Sidoarjo, jurnal9.tv — DPC Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (Harpi) Melati Kabupaten Sidoarjo periode 2026-2031 resmi dilantik DPD Harpi Melati Jawa Timur di Transmart Sidoarjo.Kamis (6/8/2026). Momentum ini menegaskan komitmen organisasi dalam meningkatkan kualitas para perias pengantin sekaligus mempromosikan tradisi rias khas daerah.

‎Pengukuhan tersebut dihadiri langsung oleh Ketua DPD Harpi Melati Jawa Timur, Hj. Endang Setyowati, S.Pd., Bupati Sidoarjo yang diwakilkan oleh Kepala Disporapar Sidoarjo,Yudhi Iriyanto, S.Sos., M.Si.membuka pelantikan tersebut. Turut hadir dan menyaksikan lintas sektor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) serta Bakesbangpol Sidoarjo, DPC Harpi melati se Jawa timur dan Perwakilan Pengurus Ranting Harpi Melati tingkat kecamatan se Kabupaten Sidoarjo.

‎Ketua DPC Harpi Melati Kabupaten Sidoarjo,Hj. Nasucha, menyampaikan rasa syukur dan harapannya agar kepengurusan yang baru dilantik dapat menjadi wadah yang amanah dan profesional.

‎”Kami sangat berharap petunjuk serta arahan dari DPD Harpi Melati Jawa Timur dan instansi terkait untuk meningkatkan kreativitas para perias pengantin di Sidoarjo. Tanpa kerja sama seluruh pengurus, saya pribadi tidak ada artinya. Semoga momentum pelantikan ini menjadi awal dari keberlanjutan yang bermanfaat bagi seluruh anggota,” ujarnya.

‎Hingga saat ini, DPC Harpi Melati Kabupaten Sidoarjo telah berhasil membentuk 9 ranting di tingkat kecamatan. Ke depannya, organisasi ini menargetkan pembentukan ranting di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Sidoarjo agar merangkul lebih banyak perias pengantin lokal.

‎Selain konsolidasi internal, Harpi Melati Sidoarjo juga mendorong sinergi dengan dinas dan instansi terkait untuk memfasilitasi peran wanita dalam peningkatan sumber daya manusia (SDM), khususnya di bidang seni tata rias pengantin, kebudayaan, kepariwisataan, hingga ketenagakerjaan.

‎Lestarikan Rias ‘Penganten Putri Jenggolo’
‎Salah satu poin penting yang ditegaskan dalam acara tersebut adalah komitmen pelestarian budaya lokal, khususnya busana dan tata rias pengantin khas Kabupaten Sidoarjo, yaitu Penganten Putri Jenggolo.

‎Rias Penganten Putri Jenggolo telah dibakukan sejak tahun 2006 dengan dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Proses pembakuan ini melewati tahapan uji coba di tingkat Provinsi Jawa Timur hingga akhirnya disahkan secara resmi oleh lembaga berwenang di tingkat pusat.

‎Hj.Nasucha, juga menyoroti bahwa perkembangan keberadaan tata rias khas Sidoarjo ini dinilai masih perlu ditingkatkan agar bisa bersaing dan sejajar dengan rias pengantin dari daerah lain di Jawa Timur.

‎​”Karena sampai sekarang perkembangannya masih kurang, kita mempunyai suatu kewajiban untuk lebih meningkatkan dan mengenalkan bahwasanya penganten Sidoarjo itu tidak kalah cantik dan tidak kalah bagusnya dengan penganten-penganten lain se-Provinsi Jawa Timur,” tegasnya.

‎​Ia mengimbau seluruh pengurus dan anggota DPC hingga tingkat ranting Harpi Melati se-Kabupaten Sidoarjo untuk aktif mengembangkan serta mempromosikan rias khas ini. Rias Penganten Putri Jenggolo sendiri kini telah memiliki pakem resmi yang mencakup beberapa variasi, antara lain:
‎*​ Penganten Putri Jenggolo Tradisional
‎* ​Penganten Putri Jenggolo Modifikasi / Inovasi
‎* ​Penganten Putri Jenggolo Muslim

‎​Harpi Melati Sidoarjo menegaskan bahwa promosi aktif dari para perias lokal merupakan kunci utama agar busana dan tata rias Putri Jenggolo dapat dikenal luas secara nasional.

‎​”Kalau tidak dari kita sendiri yang ada di Sidoarjo, sampai kapan Penganten Putri Jenggolo ini tidak dikenal oleh masyarakat luas?” tambahnya,

‎Melalui kepengurusan yang baru, Harpi Melati Sidoarjo bertekad untuk terus mengenalkan dan melestarikan Penganten Putri Jenggolo agar tetap menjadi kebanggaan warga Sidoarjo dan dikenal secara luas di tingkat nasional.

‎Ketua DPD Harpi Melati Jawa Timur, Hj. Endang Setyowati, S.Pd, menjelaskan bahwa konsep pengantin Muslim pada dasarnya menyertai tata rias pengantin daerah yang telah dibakukan sebelumnya. Lebih lanjut, pihak penyelenggara juga mendorong adanya usulan resmi terkait pengantin inovasi agar dapat diakui secara legal dan meluas.

‎​”Mungkin kalau nanti Pengantin Inovasi, khususnya Jenggolo Inovasi, akan disahkan secara resmi oleh Lembaga Sertifikasi Kompetensi (LSK), monggo Ibu-ibu dapat memberikan surat permohonan,” ujarnya.

‎​Pengajuan permohonan tersebut bertujuan agar tata rias Pengantin Jenggolo Inovasi dapat disahkan dan diujikan secara nasional dalam uji kompetensi LSK.
‎​Selain membahas pengesahan tata rias inovasi, acara tersebut juga menjadi ajang apresiasi bagi para pengurus baru yang dilantik.

‎Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus, Ia mengajak seluruh anggota untuk terus memelihara semangat perjuangan dan kecintaan terhadap NKRI.

‎​”Semoga semangat perjuangan kemerdekaan kita pada tanggal 17 Agustus tetap membara dengan semangat cinta NKRI,” pungkas Endang Setyowati.

‎Sementara itu, Kepala Disporapar Kabupaten Sidoarjo, Yudhi Iriyanto, S.Sos., menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan potensi budaya dan pariwisata daerah. Melalui Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar), Pemkab Sidoarjo mengajak seluruh instansi terkait untuk memperkuat kolaborasi demi memajukan berbagai potensi lokal.

‎”Atas nama Pemerintah Daerah, Bapak Bupati Subandi bersama Ibu Wakil Bupati Hj. Mimik Idayana memberikan apresiasi yang luar biasa. Semoga ini menjadi momentum kita semua untuk saling berkolaborasi atas potensi budaya lokal yang luar biasa,” ujarnya.

‎Salah satu potensi kebudayaan lokal yang mendapat perhatian khusus adalah pakaian adat Manten Jenggolo. Kadisporapar mengungkapkan bahwa busana khas Sidoarjo tersebut sempat dikenakan dalam peringatan Hari Jadi Kabupaten Sidoarjo tahun lalu dan mendapat apresiasi luas dari masyarakat.

‎Untuk menjaga dan mempromosikan warisan peninggalan Kerajaan Jenggala tersebut, Disporapar Sidoarjo siap membuka diri dan berkolaborasi lintas sektor, termasuk dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) serta Bakesbangpol Sidoarjo.

‎Selain itu, Disporapar juga akan melibatkan peran aktif pemuda daerah melalui program Duta Wisata Desa.

‎”Kami memiliki 141 Duta Wisata Desa yang nantinya bisa dilibatkan untuk melestarikan budaya, khususnya peninggalan Kerajaan Jenggala yang kita cintai. Kami terbuka untuk berkolaborasi bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Bakesbangpol sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing,” pungkasnya.

‎Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat sinergitas antar-instansi daerah dalam memajukan sektor pariwisata, pemuda, dan pelestarian nilai-nilai sejarah di Kabupaten Sidoarjo.(RK).