Home » Ekspedisi Batin (21): Menggapai Transformasi, Menemukan Moderasi
opini

Ekspedisi Batin (21): Menggapai Transformasi, Menemukan Moderasi

“Jika kamu membenci seseorang karena dia tidak bisa membaca Al-Quran, berarti yang kamu sembah bukanlah Allah, melainkan Al-Quran itu sendiri. Jika kamu memusuhi orang yang berbeda agama darimu, berarti yang kamu sembah bukanlah Allah, melainkan agama tersebut. Jika kamu menjauhi orang yang melanggar norma moral, berarti yang kamu sembah bukanlah Allah, tetapi moralitas. Sembahlah Allah, bukan yang lainnya. Bukti bahwa kamu menyembah Allah adalah dengan menerima semua makhluk, karena itulah cara Allah.” (Gus Dur)

Untaian kalimat yang disampaikan Gus Dur, allahu yarham, itu seperti menanamkan jiwa yang kuat bagi muslim moderat di bulan Ramadan yang hampir menuju finish ini. Ramadan, di mana ibadah puasa menjadi jembatan yang menghubungkan jiwa manusia dengan keagungan kosmis. Keagungan saat raga menahan lapar dan dahaga, dengan energi yang mengalir tenang menuju samudera kesadaran.

Dalam heningnya qiyamullail yang syahdu, ketika embun pertama jatuh membasahi bumi, puasa mengajak manusia berlayar dalam introspeksi, memilah benang kusut ego dan asa. Seperti kata Gus Dur di atas, bersembahyang kepada Allah tidaklah cukup dengan berdiri, ruku, dan sujud semata, jika hati masih terkungkung prasangka dan kebencian. Puasa mengajarkan bahwa Allah tidak semata berada dalam ayat suci atau adzan yang berkumandang, namun Allah juga berada dalam penerimaan dan empati terhadap sesama.

Bukanlah Al Quran yang seharusnya disembah hingga melupakan esensi di balik kata-katanya, bukan pula agama yang menjadi benteng pemisah antar insan. Dalam diamnya puasa, terdengar bisikan halus, mengingatkan bahwa keimanan teruji saat kita mampu melihat wajah Allah dalam senyum dan air mata sesama, merasakan kehadiran-Nya dalam sukacita dan duka yang sama-sama kita bagi.

Puasa adalah guru yang mengajarkan kedalaman hidup, menggali sumur toleransi di padang pasir kebencian. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya dia bagi kalian adalah musuh yang nyata” (QS Al-Baqarah: 208). Ayat ini bukan sekadar seruan untuk ketaatan. Namun, ayat ini menjadi sebuah ajakan untuk merenungkan esensi Islam yang universal: kedamaian, keseluruhan, dan harmoni.

Dari sisi Hadits, Nabi Muhammad SAW mengatakan, “Tidak beriman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri” (Bukhari dan Muslim). Pesan ini resonan dengan roh puasa, di mana menahan diri dari keinginan pribadi mengajarkan untuk memahami dan menghargai kebutuhan dan perasaan orang lain.

Penting pula mengingat kata-kata Rumi, seorang sufi yang kata-katanya mengalir seperti sungai kebijaksanaan, “Kemarin saya cerdas, jadi saya ingin mengubah dunia. Hari ini saya bijak, jadi saya mengubah diri saya sendiri.” Kata-kata ini menegaskan bahwa perubahan sejati bermula dari dalam diri, sebuah proses yang diintensifkan selama puasa.

Puasa menawarkan cermin yang memantulkan versi terbaik dari diri kita. Bukan untuk disanjung atau dipuja. Tetapi versi hikmah untuk direnungi dan dibenahi. Dalam diam dan laparnya siang, dalam hening dan hausnya malam, kita diajak untuk berdialog dengan diri sendiri, merenungkan arti keberadaan dan memahami makna kedamaian sejati.

Puasa menghantarkan pada pencerahan bahwa keberagaman bukanlah ancaman. Puasa juga menjadikan mozaik indah yang merangkai keunikan manusia. Dan, puasa mengajarkan bahwa menjadi moderat bukan berarti pasif, tetapi aktif memahami dan menghormati perbedaan, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan di atas segalanya.

Ketika matahari terbenam, langit berubah warna, menandai berakhirnya sebuah perjalanan harian, bukan hanya perut yang terisi, melainkan juga jiwa yang dipenuhi dengan pelajaran kehidupan. Puasa, dengan segala kesederhanaan dan keheningannya, membisikkan kepada kita bahwa dalam kesunyian ada kekuatan, dalam pengendalian diri ada kebijaksanaan. Setiap detik waktu selama puasa menjadi kesempatan untuk membangun jembatan antara duniawi dan ilahi. Antara manusia dengan penciptanya, serta antara individu dengan masyarakat.

Di tengah deru zaman yang sering kali menuntut kita berlari kencang, puasa meminta kita untuk berhenti sejenak. Menarik nafas dalam-dalam. Lalu, mendengarkan bisikan hati.

Ia mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukanlah pada kata-kata yang keras atau tindakan yang gegabah, namun puasa mengajak kita pada ketenangan dan kejernihan pikiran yang mampu merajut keputusan dan tindakan yang penuh pertimbangan.

Puasa mendidik jiwa untuk menghargai waktu, bukan sekadar menghitung jam berlalu. Puasa mampu mengisi setiap jam dengan refleksi dan kesadaran. Setiap sahur, ketika dunia masih terlelap, dan setiap berbuka, saat langit berwarna jingga, menjadi momen introspeksi dan apresiasi terhadap nikmat kehidupan yang sering terabaikan.

Dalam perjalanan ruhani yang disuguhkan oleh puasa, kita diajak untuk meneladani kesabaran, kebaikan, dan kelembutan hati. Terus merenungi bahwa setiap insan di muka bumi ini, dengan segala keunikan dan perbedaannya, adalah bagian dari kanvas besar kehidupan yang indah dan harmonis.

Menjadi manusia moderat dalam konteks puasa adalah tentang menemukan keseimbangan antara dunia material dan spiritual, antara kebutuhan pribadi dan tanggung jawab sosial, antara berbicara dan mendengarkan. Moderasi bukanlah tentang berada di tengah-tengah secara pasif. Moderasi berarti menjalani tentang menavigasi kompleksitas kehidupan dengan hati yang bijaksana dan pikiran yang terbuka.

Melalui puasa, kita diingatkan bahwa hidup bukan sekadar perjalanan mencari kekayaan atau pengakuan. Hidup merupakan perjalanan mendalam untuk memahami arti sesungguhnya dari keberadaan kita. Puasa mengajarkan untuk tidak cepat puas dengan pencapaian duniawi, tapi terus mencari makna yang lebih dalam dari setiap pengalaman.

Dalam setiap butir pasir waktu puasa, tersimpan pelajaran bahwa setiap momen adalah kesempatan untuk menjadi lebih baik, untuk menghilangkan prasangka, untuk menyebarkan kebaikan tanpa memandang latar belakang atau kepercayaan. Ini adalah saat ketika hati dibersihkan dari segala bentuk kedengkian dan pikiran dibebaskan dari belenggu keegoisan.

Ketika hari-hari puasa berlalu dan Idul Fitri menghampiri, semoga apa yang telah dipetik selama bulan suci ini bukan sekadar kenangan semusim. Namun menjadi benih yang tumbuh subur dalam jiwa, menghasilkan buah kebijaksanaan yang dapat dinikmati sepanjang masa.

Puasa, dalam esensinya, adalah perjalanan untuk menemukan keindahan dalam kesederhanaan, kekuatan dalam ketenangan, dan kebesaran dalam kerendahan hati. Ini adalah perjalanan di mana setiap langkah mengajarkan kelembutan, setiap detik menginspirasi kebaikan, dan setiap hari membawa kita lebih dekat pada esensi sejati kehidupan dan keberadaan. Wallahu a’lam bis shawab. (*)

Penulis adalah Khoirul Anwar, wakil ketua PCNU Kota Malang, pengurus LTN PBNU