Surabaya, jurnal9.tv – Di koridor Kampus Universitas Negeri Surabaya (Unesa), sosok Elpanta Tarigan tak mungkin terlewatkan. Memiliki tinggi badan mencapai 2 meter, pemuda asal Deli Serdang, Sumatera Utara ini tampak mencolok. Namun, bukan hanya postur tubuhnya yang menjulang, kisah perjuangan hidupnya pun jauh melebihi rata-rata orang biasa. Ya Elpanta adalah wisudawan S1 Unesa penyandang disabilitas yang tidak beruntung. Karena kedua matanya divonis buta sejak ia berusia 12 tahun.

Lahir pada 16 Agustus 2001, perjalanan Elpanta menuju gerbang kesuksesan tidaklah mulus. Di balik senyum ramahnya, tersimpan memori perjuangan saat ia harus putus sekolah selama tiga tahun karena kendala biaya dan situasi hidup. Namun, jeda panjang itu tidak memadamkan apinya; ia justru bangkit melalui jalur prestasi.

Bakat atletik Elpanta terendus sejak remaja. Puncaknya, pada gelaran Pekan Paralimpik Pelajar Nasional (Peparpenas) 2017, ia berhasil menyabet medali emas untuk cabang olahraga tolak peluru. Tak hanya kuat di lapangan, Elpanta juga dikenal cerdas di atas papan catur.

Prestasi inilah yang membukakan pintu baginya untuk merantau ke Jawa Timur. Melalui jalur Beasiswa Penuh Afirmasi, Elpanta diterima di program studi S1 Pendidikan Luar Biasa (PLB) Unesa.

“Bagi saya, tinggi badan ini adalah titipan, tapi prestasi adalah pilihan. Sempat berhenti sekolah tiga tahun itu rasanya berat, seperti tertinggal jauh. Tapi saat saya pegang peluru dan berdiri di lapangan, saya tahu saya masih punya kesempatan untuk membuktikan diri,” ungkap Elpanta saat ditemui di sela acara Wisuda

Cemerlang di Bidang Akademik
Kini, Elpanta tercatat sebagai mahasiswa semester 7. Di tengah kesibukannya sebagai atlet dan mahasiswa, ia membuktikan bahwa otot dan otak bisa berjalan beriringan. Ia berhasil meraih IPK mengesankan, yakni 3,68.

Konsistensi ini menarik perhatian pimpinan universitas. Tak tanggung-tanggung, Rektor Unesa telah memberikan “karpet merah” bagi masa depan pemuda Deli Serdang ini. Elpanta dipastikan akan langsung diangkat menjadi karyawan di lingkungan Unesa segera setelah ia menyandang gelar sarjana.

Selain jaminan pekerjaan, Elpanta juga dijanjikan beasiswa lanjutan untuk menempuh studi S2 oleh Pak Rektor.

“Saya sangat bersyukur. Unesa sudah seperti rumah kedua yang menghargai saya apa adanya. Pak Rektor berpesan agar saya tidak berhenti belajar. Rencananya setelah lulus S1 ini, saya akan langsung tancap gas ke S2 sesuai janji beliau. Saya ingin membuktikan bahwa anak daerah yang sempat putus sekolah pun bisa jadi dosen atau tenaga ahli suatu saat nanti,” tambah Elpanta dengan mata berbinar.

“Tentunya Elpanta merupakan lulusan Unesa yang kami banggakan. Dan Rencananya kami akan terima bekerja di Unesa. Dan nanti biar pendidikannya berlanjut akan kita kuliahkan S2. Tapi dia harus pintar dan tekun belajar.” Ujar Rektor Unesa Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes. yang akrab disapa Cak Hasan

Kisah Elpanta Tarigan adalah pengingat bahwa keterbatasan fisik maupun finansial hanyalah rintangan sementara. Dengan ketekunan, tinggi badan 2 meternya kini bukan lagi sekadar pemandangan unik, melainkan simbol harapan bagi para penyandang disabilitas dan anak muda yang sedang berjuang meniti mimpi dari nol. (Sujianto)