Home » Bismillah! Renovasi Gedung Eks Markas Oelama “MBO” di Waru Segera Dimulai
NU-PESANTREN

Bismillah! Renovasi Gedung Eks Markas Oelama “MBO” di Waru Segera Dimulai

Surabaya, jurnal9.tv -Gedung eks ‘Markas Besar Oelama’ (MBO) atau Markas Oelama Djawa Timoer (MODJ) yang berada di Waru, Sidoarjo akan segera dipugar. Proses renovasi tahap pertama terhadap gedung bersejarah yang pernah dijadikan markas para ulama dan santri untuk persiapan perang 10 November 1945 ini dimulai pada 10 Desember 2023.

Ketua Tim Pelaksana Renovasi dan Revitalisasi Gedung MBO A. Afif Amrullah di Surabaya, Rabu (6/12), menjelaskan renovasi harus segera dimulai mengingat intensitas hujan di Jawa Timur sudah mulai tinggi dan sangat berbahaya jika Gedung MBO dibiarkan begitu saja.

“Atapnya bocor dan rawan ambruk. Jadi, renovasi tahap pertama ini akan segera kami mulai. Targetnya untuk membenahi dan menguatkan struktur atap bangunan,” kata pria yang juga Ketua lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) PWNU Jawa Timur ini.

Afif menambahkan, tim yang dibentuk oleh PWNU Jawa Timur ini sudah menyiapkan desain dan skenario proses renovasi. Ia merinci tahapannya dibagi menjadi empat bagian. Tahap pertama fokus pada pembenahan atap. Tahap kedua nanti pada penguatan struktur bangunan utama, kemudian tahap ketiga adalah penyempurnaan interior dan multimedia.

“Tahap terakhir adalah penyiapan manajemen operasional gedung. Jadi, mohon doanya semoga semuanya bisa berjalan lancar. Nantinya ini akan kita fungsikan sebagai ‘mini museum’ Markas Besar Oelama yang bermanfaat sebagai sarana edukasi, wisata religi dan cagar budaya,” jelasnya.

Selain itu, Afif menyampaikan bahwa dana renovasi gedung sementara ini bersumber dari donasi masyarakat dan bantuan pemerintah daerah. Namun mengingat kebutuhannya sangat besar, pihaknya juga masih terus membuka kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk berkontribusi dengan menyumbangkan dana renovasi gedung bersejarah ini.

Dana bantuan dapat disalurkan secara online melalui https://nucare.id/program/renovasimbo atau transfer ke rekening BSI 177-7777-757 dan BCA 429-8624-999 atas nama Lazisnu Jatim, kemudian melakukan konfirmasi melalui WA ke 0896-3009-2626.

“Untuk renovasi gedung eks MBO yang beralamat di Jl. Brigjen Katamso IA Gg. Satria No.181, Kedungrejo, Kec. Waru, Kabupaten Sidoarjo itu diperkirakan membutuhkan biaya Renovasi/Revitalisasi untuk tahap I (pembangunan Atap: 50 Juta), lalu tahap II (konstruksi bangunan utama: Rp350 juta (Januari-Mei 2024), serta tahap III (interior, koleksi museum, multimedia) Rp150 juta,” kata aktivis IPNU Jatim itu.

Sementara itu, Wakil Ketua Tanfidziah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur HM Sholeh Hayat menyatakan pihaknya mencanangkan penggalangan dana untuk renovasi dan revitalisasi eks gedung MBO Waru, Sidoarjo, Jawa Timur, guna melestarikan bangunan bersejarah serta menguatkan semangat nasionalisme generasi muda.

“Menjelang pertempuran 10 November 1945, para ulama semula menggalang kekuatan di Markas Oelama Djawa Timur di Blauran, Surabaya, lalu bergeser ke Markas Besar Oelama di Waru, Sidoarjo,” katanya.

Dalam sejarahnya, Sholeh Hayat yang juga Ketua Dewan Pengarah Tim Renovasi dan Revitalisasi MBO itu menjelaskan markas yang kecil memang sengaja tidak diumumkan para kiai untuk menghindari intelijen Belanda, namun ulama dan santri dari beberapa daerah di Jawa berkumpul di Waru dengan naik kereta.

Selain KH Hasyim Asy’ari, KH Bisri Syansuri, dan KH Wahab Chasbullah, beberapa ulama yang sering datang ke markas itu, antara lain Kiai Hasan dari Genggong-Probolinggo, Kiai Munasir Ali dan Kiai Achiyat Chalimy dari Mojokerto, Kiai Abbas Buntet dari Banten, Kiai Machrus Ali dari Lirboyo-Kediri, Kiai Hasyim Latief dari Sepanjang-Sidoarjo, dan sebagainya.

“MBO ditemukan sesuai informasi Kiai Hasyim Latief dan Kiai Munasir Ali, juga ada foto MBO di Kodam V/Brawijaya. Jadi, MBO merupakan markas perjuangan untuk mengatur strategi dan melakukan penggemblengan guna membela kemerdekaan yang sudah diproklamasikan Soekarno-Hatta, apalagi Sekutu mengamuk karena Jenderal Mallaby tewas oleh anak-anak Hizbullah,” kata mantan Ketua PW IPNU Jatim itu. (*)