Home » Tiga Pesan KH Nurul Huda Djazuli untuk Kader dan Pengurus NU
Nahdlatul Ulama NU-PESANTREN

Tiga Pesan KH Nurul Huda Djazuli untuk Kader dan Pengurus NU

Jombang, Jurnal9.tv – KH. Nurul Huda Jazuli, Ulama Sepuh yang merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso Kediri turut hadir dalam Tasyakuran 1 Abad NU Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang digelar di Ponpes Tebuireng Jombang, Kamis (16/02/23) Malam.

Di forum penting yang digelar hingga tengah malam, Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama tersebut diminta oleh Kiai Anwar Iskandar sebagai moderator untuk menyampaikan harapan dan tugas kepada Nahdlatul Ulama kedepannya.

Sebagai Mustasyar PBNU beliau meminta pengurus NU Sadar Sebagai Khodam, Pelayanan bagi Nahdlatul Ulama dan berharap dilandasi dengan Keikhlasan dalam berjuang.

“Tolong dijaga (NU), barangkali ini adalah kenangan satu-satunya dari mbah kiai Hasyim dan kiai lainnya. Saya mengharapkan semuanya, menyadari saya (kita) ini adalah khodamnya Mbah kiai Hasyim Asy’ari, dengan begitu insyaallah kita semua mendapat Taufik dan hidayah dari Allah SWT,” pintanya.

Beliau juga mengingatkan perjuangan NU tidak mudah dan tidak merasa jumawa karena kebesaran Jam’iyah, semua ini terjadi karena barokah dari adanya pondok pesantren. Sehingga para pengurus diminta untuk berniatlah dengan baik.

“Kepada para hadirin pimpinan NU yang saya muliakan, harapan dari saya, perjuangan NU memang tidak enteng, kita ini sedang jihad Li I’laa kalimatillah. Ini kita jangan kemudian kita merasa besar, NU begini Wallahi saya yakin adalah barokah dari adanya pondok pesantren,” pesannya.

“Tidak mungkin Jam’iyah ini besar tanpa adanya pesantren dan santri yang meneruskan perjuangannya. Maka yakinlah antum dalam menggerakkan NU, berniatlah dengan baik, berniatlah dengan baik”.

Sebelumnya, KH. Nurul Huda Djazuli menyempatkan diri untuk berdoa di makam Gus Dur dan Kiai Hasim Asy’ari dengan khusyuk dan terlihat meneteskan air mata yang diikuti oleh para jemaah yang segera mendekat di samping beliau yang duduk di atas kursi roda.

Pesan kedua yang diminta Pengasuh Al Falah Ploso ini, Memohon agar ijtihad di antara pengurus NU ini dibangun di atas prinsip ukhuwah dan persatuan, tidak terpecah belah. Terlebih menjelang Pemilu beliau mengingatkan para kiai dan pengurus untuk tidak berpisah.

“Wa khoirunniat bi dzalik, Pengurus, anggota dan pimpinan harus kompak bersatu jangan sampai sa’ kareb Dewe. Khususon mendekati pemilu. Memang mungkin niatnya baik tapi kita semua harus hati-hati, khususnya NU dan para kiai,” nasihatnya kepada pengurus.

“Jangan sampai saya dan antum itu berpisah, usahakan untuk menyatu dengan jalan apa saja. Karena persatuan lebih dari apapun,” lanjutnya.

Pesan ketiga yang disampaikan KH. Nurul Huda Djazuli, beliau Berharap perhatian NU terutama melalui pihak (kementerian) yang memiliki otoritas terhadap pondok pesantren bertanggungjawab dan memperhatikan masa depan pesantren di Indonesia yang telah melahirkan para ulama

“Jadi terus terang, saya memang merasa dengan adanya Gus Yahya sebagai Pimpinan PBNU dan adiknya sebagai Menteri Agama, saya terus terang matur nuwun bersyukur tapi sekaligus berharap  Gus Yaqut sebagai menteri agama, semua urusan pondok, madrasah dan haji bisa makin baik, ini harapan saya,” pintanya.

Dalam Kegiatan tersebut, KH. Nurul Huda Djazuli menyampaikan mandat Masyayikh yang diharapkan dapat dilakukan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, hadir pula KH. Kafabih Mahrus Ponpes Lirboyo, KH. Abdul Hakim Mahfudz Ponpes Tebuireng, KH. Masduki Abdurahman Al-Hafiz, KH. Abdurrahman Idris Hamid, KH. Miftachul Akhyar, KH. Yahya Cholil Staquf, KH. Husen Ilyas, KH. Anwar Iskandar, Ning Alissa Wahid dan Ning Yeni Wahid beserta sejumlah tokoh lainnya.

Tiga Pesan Mendalam yang disampaikan KH. Nurul Huda Djazuli dalam Tasyakuran 1 Abad NU di Ponpes Tebuireng Jombang tersebut adalah : 

1). Pengurus NU Sadar Sebagai Khodam, Pelayanan bagi Nahdlatul Ulama dan berharap dilandasi dengan keikhlasan dalam berjuang .

2). Memohon agar ijtihad diantara pengurus NU ini dibangun di atas prinsip ukhuwah dan persatuan, tidak terpecah belah.

3). Berharap perhatian NU terutama kementerian yang memiliki otoritas terhadap pondok pesantren bertanggungjawab dan memperhatikan masa depan pesantren di Indonesia yang telah melahirkan para ulama.

“Kalau saran saya NU itu harus kompak. Siapapun yang Khodidmah jangan sekali-kali Bhudeg (tuli), rebut kekuasaan, rebutan jabatan . Kita disitu itu adalah berjuang Li ‘ila kalimatillah. Paling tidak kita ini berkhidmat kepada guru kita Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Kalau mengenai masalah NU, saya disitu sangat mendukung karena Mbah kiai Hasyim adalah guru saya. Guru dalam mengaji adalah segala-galanya”.

“Makanya kalau saya dengar hal -hal yang tidak berkenan dalam NU dan tidak cocok menurut saya, eman-eman. Ini saya berikan (sampaikan) Wallahi lillahi ta’ala, sama sekali saya tidak punya harapan apa-apa, apa yang saya cari? Tidak ada. Makanya kalau kita matur-matur (menyampaikan sesuatu), setidak-tidaknya mohon diperhatikan , mohon diperjuangkan. Dan memang saya ingin NU itu kompak bergandengan tangan jangan dilepaskan untuk selamanya,” pungkasnya. (zen/snm)