Pasuruan, Jurnal9.tv – Sebagai madrasah rujukan Google pertama di Indonesia, MI dan MTs Darul Ulum Karangpandan, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Pasuruan, mendapat kunjungan dari MIN 2 Kota Malang. Dengan digitalisasi yang luar biasa, Madrasah Darul Ulum sangat menginspirasi MIN 2 Kota Malang karena sama-sama madrasah yang memiliki kesamaan dalam pembelajaran dan budaya yang diterapkan.

Kepala MIN 2 Kota Malang bersama komite, guru, juga Kepala Kemenag Kota Malang yang merangkap sebagai PLT Kepala Kemenag Kabupaten Pasuruan, Kasi Pendidikan Madrasah, serta Pengawas Madrasah Kota Malang, mengunjungi Madrasah Darul Ulum Karangpandan.

Kunjungan tersebut selain bersilaturrahmi juga ingin melihat penerapan digitalisasi di madrasah yang menjadi rujukan Google pertama. Acara tersebut juga dihadiri perwakilan dari Google dan Telkom.

“Pertama kali saya melihat madrasah sesuatu yang membuat saya terharu sekaligus bangga. Bahwa madrasah ini tidak menampilkan fisik belaka tetapi makna pendidikan yang sesungguhnya. Bahkan materi yang disampaikan sangat menginspirasi kami yang ada di Kota Malang. karena anak-anak disiapkan dan diberi bekal untuk hidup pada masa nanti. Sukses selalu untuk MI Darul Ulum Karangpandan,” ujar Abdul Mughni, Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Kota Malang.

Liza Timmy Zulva, Kepala MI Darul Ulum, menyampaikan beberapa pemaparan agar bisa memberi inspirasi dan motivasi kepada MIN 2 Kota Malang untuk menjadi google reference school. Terdapat 3 pilar utama mulai dari manajemen, guru, dan pembelajaran dengan siswa.

Liza menceritakan sedikit awal mula pencapaian yang berhasil didapat dari Google. Berawal dari keinginan untuk beradaptasi dengan teknologi. Kemudian dipilihlah Google sebagai alat pembelajaran karena mudah dipelajari dan gratis.

MI dan MTs Darul Ulum akhirnya mendapat penghargaan setelah melihat banyak parameter yang dicapai diantaranya membentuk ekosistem yang terintegrasi dimana para guru bekerja dengan alat Google sebagai alat kolaborasi dan diterapkan kepada anak-anak, adanya tambahan pelajaran literasi digital, serta antara guru dan siswa saat dikelas berinteraksi menggunakan google meet.

“Bersyukur bisa bersilaturrahmi ke Madrasah Darul Ulum Karangpandan. Madrasah digital luar biasa. Sangat mengisnpirasi kami. Berada di desa tetapi mengguncang dunia. Dengan digitalisasi yang luar biasa, anak-anak dengan berbagai macam karakter dan latar belakang tetapi bisa diajak untuk meraih dunia. Kami siap meniru dari apa yamg dilihat di sini. Kedepannya mudah-mudahan kerjasama ini terus terjalin dengar erat, harmonis, dan sama-sama mendukung madrasah meraih dunia,” ungkap Nanang Sukmawan Setiabudi, Kepala MIN 2 Kota Malang.

“Untuk MIN 2 Kota Malang kami sudah membuatkan roadmap bagaimana jalan agar MIN 2 bisa menjadi kandidat sekolah rujukan Google. Ada beberapa step yang saya berikan kepada kepala sekolah. Sekolah bisa mengagendakan dan membuat jadwal. Bila ada hal-hal yang ingin ditanyakan, saya siap menjadi konsultan bagi MIN 2 dalam upaya percepatan menjadi kandidat sekolah rujukan Google dari jenjang madrasah,” imbuh Arija Rose Wanodya, Google Education Specialist.

Acara tersebut juga diwarnai sesi tanya jawab yang membahas tentang tantangan para pengajar untuk mengikuti sistem digitalisasi. Para pengajar di Madrasah Darul Ulum menjawab banyak yang harus dipelajari, bisa melalui sharing dengan guru lain, membuat modul ajar untuk mengurangi kesulitan di dalam kelas, serta melakukan pelatihan internal dengan materi kendala guru yang dihadapi. Selain itu, guru senior mengaku berat saat beradaptasi dengan digitalisasi. Karena harus mengubah pembelajaran yang tradisional menuju digital. Namun dengan adanya support dari Kepala Madrasah dan guru lainnya, pihaknya terus belajar dan berusaha.

Seluruh tim dari Kota Malang diajak menyaksikan para siswa berproses. Bagaimana anak-anak menggunakan perangkat digital dalam pembelajaran. Siswa juga bisa berkreasi menjawab soal dari guru. Meski soal sama, namun dengan model jawaban yang berbeda sesuai karakter masing-masing anak.

Dengan banyaknya perangkat digitalisasi, diharapkan siswa dapat menggunakannya secara bertanggungjawab.