Muktamar NU

Islam Global dan Peran Internasional NU, Dubes Tunisia: Keberislaman itu Take and Give

Surabaya, Jurnal9.tv- Saat ini kita hidup di zaman globalisasi, di mana tidak ada lagi batas-batas wilayah sehingga kita mudah terhubung dengan berbagai pengurus NU di berbagai wilayah. Kita juga tahu bahwa keberislaman pun saling take and give atau mengambil dan memberi, artinya bahwa kita yang dari kalangan orang Indonesia, mengambil keberislaman yang ada di luar negeri, dan berlaku sebaliknya.

Zuhairi Misrawi, Dubes RI di Tunisia mengatakan, dampak dari globalisasi budaya, globalisasi ekonomi, politik, juga terjadi pada globalisasi islam. Kita harus mempersiapkan diri, bagaimana kita tidak hanya mengambil dari ekspresi-ekspresi keberislaman yang ada di dunia, tetapi kita juga memberi, mewarnai keberislaman dengan apa yang disebut ahlulsunnah wal jamaah ala NU, atau islam nusantara. Jadi pada intinya, memang islam menjadi  agama yang mengglobal.

Islam di Tunisia adalah islam ahlulsunnah wal jamaah. Uniknya PCNU Tunisia ini bahwa mustasyarnya adalah orang-orang dari ulama-ulama Tunisia, yaitu rektor dari Universitas Zaitunah. Kebanyakan orang-orang NU di Tunisia ini, menggunakan mazhab maliki, berbeda dengan orang-orang Indonesia yang menggunakan mazhab Imam Syafi’i.

Sedangkan islam di Tiongkok, amaliyah NU kurang lebih sama seperti di Indonesia yang menggunakan mdzhab Hanafi. Namun, terdapat sedikit perbedaan meskipun secara umum kurang lebih sama.

Ahmad Syaifuddin Zuhri, Rais Syuriah PCINU Tiongkok 2021-2023, Student of PhD School of Politics and International Studies Central China Normal University (CCNU) menjelaskan, akhir-akhir ini juga muncul kelompok-kelompok kecil di Tiongkok yang memerintah, terpengaruh dari kelompok-kelompok luar, tetapi memang belum kelihatan secara signifikan. Hal itu menjadi perhatian dari pemerintah setempat. Terkait dengan hal tersebut, karena fenomena global yang ekstrim sudah mulai cukup mengkhawatirkan terutama di daerah perbatasan Tiongkok bagian barat.

“Secara kasat mata, kita melihat ada perkembangan yang signifikan, mulai munculnya masjid-masjid baru, banyaknya resto halal yang dikelola oleh Muslim setempat, banyak orang-orang muslim yang bertebaran di sepanjang jalan, dan kita banyak berjumpa dengan muslim yang khas.” Jelas Ahmad Syaifuddin Zuhri.

Tiongkok, biasanya identik dengan komunisme. Secara regulasi, di Tiongkok, tidak boleh ada organisasi internasional yang berbasis keagamaan. Hal ini menjadi menarik, ketika NU berdiri tahun 2017 dan ketika konferensi cabang pertama, keputusan konferensi cabang pertama tidak di Tiongkok, akan tetapi di Malang, tepatnya di Pesantren Al-Ikhlas Singosari Malang, warga Tiongkok sangat menyambut bisa beraktivitas dan sebagainya. Respon dari pemerintah juga luar biasa, terutama pemerintah lokal wilayah setempat, tetapi pemerintah pusat itu mereka cukup melihat sangat luar biasa. Di bulan Maret kemarin, NU secara khusus diminta oleh pemerintah pusat lewat komite pusat Partai Komunis Tiongkok, untuk memberi masukan terkait dengan konflik di xinjiang Islam.

“Hal itu menjadi awal dari sana dan akhirnya ketika 2000-2018 kita menguatkan simpul-simpul kita di kampus-kampus yang notabene atau jaringan santrinya.” Jelas Ahmad Syaifuddin Zuhri.

Selain itu, di negara UK, pada dasarnya, ada keterkaitan dengan sejarah yang punya koloni di British Raj yang sekarang menjadi India, Pakistan, dan juga Bangladesh.

“Rekan-rekan musim di UK, didominasi oleh rekan-rekan dari Pakistan. Secara amaliyah rekan muslim di UK sangat dekat dengan ahlussunnah wal jamaah.” Ujar M. Rosyid Jazuli, Program PhD Student UCL London UK.

Peran NU di dunia, sudah dilakukan sejak dulu, bahkan jauh sebelum berdirinya Nahdlatul Ulama, seperti yang dimaksud dengan Komite Hijaz. Kita tahu, masa-masa setelah itu, NU terus mewarnai cara berpikir keberislaman, karena bagaiamana pun, cara berpikir NU yaitu toleran, moderat, dan penuh keberimbangan.

“Kita melihat, ulama-ulama NU mewarnai dunia yang semakin terang. Pengurus Cabang Istimewa NU berdiri di berbagai negara dan terdapat 31 negara yang sudah resmi memiliki SK dari PBNU. Peran-peran ini dilakukan oleh diaspora NU.” Ujar Zuhairi Misrawi.

“Kehadiran PCINU memaksimalkan komunikasi, syiar, dan konsolidasi. Saya sendiri ingin supaya peran NU itu lebih maksimal lagi di dalam mewarnai cara keberagamaan.” Tambah Zuhairi Misrawi.

Menurut Zuhairi Misrawi, dunia mulai mengetahui, dan di Tunisia sudah punya program kerjasama dengan Zaitunah, karena mustasyarnya merupakan rektor dari Universitas Zaitunah. Dalam muktamar ke-34 NU, PCINU akan meluncurkan website berbahasa Arab pertama di kawasan Timur Tengah. Hal ini diinisiasi oleh PCINU Tunisia. Website ini bertujuan untuk mengenalkan NU dan Indonesia ke kawasan Timur Tengah. (uwh/snm)

Comments


BERITA POPULER

To Top