Muktamar NU

Kemandirian Digital dan Peran Baru NU dalam Kompetisi Global, Dedy Permadi : NU Miliki Modal Kapital Gerakkan Ekonomi di Ruang Digital

nu digital

Surabaya, Jurnal9.tv- Terdapat sejumlah agenda yang akan dibahas pada Muktamar Ke-34 Nahdlatul Ulama, tanggal 23 sampai 25 Desember 2021 di Lampung, di antaranya adalah kemandirian ekonomi, bonus demografi, hingga teknologi digital.  Saat ini, kita sedang mengalami satu fase bangsa yang sangat krusial, karena berada di tengah pandemi COVID 19. Salah satu peluang yang terdapat di dalamnya terkait dengan pemanfaatan ruang digital. Banyak sektor yang mengalami perlambatan pertumbuhan akibat pandemi COVID 19. Namun, salah satu sektor yang masih tumbuh positif adalah sektor digital. Sektor digital masih tumbuh positif selama 3 kuartal berturut-turut di tahun 2020 dan menjadi satu-satunya sektor yang tumbuh positif 2 digit selama 3 kuartal di tahun 2020. Secara komulatif, pertumbuhannya mencapai 10,58%. Angka tersebut menunjukkan bahwa walaupun kita sedang menghadapi COVID 19, kita memiliki peluang yang sangat besar di ruang digital. Kita perlu memastikan bahwa kesempatan itu dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kebermanfaatan umat yaitu dalam konteks kemandirian.

“Ada banyak potensi yang bisa dimanfaatkan oleh organisasi kemasyarakatan seperti NU. Saya yakin, NU memiliki 1 modal kapital yang sangat besar untuk bisa memanfaatkan ruang digital secara positif dan produktif. Misalnya untuk kepentingan ekonomi atau kepentingan sosial bahkan kepentingan budaya.” Ujar Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Bidang Digital dan Sumber Daya Manusia, Dedy Permadi.

Dalam hal kepentingan ekonomi, kita bisa memberdayakan umat dengan cara memanfaatkan ruang digital. Di tengah kelesuan pandemi COVID 19, UMKM mengalami penurunan omset. Kita masih bisa melihat optimisme, ketika UMKM bisa digital on board atau melakukan digitalisasi, dengan berjualan melalui media sosial ataupun platform digital e-commerce seperti tokopedia, bukalapak dan lain sebagainya.

Dedy Permadi mengatakan, terdapat 84 juta UMKM di seluruh Indonesia dan berkontribusi terhadap 60% terhadap pertumbuhan PBD Indonesia, artinya UMKM kita ini memiliki peluang yang luar biasa besar. Tetapi baru sekitar 13 juta atau kurang dari 20% UMKM kita yang melakukan transformasi digital atau memanfaatkan ruang digital, artinya masih ada 80% lebih UMKM yang bisa memanfaatkan peluang digital ini untuk kebermanfaatan ekonomi.

“Demikian pula dengan aspek sosial, dan aspek budaya. Saya yakin bahwa warga NU bisa memberdayakan ruang digital ini untuk kepentingan sosial dan budaya dengan menyebarkan perdamaian, kesatuan, prinsip multikulturalisme.” Tambahnya.

Rekan-rekan muda NU memiliki gerakan yang bernama Ais Nusantara (Arus Informasi Santri Nusantara), di mana Ais Nusantara ini berisi sekelompok influencer atau santri-santri yang berpengaruh di media sosial. Ais Nusantara membuat satu gerakan yang bersama-sama memastikan, bahwa para santri di manapun berada bisa berkontribusi terhadap sehatnya ruang digital dengan membagikan konten yang positif dan produktif.

“Ruang digital atau internet, seperti pedang bermata dua. Ada sisi satu, dan ada sisi dua. Ada sisi positif, dan ada sisi negatif. Kita harus berhati-hati dalam memanfaatkan sisi positifnya.” Jelas Dedy Permadi.

Aspek negatif ruang digital menjadi tantangan besar bagi Kominfo. Persebaran konten negatif di ruang digital seperti yang saat ini sedang ramai diperbincangkan yaitu kasus siskae, tergolong konten yang melanggar undang-undang karena bermuatan pornografi dan pornoaksi. Hal itu sudah diatur dalam Undang-Undang ITE pasal 45 ayat 1 juncto pasal 27 ayat 1. Konten asusila, dilarang beredar di ruang digital. Pada tahun 2018 sampai kemarin 14 Desember 2021, Kominfo sudah memblokir 1,67 juta konten pornografi yang ada di internet. Selain itu, aspek negatif internet yaitu penipuan online, perjudian, cyber bullying atau perundungan cyber, juga marak terjadi di lingkungan anak-anak, remaja, dan pemuda. Bahkan ada yang sampai frustrasi dan lain sebagainya. Penyebaran paham radikal di platform digital juga perlu diwaspadai bersama.

Muktamar NU merupakan sebuah momen penting untuk lima tahun ke depan. Bagaimana arah NU untuk menghadapi masalah-masalah aktual.

“Menurut saya, perlu ada sebuah gagasan. Bagaimana sebenarnya negara menghadapi dan mengharapkan peran NU. Menurut survei, sekitar 100 juta orang yang merasa cocok dengan NU. Jika kita menggunakan model, bahwa hari ini ada 170 juta pengguna internet, sekitar 160 juta media sosial aktif. Maka bisa dikatakan, dalam 100 juta orang, yang merasa enjoy dengan NU setidaknya ada sekitar 40 atau 50 juta pengguna internet di Indonesia. Itu yang bisa digerakkan oleh NU. Saya kira ini angka yang sangat signifikan.” Ujar CEO TV9 Nusantara, H. A. Hakim Jayli.

Salah satu yang kita harapkan dan peluang besar yang terbuka meskipun kita di tengah pandemi COVID 19 adalah ruang digital yang dimanfaatkan secara optimal. Istilah transformasi digital menggambarkan satu proses yang komprehensif, holistik, yang melibatkan multi-stakeholder baik pemerintah, masyarakat, maupun pihak-pihak lainnya, untuk bersama-sama memanfaatkan momentum dan potensi-potensi yang ada di ruang digital.

Dady Permadi menjelaskan, sejak Agustus tahun 2020 kemarin, Presiden Jok Widodo telah mencanangkan yang namanya percepatan atau akselerasi transformasi digital nasional. Digital nasional ini meliputi lima langkah percepatan yang pertama adalah terkait dengan percepatan perluasan akses internet. Kedua yaitu percepatan pembuatan roadmap transformasi digital, terutama yang menyangkut sektor-sektor strategis. Ketiga adalah bagaimana Kominfo mempercepat integrasi pusat data. Keempat mempersiapkan regulasi. Dan yang terakhir mempersiapkan kebutuhan SDM.

“Dari arahan Presiden tersebut, kita terjemahkan ke dalam empat pilar, yaitu infrastruktur digital, pemerintahan digital, ekonomi digital, dan masyarakat digital.” Tambah Dady Permadi.

“Kita sangat gembira, kita sudah sangat siap untuk benar-benar membuat dunia digital ini bisa berdampak besar buat masyarakat. Karena memang yang penting memang sumber daya manusia. Ketika sumber daya manusianya siap, kita bisa mengakselerasi kemajuan-kemajuan di sektor digital itu, namun ketika sumber daya manusianya tidak siap kita kan jadi konsumen saja. Dan apa yang disampaikan tadi, banyak hal yang saya kira juga nyambung dengan agenda-agenda teman-teman di NU.” Ujar Sekretaris LTN PBNU, Savic Ali.

Mengenai kelembagaan NU, saat ini banyak yang membangun database yang baik. Misalnya KARTANU, pendaftaran KARTANU sudah bisa melalui online, sehingga tidak perlu datang ke kantor NU. Hal tersebut merupakan upaya memanfaatkan teknologi untuk memecahkan kebutuhan di level organisasi.

“Saya sangat mengapresiasi bagaimana kontribusi dan juga peran NU di dalam membangun ruang digital digital Indonesia yang positif dan produktif. Selama ini Kominfo merasakan itu secara nyata. Bagaimana selama ini kami sangat terbantu dan kita juga bisa berkolaborasi dengan NU untuk berbagai program. Saya rasa, ini menjadi hal positif dan perlu kita itu tadi ditindaklanjuti dengan kerjasama dan kolaborasi yang lebih dalam ke depannya supaya ini lebih bermanfaat.” Pungkas Dedi Permadi. (uwh/snm)

 

 

Comments


BERITA POPULER

To Top