NU-PESANTREN

Gelar Parade Muharam Lintas Etnis, MINU Trate Putri Gresik Kenalkan Toleransi Beragama

Gresik, Jurnal9.tv – Ratusan siswi NU di Gresik menggelar parade Muharam lintas etnis dalam rangka memeriahkan tahun baru islam sekaligus menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-77.

Beragam busana muslim lintas etnis dikenakan siswi Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama (MINU) Trate Putri Gresik. Mulai dari etnis jawa, etnis tionghoa, etnis arab dan lain sebagainya.

Mereka memperagakan busana sambil fashion show di atas panggung sekolah dan berjalan kaki melintasi perkampungan warga. Ada yang naik seekor kuda hingga becak motor yang telah dimodifikasi seperti kereta kencana.

Siswi kelas enam, Rahmawati Fitri mengaku senang dengan banyaknya etnis muslim yang ada di Indonesia maupun Gresik. Dia melihat di Gresik, banyak masyarakat muslim dari berbagai etnis bisa hidup berdampingan.

“Budaya Gresik adalah hidup rukun berdampingan, ada toleransi terhadap banyak etnis seperti Arab, China dan Jawa di sekitar sekolah saya,”kata Rahma, Jum’at (12/08).

Kepala MINU Trate Putri, Purwanto menuturkan dengan adanya parade Muharam lintas etnis ini, para siswinya tahu bahwa di Gresik tidak hanya dilihat satu etnis saja. Banyak etnis hidup rukun berdampingan di Gresik mulai dari Jawa, Arab dan China.

“Masyarakat di Gresik mayoritas beragama islam hidup berdampingan dengan beragam etnis. Sehingga anak-anak kita perlu memiliki satu pemahaman, saling menghormati, saling menyayangi sesama manusia. Toleransi antar sesama,” ujar Purwanto.

Sementara Budayawan Gresik, Kris Adji mengatakan, parade Muharam lintas etnis yang digelar MINU Trate Putri Gresik ini merupakan langkah yang tepat. Sebab, kegiatan ini sebagai upaya memperkenalkan lembaga dan edukasi kepada para siswi, orang tua dan masyarakat terkait tradisi Muharam.

“Dengan acara ini diharapkan tumbuh karakter muslim sejati selain memperkokoh ibadah mahdloh juga tidak meninggalkan ibadah muamalah, ibadah khas islam di nusantara,”tutur Kris Adji yang sekaligus menjadi Juri parade.

Selain itu, tambah Kris Adji, mayoritas siswi ini tinggal di kawasan akulturasi budaya yang hidup berdampingan secara rukun selama ratusan tahun. Sehingga melalui kegiatan ini bisa menumbuhkan kreatifitas sekaligus wawasan siswi sebagai modal bersikap toleran di masyarakat.

“Kreatifitas tumbuh sejalan dengan usia dan wawasan mereka. Sehingga rasa dan sikap toleransi atas perbedaan yang ada di lingkungan mereka, tentunya bisa tumbuh secara alami,”tutupnya.(AP/REN)



BERITA POPULER

To Top