NU-PESANTREN

Kasus Pemerkosaan Santri oleh HW Tidak Menurunkan Kepercayaan Orangtua terhadap Pesantren

pesantren

 

Surabaya, Jurnal9.tv-Adanya kasus pemerkosaan 12 santri oleh HW, memang sedang ramai diperbincangkan publik. Namun, jika kasus tersebut menjadikan para wali santri untuk tidak ingin memondokkan anaknya, hal tersebut sangat keliru. Sebab sebenarnya lokasi tersebut bukanlah pesantren, melainkan sebuah boarding school.

 

“Kita mendapatkan klarifikasi dari RMI, bahwa pesantren ini tidak termasuk dalam kategori pesantren karena tidak tercantum dalam data RMI. Jadi ia memang murni namanya boarding school.” Ujar Ning Hj. Widad Bariroh, Wakil Kepala Pesantren Bayt Al Hikmah Pasuruan.

Boarding school sendiri jelas berbeda dengan pesantren pada umumnya, meskipun banyak pesantren yang sekarang mempunyai khas pesantren moderen, yang memiliki fasilitas yang sama dengan boarding school. Namun pada dasarnya boarding school sendiri banyak jenisnya di Jawa Timur. Perbedaan antara boarding school dengan pesantren yaitu boarding school merupakan sekolah berasrama yang memang manajemennya diisi oleh orang akademisi, atau bisa dikatakan seorang penggalang dana, dan terdapat manajemen yayasannya, namun tidak berbasis pada pengasuhan seorang Kiai dan Bu Nyai. Sedangkan pesantren cenderung lebih sederhana, karena memang yang diajarkan dalam pesantren adalah riyadhoh, tirakad, bagaimana dapat beretika dengan baik, bagaimana belajar memanajemen emosi dengan kondisi yang serba terbatas. Hal tersebut berbeda dengan boarding school sekalipun pesantren moderen.

“Saya yakin, kiblat dan figurnya pesantren modern tetap dianut, dan segala kebijakan atau keputusan tetap pada seorang pengasuh  yaitu Kiai dan Bu Nyai.” Tegas Ning Widad.

Terkait dengan keraguan seorang ibu untuk memondokkan anak atau tidak, kembali ke personal masing-masing, dan kembali ke persiapan orang tua. Apabila orang tua siap secara dohir maupun batin untuk melepaskan anak, maka boleh-boleh saja. Karena banyak sekali orang tua yang tidak tega untuk meninggalkan anak di pesantren, akhirnya anak yang menjadi korban, atau anak yang terlanjur betah mau tidak mau harus dikeluarkan dari pesantren. Semua kembali ke kekuatan masing-masing, mulai dari kekuatan finansial dan emosional, tergantung dari parenting masing-masing.

Yang perlu diajarkan kepada anak adalah, sejak ia berusia di mana ia sudah mulai bisa mencerna pembicaraan, atau ucapan orang tuanya kurang lebih 3 tahun, yaitu bagaimana ia lahir, siapa yang telah menciptakan, ia lahir untuk apa, hidup untuk apa, meninggal itu bagaimana, bagaimana nanti proses perhitungan amal dia di akhirat dan sebagainya. Menjadi orang baik itu bagaimana, dan pendidikan tentang gender juga perlu diberikan. Seperti bagaimana ia nanti bisa menjaga kehormatan dirinya sendiri, bagian-bagian mana saja yang tidak boleh dipegang oleh orang lain, bahkan bagaimana ia bisa menghormati privasi orang lain contohnya meminta ijin untuk masuk ke dalam kamar saudaranya sekalipun.

Apa saja yang perlu kita persiapkan untuk memondokkan anak kita?

  • Yang pertama yaitu sounding anak, bahwa akan mondok sejak dini, bahkan sejak dia baru kenal namanya sekolah.
  • Kedua, segera survey ke pondok yang diinginkan. Perhatikan sistem pesantren yang sesuai dengan UU Kepesantrenan, Ada pengasuh Kiai dan Bu Nyai sehingga bersanad, kitab kuning dan wirid, juga bagaimana ideologi pesantrennya, sistem pendidikannya, yang menjadi penunjang berikutnya tentu fasilitas pesantren yang diinginkan.
  • Ketiga, Siapkan anak kita secara fisik dan mental karena proses transisi kebiasaan itu panjang dan tidak bisa dilakukan hanya dalam waktu singkat menjelang anak kita berangkat ke pesantren.
  • Keempat, usahakan anak kita sudah memiliki bekal mengaji yang baik.
  • Kelima, mulai lakukan proses transisi penggunaan gadget.
  • Keenam, berikan informasi yang jujur dan benar terkait kebiasaan dan informasi penting tentang anak kita kepada pihak pesantren.
  • Ketujuh, pastikan sudah mempersiapkan slot keuangan untuk biaya pesantren dan uang saku santri.
  • Kedelapan, orang tua harus menata kesiapan mentalnya sendiri.
  • Dan terakhir, sebagai orang tua yang baik untuk anak kita yang sholih, baiknya kita belajar memantaskan diri sebagai wali santri.

 

Ning widad juga menyampaikan hal tersebut dalam akun Instagram pribadinya @widad_bariroh. (uwh/snm)

Comments


BERITA POPULER

To Top