Catatan Pembuka

Artikel ini lahir dari sebuah kegelisahan pagi hari, setelah semalam berdiskusi dengan teman-teman alumni Elektro ITS seangkatan dan kakak angkatan satu tahun di Graha Sonokembang, tentang bagaimana teknologi digital pelan-pelan mengubah cara kita berpikir.

Di era ketika informasi melimpah ruah, kita justru sering kali merasa makin dangkal.

Tulisan ini tidak hadir untuk menghakimi generasi muda, melainkan sebuah ajakan reflektif, berkaca pada sejarah masa lalu dan tradisi keilmuan kita, tentang bagaimana cara merebut kembali kedaulatan pikiran dari kendali mesin dan algoritma.

Selamat membaca, semoga memantik diskusi yang menghidupkan.

I. Pendahuluan

Surabaya, awal abad ke-20. Di sudut sebuah kamar di perpustakaan tua, seorang remaja kurus duduk terpaku di bawah temaram lampu minyak. Tangannya membalik halaman-halaman tebal karya Karl Marx, Thomas Jefferson, hingga pemikiran Islam progresif.

Remaja itu adalah Soekarno. Ia melompat dari satu ide besar ke ide besar lainnya, berdialog dengan pikiran para raksasa dunia demi mencari formula memerdekakan bangsanya.

Satu abad kemudian, di sebuah kamar modern. Seorang pemuda Gen-Z berbaring di tempat tidur, menatap layar gawai yang menyala terang.

Jarinya bergerak cepat, mengusap (scrolling) layar setiap 15 detik. Sebuah video menampilkan kutipan Marcus Aurelius tentang Stoikisme dengan musik latar yang menenangkan.

Dua usapan berikutnya, layar menampilkan analisis singkat tentang marxisme kultural.

Dua usapan lagi, video berganti menjadi tutorial investasi kripto.

Secara kasat mata, kedua generasi ini terikat oleh satu benang merah yang sama. Mereka adalah “pemburu esensi” yang sedang mencari hikmat kehidupan.

Keduanya menyerap percikan pemikiran besar dunia secara eklektik: memilih dan mengambil apa yang menarik bagi mereka.

Namun, perbedaan medium di antara keduanya telah menciptakan jurang pemisah yang fatal. Medium masa lalu melahirkan seorang pemikir bangsa, sementara medium digital hari ini berisiko melahirkan kepunahan daya pikir (brain rot).

II. Soekarno di Perpustakaan: Kurasi Aktif dan Dapur Perjuangan

Cara belajar mandiri Soekarno remaja tidak mengikuti pakem akademis yang kaku.

Beliau tidak membaca buku sejarah dari halaman pertama hingga terakhir demi menghafal tahun kejadian.

Soekarno adalah pemburu “api”. Beliau melompat dari teks barat ke timur untuk menangkap semangat besar (the spirit of ideas) dari sebuah pemikiran.

Etos berburu ilmu ini sejatinya “senafas” dengan tradisi rihlah ilmiah para santri terdahulu, mengembara dari satu kitab ke kitab lain, dari satu guru ke guru lain, demi mengejar hakikat kebenaran.

Meskipun cara belajarnya melompat-lompat, Soekarno memegang kendali penuh atas pikirannya melalui Kurasi Aktif.

Beliau yang memutuskan buku apa yang mau dicari di rak, halaman mana yang mau dibaca, dan kapan harus berhenti untuk merenung. Otaknya dipaksa melakukan kerja keras: mensintesiskan pemikiran-pemikiran yang saling bertolak belakang menjadi sebuah pemahaman baru.

Lebih penting lagi, esensi gagasan yang didapat Soekarno tidak menguap begitu saja.

Perpustakaan tersebut dan lingkungan sekitarnya adalah dapur tempat ide itu dimasak.

Gagasan tersebut langsung diuji di dunia nyata. Ide itu mewujud menjadi pidato yang membakar semangat, tulisan-tulisan tajam di surat kabar, perdebatan sengit dengan tokoh-tokoh pergerakan, hingga akhirnya ditempa di dalam dinginnya jeruji penjara.

Pikiran-pikiran besar tentang negara baru yang akan berdiri, pematangan ideologi yang akan akan menjadi dasar negara, lahir karena gagasan tersebut melewati ujian realitas yang keras.

III. Gen-Z di Medsos: Kurasi Pasif dan Ilusi Pengetahuan

Di era digital, pencarian esensi mengalami komodifikasi.

Platform media sosial seperti TikTok, Instagram Reels, dan YouTube Shorts menawarkan pengetahuan instan yang dikemas estetis.

Kutipan filsafat eksistensialisme atau tips psikologi disajikan dalam video pendek berdurasi hitungan detik lengkap dengan teks yang dramatis.

Gen-Z dengan mudah menangkap “semangat” dari konten tersebut. Namun, di sinilah letak jebakannya: Kurasi Pasif.

Berbeda dengan Soekarno yang aktif berburu, Gen-Z disuapi oleh algoritma.

Mesin memantau berapa milidetik mata menatap layar, lalu menyajikan konten serupa secara terus-menerus. Ruang digital berubah menjadi labirin gema (echo chamber).

Akibatnya, muncul ilusi pengetahuan (illusion of explanatory depth): merasa ‘alim sebelum mengaji.

Anak muda merasa telah memahami sebuah konsep pemikiran secara mendalam hanya karena telah menonton beberapa video pendek, tanpa pernah menyentuh satu pun lembar buku atau kitab aslinya.

Ketika stimulasi visual dan informasi berubah setiap belasan detik, otak terus-menerus dibanjiri dopamin.

Dampak jangka panjangnya adalah terjadinya atrofi atau penyusutan daya fokus.

Membaca teks panjang, menganalisis narasi yang kompleks, atau melakukan diskusi mendalam menjadi aktivitas yang sangat melelahkan.

Pengetahuan tidak lagi mengendap menjadi kebijaksanaan.

Dalam kacamata tradisi pesantren, model belajar serpihan tanpa proses yang runtut ini ibarat kehilangan ketersambungan sanad keilmuan: kita mungkin mendapatkan potongan informasinya, tetapi kehilangan berkah, konteks, dan kedalaman pemahamannya.

IV. Jurang Pemisah: Ruang Uji Coba vs. Kolom Komentar

Perbedaan mendasar dari kedua lanskap belajar ini bermuara pada bagaimana hasil akhir dari pemikiran itu diuji.

Soekarno menguji esensi pemikirannya dalam dialektika sejarah yang konkret. Pertentangan ide di masa lalu diselesaikan melalui aksi nyata, pembentukan organisasi pergerakan, dan perumusan dasar negara. Ada risiko fisik dan intelektual yang nyata di sana.

Sementara hari ini, “pencerahan” yang ditemukan oleh anak muda di media sosial sering kali mandek di dunia digital.

Ide-ide tersebut tidak bertransformasi menjadi aksi sosial atau gerakan pemikiran yang membumi. Ruang uji cobanya bergeser ke kolom komentar.

Dialektika sehat digantikan oleh perang urat saraf antar-akun anonim, validasi instan lewat jumlah suka (likes), atau kepuasan semu setelah membagikan konten (repost).

Ide digital ini menjadi sangat rapuh karena tidak pernah menyentuh tanah realitas sosial yang sesungguhnya.

V. Penutup: Merebut Kembali Kendali Pikiran

Teknologi digital dan algoritma kecerdasan buatan (AI) hari ini pada dasarnya adalah pengganda kemampuan (amplifier).

Di satu sisi, AI bisa menjadi “kursi roda mental” yang melumpuhkan jika hanya digunakan sebagai alat contek instan untuk membuat tugas atau mencari jawaban cepat. Praktik ini justru memperparah kedangkalan berpikir.

Namun di sisi lain, jika kendali ada di tangan kita, AI bisa bertransformasi menjadi kawan dialektika yang luar biasa.

Alih-alih meminta AI mendikte apa yang harus kita pikirkan, Gen-Z harus menggunakannya seperti Soekarno menggunakan buku-buku di perpustakaan: sebagai pemantik debat.

Kita bisa memposisikan AI sebagai mitra tanding dalam bahtsul masail pribadi kita.

Gunakan AI untuk menguji ketajaman argumen kita, meminta sudut pandang yang berlawanan (devil’s advocate), atau membedah kekeliruan logika (logical fallacy) dari opini yang kita bangun.

Dengan begitu, AI tidak menumpulkan pikiran, melainkan menjadi batu asahan yang menajamkan daya kritis.

Tantangan terbesar hari ini bukanlah menghindari teknologi, melainkan merebut kembali kedaulatan berpikir dari diktat algoritma.

Sudah saatnya anak muda berhenti menjadi konsumen pasif di labirin digital.

Mari kembali mencontoh gaya belajar Soekarno remaja: menjadi pemburu esensi yang aktif bertanya, berani berdialektika secara kritis dengan teknologi, dan berkomitmen membumikan gagasan-gagasan besar itu ke dalam aksi nyata di dunia nyata.

Oleh: Achmad Jazidie