politik

Banyak Legenda Seni Lahir dari Surabaya, Tapi Seni Pertunjukannya Lesu Darah. Kenapa Ya?

QK_1595739387435
FOTO: Para seniman yang tergabung dalam Komunitas Seniman Surabaya saat bertemu Machfud Arifin di Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya, Sabtu (25/7/2020).

SURABAYA – Membangun Kota Surabaya bukan sekadar membangun infrastruktur. Tapi juga membangun segala hal ihwal yang berkaitan dengan aktivitas warga. Termasuk aktivitas di bidang seni pertunjukan.

Sayangnya, geliat seni pertunjukan di Kota Pahlawan ini tengah lesu. Salah satunya karena efek dari berkurangnnya tempat pertunjukan seni. Tidak banyak ruang yang representatif bagi para pelaku seni pertunjukan untuk berkiprah dan beraksi di panggung seni.

Siapapun tahu, dari Surabaya banyak lahir legenda seni pertunjukan rakyat. Tapi, itu dulu. Hari ini pentas ketoprak, wayang orang, dan ludruk yang menjadi ikon Jawa Timur sudah sangat jarang ditampilkan sebagai seni pertunjukan rakyat. Seni pertunjukan sedang lesu darah.

Keluhan ini disampaikan para seniman yang tergabung dalam Komunitas Seniman Surabaya di sela acara deklarasi dukungan pencalonan Machfud Arifin sebagai Wali Kota Surabaya di hotel Mercure Grand Mirama Surabaya, Sabtu (25/7/2020).

Haji Muhammad Suprapto Santoso, salah satu seniman dan juga pemrakarsa acara, menyampaikan harapan jika Machfud Arifin terpilih menjadi Wali Kota Surabaya, harus lebih memperhatikan nasib seniman Surabaya.

Menanggapi hal tersebut Machfud Arifin mengatakan bahwa Surabaya yang banyak kehilangan heritage tempat-tempat pertunjukkan seni nantinya akan difungsikan kembali.

“Gedung ludruk di Jalan Pulo Wonokromo dan Taman Hiburan Remaja (THR) akan menjadi PR yang harus diselesaikan dan dihidupkan kembali. (ilm/shk)


loading...
Comments

BERITA POPULER

To Top