peristiwa

Fery: Dalam Gendongan Jarik, Jenazah Anak Saya Bawa Pulang Naik Motor

68B1948D-5FB3-44E2-8046-48DEBA9497E0

Kasus Bayi Berubah Kelamin Di RSUD Nganjuk Jadi Perhatian Dewan

NGANJUK, JURNAL9.tv – Kasus “bayi tertukar” dengan dugaan malaadministrasi di RSUD Nganjuk masih terus berlanjut. DPRD setempat berniat melakukan investigasi untuk menuntaskan kasus tersebut.

“Saya akan perintahkan Komisi 4 secepatnya memanggil dan membentuk tim investigasi. Saya tegaskan secepatnya dan digelar terbuka bersama seluruh media,” kata Ketua DPRD Kabupaten Nganjuk Tatit Heru Tjahyono.

Tatit menyatakan, kasus yang terjadi di RSUD Nganjuk ini telah menjadi bahan pemberitaan di berbagai media massa. Itu artinya akan memperburuk citra pelayanan di hadapan masyarakat.

Sebagaimana diberitakan JURNAL9.tv pasangan suami istri Fery Sujarwo dan Arum Rosalia berniat menggugat pihak RSUD Nganjuk atas dugaan malaadministrasi. Bayi mereka dalam catatan administrasi rumah sakit tertulis berjenis kelamin perempuan. Bayi tersebut meninggal dan ternyata jenazahnya berjenis kelamin laki-laki.

Selain soal dugaan malaadministrasi itu, Fery mengungkap fakta terbaru terkait Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam penanganan jenazah di RSUD Nganjuk.

“Saya membawa mayat anak saya yang terbungkus kain jarik dalam gendongan. Saya menaiki sepeda motor tanpa membawa surat keterangan kematian,” kata Fery.

Dalam pengakuan Fery, pihak rumah sakit memberitahu bahwa anaknya telah meninggal dan memintanya membawa kain jarik. Ia juga diminta mengambil jenazah bayinya agar segera dibawa pulang untuk dimakamkan.

“Saya ambil anak saya di luar ruangan inkubator, bukan di kamar mayat. Lalu dengan pembungkus kain jarik saya bawa pulang,” jelas Fery.

Fery mengaku heran tidak ada urusan surat menyurat dalam proses pengurusan kematian anaknya di rumah sakit. Termasuk juga surat kematian, surat jalan, tidak selembar pun ia terima dari pihak RSUD Nganjuk.

“Saya membawa pulang tanpa disertai surat apapun, apalagi ambulans. Saya hanya dibonceng dengan sepeda motor.

Dengan munculnya fakta baru ini Ketua DPRD Tatit mengaku kian prihatin.

Menurutnya, pihak rumah seharusnya memberi prioritas fasilitas kepada masyarakat. “Kalau memang benar dari hasil investigasi nanti jenazah pulang tanpa mobil ambulans itu kesalahan fatal bagi RSUD”, tegasnya.

Tatit menjelaskan bahwa saat ini pemerintah sudah membebaskan refocusing anggaran bagi rumah sakit dan dunia pendidikan. Sangat ironis jika hanya sekadar mobil ambulans RSUD tidak bisa menyediakan.

“Saya anggap ironis. Ada puluhan ambulans di Nganjuk. Tapi pihak rumah sakit membiarkan jenazah pulang dengan hanya dibungkus jarik dan naik sepeda motor,” sesal Tatit. (bgs/ren/shk)

loading...
Comments

BERITA POPULER

To Top