam kehidupan,” ujar Riadi.

Riadi mengatakan, seni dan kebudayaan tidak hanya menjadi ruang bagi budayawan, akademisi, atau kalangan pesantren. Seni merupakan bagian dari kehidupan seluruh manusia.

Ia mengutip pandangan Ketua LESBUMI PBNU KH Muhammad Jadul Maula yang menyebut kebudayaan memiliki ratusan makna. Namun, pada intinya, kebudayaan dapat menjadi jalan untuk menghadapi berbagai persoalan bangsa.

Menurut Riadi, keindahan hanya salah satu unsur dalam seni. Kesenian juga dapat memberikan pengalaman batin dan menjadi sarana manusia dalam menghadapi perubahan zaman.

” Seni bukan hanya sebuah keindahan, tapi sebuah alat untuk menghadapi zaman melalui kebudayaan,” katanya.

Riadi menjelaskan, kebudayaan idealnya menghadirkan tiga unsur utama dalam kehidupan, yakni rasionalitas melalui ilmu pengetahuan, spiritualitas melalui agama, dan rasa melalui seni.

“Ketiganya membutuhkan satu kesatuan tubuh untuk bergerak dan merepresentasikan ide-ide abstrak dalam realitas,” tutur Riadi.

Dalam Muktamar Kebudayaan Indonesia, LESBUMI NU juga menyoroti sejumlah tantangan kehidupan modern. Salah satunya adalah munculnya berbagai “penyakit jiwa” dalam kehidupan sosial, seperti korupsi serta ketidakmampuan manusia menyalurkan rasa ketika menghadapi persoalan kehidupan.

Melalui Maklumat Kebudayaan dengan tema “Kembali ke Akar”, LESBUMI NU mendorong kebudayaan tidak berhenti sebagai pelestarian tradisi, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran, memperkuat identitas bangsa, dan menjawab tantangan zaman.